"Lo suka bunga Anggrek juga?"
Masih ingat bagian inikah? Waktu itu Sena tak begitu memedulikannya dan menganggap itu sebuah pertanyaan biasa yang dilontarkan sebagai teman yang baru saling mengenal. Namun, setelah dipikir-pikir, suara berat milik Frasa yang seperti mempunyai makna dalam agak rancu?
Meski Sena akui tidak terlalu pintar di mapel yang membutuhkan nalar, tetapi dia tak bodoh dalam meraba-raba hati manusia yang menyukainya entah dalam artian mana, ya, karena gadis itu pakar atau ahli di bidang asmaraloka.
Sena tak tahu-menahu sejak kapan Frasa bisa menyukainya diam-diam dan tidak mencoba menyatakannya. Andai saja dirinya bukan tipe orang yang peka, mungkin selamanya dia akan buta.
"Kak, kok, ngelamun?" Sena terkesiap saat Ila menarik-narik ujung roknya. Gadis itu merunduk, menyamakan tinggi badannya dengan anak kecil berwajah imut tersebut.
"Maaf, Ila. Tapi Kakak masih sibuk sama hukuman bersih-bersih yang dikasih Pak Guru." Sena meringis. Dirinya, Ila, dan Frasa saat ini tengah mengendap-endap keluar sekolah atas usulan spontan yang diberikan Ila.
"Sibuk apanya? Kakak jangan bohong! Kita, kan, mau jalan-jal—" Sena reflek membekap mulut Ila yang menyerui tindakan tidak patut dipuji ketiganya.
Sena menaruh telunjuknya di bibir sambil mendesis, bermaksud untuk menyuruh Ila tidak bersuara, tetapi disalahartikan oleh anak kecil itu. Alamak, kenapa semakin ribet saja masalahnya? "Kakak benci sama Ila karena Ila bawel?"
Sena ingin menyanggah.
"Sena nggak benci sama Ila. Jangan berburuk sangka." Namun, suaranya seakan tenggelam di tenggorokan. Sena seketika tercekat ketika Frasa angkat bicara, sempat mengira cowok itu tidak akan peduli dengan masalah sepele seperti ini.
"Lo jangan salah paham, gue cuman nggak mau Ila jadi overthinking gara-gara kakak kesayangannya ngambek." Duh, Sena merasa malu karena tadi besar kepala. Rupanya Frasa hanya tidak ingin Ila berpikir yang tidak-tidak dan bukan tentang perkara antara suka dan peduli padanya.
"Kita sampai!" Ila terlihat gembira saat kendaraan mobil yang dibawa Frasa sudah terparkir rapi di halaman sebuah rumah berdesain sederhana—ralat, sangat mewah sampai-sampai Sena meneteskan air liur.
Apakah dia berniat mengantar anak kecil itu ke rumah? Sena tertegun, hatinya bergetar insecure.
"Lo mau diam di situ kayak patung?"
"Ah, iya-iya. Sorry, Sa." Sarkasme itu berhasil membuat Sena terbirit-b***t mengikuti langkah kaki Ila dan Frasa memasuki kediaman yang entah milik siapa, tidak ada satu pun orang yang berniat menjelaskannya.
Tebakan Sena tak pernah meleset. Dugaan gadis itu tentang Frasa yang merupakan anak dari keluarga terpandang tak salah. Seperti yang terlihat, rumah bergaya abad pertengahan kini tetap bertahan di era modern. Nuansanya yang terasa sangat hangat dan memanjakan mata. Eksterior bangunan rumah mewah ini boleh saja nampak klasik, tetapi interiornya sepertinya terkesan dipenuhi dengan teknologi-teknologi canggih pada perabotan rumahnya.
Area outdoor pada bangunan rumah mewah ini pun tidak kalah indah. Setelah ditelusuri lebih jauh, terdapat sebuah kolam renang persegi panjang dengan dilengkapi hiasan pot bunga unik di sekelilingnya.
Selain itu, bangunan mewah ini juga terdapat sebuah model gazebo yang pas untuk bersantai-santai di sore hari. Rasa candala melingkupi rongga dadanya, Sena mengedarkan mata hingga fokusnya berpusat ke dalam rumah.
"Ini rumah siapa?" Sena yang sudah mengumpulkan seluruh keberanian akhirnya bertanya dengan nada lirih.
