10. Hubungan Darah?

1004 Words
Sena menautkan kedua alisnya, rasa penasaran meningkat lantaran Frasa seperti mau membuka rahasia besar satu negara. Sesuatu yang menarik untuk diperlihatkan? Memang apa? Oh, ya, gue lupa kalau bisa bacain isi pikiran duda galak yang satu ini. Sena mengerut jengah, sekarang gadis itu mencoba menembus pikiran Frasa yang saat itu tengah melintas di benaknya. Namun, setelah menyita waktu yang cukup lama untuk dapat mengambil konsentrasi penuh. Nyatanya Sena tak bisa menemukan apa pun yang bisa menjadi item yang berguna di saat-saat yang krisis. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa tidak bisa mengecek suara pikirannya? Ini hal yang aneh. Amat aneh sampai Sena jadi heran bukan kepalang. "Kok, bisa gini jadinya?" Sena berubah jadi gadis yang linglung akibat menemukan kejanggalan yang beberapa detik ini mampu membuat batinnya menjerit. "Ternyata lo hobi bikin orang tambah penasaran, ya? Ngaku!" "Enggak." Frasa membalas singkat, tetapi kemudian melanjutkan, "elo kalo ngomong nggak salah lagi." "Oh, gitukah?" Sena membatalkan ide melayangkan protesnya, memilih ikut duduk memperhatikan Frasa yang tengah mengobrak-abrik isi lemari yang dipenuhi barang-barang antik yang berjejer rapi seperti dikomando. "Lo suka ngoreksi barang-barang lama?" Sena memiringkan kepala—tatkala Frasa mengibas-ngibaskan membersihkan debu yang menempel di figura yang berukuran lumayan besar tersebut. "Ya, menurut elo gimana?" tanyanya balik membuat Sena memanyunkan bibir. Meski cowok itu menyebalkan, tetapi kalau ganteng, ya, bebas mau melakukan apa pun—termasuk buat mengambil fokus Sena di redupnya pencahayaan ruangan yang tengah dimasuki kini. Menambah kadar ketampanan Frasa yang sudah paripurna. Sena menyiuk, terlepas dari karakternya yang buruk, betapa beruntungnya siapapun gadis yang menjadi pacar cowok, eh, duda kaya raya itu. Namun, Sena masih terbayang-bayang tentang mengapa dirinya tidak kuasa menembus isi kepala Frasa. Apakah karena gadis itu tidak mengerahkan semua kekuatannya atau bagaimana? Padahal itulah kapasitas pengetahuan yang dimiliki untuk saat ini, tidak ada alternatif yang bisa dipikirkannya. "Berarti lo udah pernah nikah sekali terus cerai begitu aja?" Deg. Frasa yang menyimak berhenti bergerak mengambil benda menarik lain, dia beralih menatap tajam Sena yang cengengesan seolah tak punya salah. "Maybe." Cewek yang memecahkan rekor baru dengan sengaja memacari cowok sebanyak lima ratus lebih yang statusnya sudah jadi mantan tercinta mengerutkan dahi. To be honest, tidak sedikit mantannya yang tak tahu diri meminta balikan, hanya saja Sena yang ogah-ogahan mengabulkan. "Kenapa lo kelihatan ragu gitu, sih, jawabnya, Sa?" Sena mencerca Frasa yang mulai beranjak menghampiri gadis beriris Indranilla itu sembari menunjukkan figura besar memuat muka-muka anggota keluarga yang sedikit memudar di beberapa bagian mungkin karena lama termakan usia. Frasa meletakkan figura itu ke telapak tangan Sena agar dirinya lebih leluasa melihat-lihat ditambah lembaran HVS yang merupakan Kartu Keluarga (KK) padanya dan berkata, "Lo bakal agak paham tentang keluarga gue kalo lo lebih teliti memeriksa semuanya." "Kenapa lo ngasih ini? Nggak takut kalo semisal disalahgunakan?" Manik Sena beradu dengan netra Frasa yang menyimpan binar penuh harapan. "I trust you. Gue percaya kalo itu elo." Entah kenapa, Sena tergelitik seperti ribuan kupu-kupu berterbangan di sekeliling perutnya. Sungguh, Frasa yang pikirannya tidak dapat ditebak. "Soalnya lo, kan, kayaknya