"Rumah gue." Frasa merogoh kocek abu-abunya, mengeluarkan gelang berisi kunci-kunci setiap ruangan—menggunakan salah satu kunci untuk membuka pintu di hadapannya.
"Rumah elo?" beonya ragu. Anak usia sekolah sudah dapat membeli rumah sebagus ini sendirian? Serius?
Siapapun, tolong bantu meyakinkan Sena bahwa olfaktorinya sedang tidak bermasalah. Gadis itu terbengong saat Frasa sudah berbalik dan menatap dengan sorot mata kuyu.
"Lebih tepatnya rumah peninggalan orang tua gue," ujar cowok itu tenang, seolah-olah hal itu sudah biasa. Sena terdiam sejenak seraya mengangkut tubuh mungil Ila di gendongannya.
Gadis itu berusaha menelaah satu fakta tersebut dengan skeptis. Rumah sebesar itu ternyata hanya dihuni oleh Frasa? Lalu mengapa Ila tidak dipulangkan ke rumah orang tuanya dan bahkan dibawa ke sini? Nanti bagaimana kalau mereka protes?
Penampilan luar Frasa yang bersahaja menipu banyak orang tak terkecuali teman satu sekolah. Jemari Sena menyentuh sedikit lukisan mahal yang terpasang di tembok di setiap sudut ruangan dengan gerakan hati-hati, takut kalau sampai merusak, dia tidak mampu mengganti rugi.
"Lo pasti bertanya-tanya kenapa Ila gue bawa ke rumah ini, kan?" Sena menengok, lantas mengangguk samar usai Frasa membiarkan Ila bermain-main di suatu tempat. Melihat respon gadis kecil itu yang tidak kaku seperti sudah sering diajak cowok itu kemari mengundang tanda tanya besar di kepala cantiknya.
Secara anak kecil itu pada umumnya tidak mudah beradaptasi jika berada di tempat yang baru dikunjungi. Jadi sesungguhnya Sena sudah bisa menyimpulkan satu-dua hal.
Pertama, Ila ada memiliki hubungan yang lebih dari sekadar bermain bersama cowok itu yang mungkin saja mamanya bersahabat dengan almarhum ibu Frasa. Kedua, Frasa berutang budi dengan keluarga Ila. Ya, belum dipastikan lantaran baru kesimpulan kecil.
"Mau tahu satu rahasia besar nggak?" Tumben orang sangar ini berinisiatif ngomong duluan. Rahasia apa? Frasa menarik lengan Sena menuju ke salah satu kamar yang tidak terkunci sama sekali. Mungkinkah itu kamarnya?
Apakah cowok ganteng di sebelahnya ingin bicara empat mata dengannya tanpa embel-embel eksistensi Ila? Gadis itu, kan, jadi berpikir yang aneh-aneh tentang rahasia yang akan dikatakan Frasa.
Jangan bilang Frasa ingin menembak dan membaiat jadi pacar dadakan? Oh, semoga saja bukan, Sena tidak sanggup menambah koleksi cogan-cogan baru. "Rahasia apa, sih?"
"Jujur aja deh, lo pasti sering dengar gosip-gosip tentang gue yang dikenal sebagai duda beranak satu. Benar, kan?" Sena mengerling terkejut. Frasa sekarang tengah membahas tentang rumor dirinya yang beredar di Jewel High School yang menurut gadis itu sangat mengganggu.
"Gue ngerasa muak tiap kali mendengarnya. Mereka seenaknya mengarang-ngarang cerita agar bisa menarik perhatian orang lain, padahal semua itu cuman omong kosong." Omong kosong? Maksudnya semua rumor buruk tentang Frasa hanyalah kebohongan yang dibuat-buat? Benarkah semua itu?
Itu berarti rumor tentang Frasa yang merupakan duda beranak satu dan yang lain adalah hanya sekadar cerita bohong? Sena jadi ingin memastikan kebenarannya.
Frasa memilih menyunggingkan seringai tipis, tetapi tidak dapat dielak menawan. Sena seolah terhipnotis, gadis itu terus membuntuti hingga keduanya telah tiba di depan lemari besar yang sepertinya terbuat dari Kayu Meranti.
"Lo juga mau gue tunjukkan sesuatu yang menarik buat dilihat?" tanyanya sembari melirik Sena dengan tatapan menggoda.