bukan tipe-tipe cewek yang suka ember, Na." Apa begini definisi diterbangkan lalu dijatuhkan? Sena begitu dongkol saat melihat raut cowok bermata teduh. Well, setidaknya ada pujian tersirat dari lanjutan perkataan Frasa secara tidak langsung kepadanya. Sena mengangguk pelan mengarifi. "Lo sebenarnya rada asal ceplas-ceplos. Tapi makasih, lho, ya, buat pujian lo yang tersembunyi." "Siapa yang lagi muji lo, huh?" Kedua pipi Sena seketika berkedut kesal merespon Frasa yang menjunjung tinggi gengsinya. Emosi yang sempat memuncak teredam sebab melihat mata Frasa yang berair dan perlahan membengkak. Eh, apakah cowok itu habis menumpahkan air mata sedih? Sena mengembuskan napas berat, alih-alih menjawab balik. Gadis itu memilih menggantikan topik. "Sa, siapa aja sih mereka yang ada di dalam figura ini?" Frasa terdiam seribu bahasa saat Sena mengoceh panjang kali lebar hingga menyentuh lembaran berisi nama-nama lengkap anggota keluarganya. Reaksi gadis cupu itu tepat sesuai dugaannya, yakni kelihatan sangsi saat nama Shaquilla Tarisa yang tak lain dan tidak bukan adalah Ila terdaftar konkret di sana. "Frasa? Ila saudara sedarah lo?" Frasa memalingkan wajahnya, seperti sukar mengatakan sebuah kebenaran yang terpampang jelas dengan tinta hitam. Cowok itu bergeming bagai patung saat Sena mengguncangkan tubuh, menuntut penjelasan lebih. "Dia bukan saudara gue, tapi anak kandung yang full gue rawat selama delapan tahun belakangan ini." Sena membekap mulutnya pertanda syok. Bukankah artinya Frasa dulu pernah menjalin hubungan gelap dengan seorang wanita dan melakukan 'itu' berulang kali sampai hamil dan melahirkan anak semanis Ila? "Jadi rumor kalo lo duda beranak satu dan udah pernah nikah, betul?" Frasa menggeleng. Sena merutuki nasibnya yang jelek sampai kemampuan ajaib yang diandalkannya tidak berfungsi! "Ibu Ila meninggal beberapa tahun abis melahirkannya. Bikin gue sempat membenci Ila karena fakta itu." Frasa mengulas senyum getir, sepasang netra yang terkenal teduh tersebut meredup— menyendu. Sena jadi tidak bisa memastikan apa Frasa sedang berbohong atau berkata jujur di situasi seperti ini. "Kenapa lo benci? Bukannya dia itu darah daging lo, ya?" "Yah, karena ibunya Ila satu-satunya cewek yang berharga yang gue punya setelah takdir merampas semua milik gue dari dunia yang nggak kenal belas kasih," gumam Frasa meremas celana abu-abunya kuat-kuat, cowok malang itu terlihat berusaha setegar mungkin di depan Sena. Sena sekarang mengerti, sifat galak yang ditunjukkan rupanya hanyalah topeng palsu yang tidak selamanya melekat di diri Frasa. Karena untuk bahagia, mereka butuh pengorbanan dan perjuangan mendapatkan sesuap nasi dan kasih sayang dari orang yang mendukung belum tentu mereka bisa totalitas rela ketika kehilangan kelak. Gadis itu menepuk-nepuk punggung Frasa yang bergetar, menghibur rasa terpuruk yang dialaminya walaupun tidak bisa mengangkat semua beban hidup di pundak kokoh cowok itu. Dia merasa canggung kalau sembarangan mendekap orang yang baru dikenal. Jadi hanya ini yang bisa Sena perbuat. "Gue rasa mendiang ibu Ila pasti bangga punya suami cakep gini yang bertanggung jawab atas anak kalian berdua," ucap Sena bijak. Deretan gigi yang putih serta rapi nampak saat dia menyengir manis. Entah kenapa, tiba-tiba hati gadis remaja itu rada janggal seolah Frasa belum menceritakan yang seharusnya dipaparkan. "Kalian diman—huaaa, mata Ila yang suci ternodai!" Suara lengkingan anak kecil pun terdengar seperti ledakan bom.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD