Shennina's point of view
"Mbak Sri, makanan kesukaan Mas Arya tuh apa?"
Aku mendengar suara pisau seperti tengah mengiris sesuatu, lalu kekehan pelan keluar dari mulut Mbak Sri. Aku memang sengaja menanyakan hal itu kepada Mbak Sri, karena kata dia, dirinya sudah lama bekerja dengan Mas Arya. Pasti dia mengetahui segala hal tentang Mas Arya.
"Pak Arya tuh orangnya nggak neko-neko, Non. Dia mah suka makan apa aja, yang penting jangan jengkol sama pete, tapi ya ... Pak Arya paling suka minta dibikinin ayam asam manis, jadi sepertinya Pak Arya paling suka sama ayam pedas manis."
Aku menganggukkan kepala mendengarnya. Ah, ayam pedas manis. Sederhana memang, namun rasanya begitu nikmat. Aku jadi ingin membuatkannya untuk Mas Arya. Mungkin, dia akan suka dengan masakanku. Setelah semalam, aku membuat kesalahan dengan membuat teh yang terlalu manis untuknya.
"Mbak ... bantuin aku ya bikin ayam pedas manisnya, aku mau bikinin buat Mas Arya."
"Wah, boleh, Non. Pasti Pak Arya bakalan suka sama masakan buatan, Non."
Aku tersenyum kecil mendengar ucapan dari Mbak Sri. "Iya, Mbak, semoga aja. Oh iya, Mbak, Mas Arya biasanya pulang dari kantor jam berapa, ya?" Mas Arya sudah mulai masuk kantor setelah izin sehari untuk pernikahan kami. Dia bilang kepadaku tadi pagi bahwa pekerjaannya sudah menumpuk banyak di kantor, jadi dia harus menyelesaikannya.
Satu hal yang aku tahu, Mas Arya itu ternyata workaholic. Mbak Sri sendiri yang bilang kepadaku. Mas Arya bisa menghabiskan waktunya di kamar lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia tak akan keluar sebelum pekerjaannya itu selesai. Mbak Sri juga berkata bahwa Mas Arya suka lembur. Ia akan lebih teliti pada pekerjaannya di kantor dan melakukan semua tugasnya sendiri. Walaupun Mas Arya adalah atasan, namun ia sangat bertanggung jawab. Aku senang mendengarkan hal tentangnya.
“Biasanya ya, Non, Pak Arya suka pulang jam 7 malam, tapi kalau cepet sih jam 5 sore juga udah sampai di sini.”
“Terus hal apa yang paling disukai Mas Arya kalau lagi free di apartemen, Mbak?”
“Ehm … apa, ya? Oh, Pak Arya itu suka banget baca buku kalau akhir pekan. Tapi, biasanya dia suka pergi ke rumah orang tuanya setiap akhir pekan dan menginap di sana. Koleksi buku Pak Arya itu banyak banget, Non. Mana tebel-tebel, Mbak liatnya aja udah males buat baca.”
Aku tertawa kecil mendengarnya. Mbak Sri itu ternyata orangnya sangat ramah. Dan dia sangat mudah beradaptasi dengan orang baru sepertiku. Dia juga sangat sabar, buktinya ketika aku bertanya banyak hal, dia akan menjawabnya terus. Tetapi, mungkin aku harus lebih mengontrol keingintahuan ku, karena jika akh terus-menerus bertanya kepadanya, yang ada dia akan bosan dan kesal kepadaku. Aku tak ingin hal itu terjadi, aku ingin di apartemen ini memiliki teman agar aku tak kesepian. Dan Mbak Sri adalah orangnya.
“Maaf ya, Mbak, kalau aku dari tadi nanya terus.”
“Lho, nggak apa-apa, Non. Pasti Non juga pengin tahu semua hal tentang Pak Arya, Mbak sangat wajar. Jadi, Non jangan sungkan untuk menanyakannya kepada Mbak, kalau Mbak tahu, Mbak pasti akan menjawabnya.”
“Iya, Mbak, makasih ya udah baik banget sama aku. Aku jadi senang ada teman di apartemen.”
“Iya, Non. Mbak juga senang ada Non di sini. Non sopan banget, baik, terus cantik banget lagi. Mbak ngerasa nggak sendirian lagi di apartemen, ada temennya.”
Aku tersenyum kecil. Mbak Sri sudah menceritakan tentang dirinya kepadaku kemarin. Dia berkata bahwa dirinya sudah menikah dan memiliki anak. Anak-anak dan suaminya tinggal di kampung, dia akan pulang kampung setiap hari raya tiba. Mbak Sri juga menceritakan tentang anak-anaknya yang sedang rajin-rajinnya berangkat ke sekolah. Lalu, ia menyebutkan cita-cita anak-anaknya itu. Jujur, aku sangat suka mendengarnya. Kedengaran sangat menyenangkan memiliki anak.
Ah, aku jadi berpikir apakah aku dan Mas Arya juga akan memiliki anak seperti Mbak Sri? Tanpa sadar, tanganku kini mengelus perutku sendiri. Bagaimana ya rasanya ketika ada seorang bayi yang bertumbuh kembang di dalam perut ini? Merasakan pertumbuhannya setiap hari. Pasti terasa sulit, namun semuanya terbayarkan karena akan ada seorang anak yang memanggil diriku sebagai ibu. Dan Mas Arya sebagai ayah. Aku jadi berpikir, apakah Mas Arya ingin memiliki anak dariku? Mengingat semua ucapan-ucapannya yang ketus kepada diriku membuatku sadar bahwa Mas Arya tidak mencintaiku.
Tetapi, Mas Arya selalu menyentuhku. Untungnya, Mas Arya selalu bersikap lembut. Ia tak pernah menyakitiku jika sedang berbuat seperti itu, walaupun dirinya sedang dalam hasrat yang begitu besar. Mas Arya seakan tak puas, ia selalu meminta lagi dan lagi. Aku pun senang melayaninya. Memang sudah tugasku sebagai seorang istri untuk melayani suamiku.
Semoga kamu jangan hadir dulu di sini, ya, nak. Biarkan aku berjuang dulu untuk mendapatkan cinta ayahmu.
Aku berucap dalam hati. Ya, semoga saja aku diberikan waktu untuk membuat Mas Arya jatuh cinta kepadaku terlebih dahulu sebelum kami mempunyai anak. Sebab, aku tak ingin anakku itu diperlakukan sama sepertiku oleh Mas Arya. Aku takut, Mas Arya tak bisa menerima anak yang aku kandung nantinya.
“Non, kok jadi melamun? Jangan melamun ah, Mbak takut. Soalnya orang melamun itu rentan banget kemasukan se-tan.”
Aku tertawa mendengar ucapan Mbak Sri. Ternyata Mbak Sri juga suka melawak. “Iya, Mbak. Ini udah nggak melamun lagi, kok.”
“Ayo katanya Non mau bikin ayam pedas manis untuk Pak Arya? Nanti keburu Pak Aryanya pulang.”
“Eh iya, ayo Mbak kita mulai.”
“Oke! Ayo, Non.”
Akhirnya, aku pun memasak dibantu oleh Mbak Sri. Ya, aku memang bisa memasak. Bunda selalu mengajarkannya untukku. Bunda berkata bahwa memasak adalah basic life skill yang harus dimiliki oleh manusia. Dari dulu, Bunda tak pernah memanjakanku secara berlebihan. Bunda malah sering mengajarkanku kegiatan-kegiatan yang ada di rumah. Bunda bilang, dia tak mau diriku kesulitan karena aku tak bisa melihat, Bunda mau aku tetap mandiri. Dan tak bergantung kepada siapapun nantinya. Jadinya, sekarang aku sudah mulai terbiasa karena Bunda selalu mengajarkannya untukku.
•••••
Mas Arya sudah pulang beberapa menit yang lalu. Dan kini, aku sudah berada di depan pintu kamarnya. Aku bingung, lebih baik aku masuk atau tidak ke kamar suamiku? Aku ingin mempersiapkan baju untuknya selama ia sedang mandi. Bunda selalu berbuat seperti itu kepada Ayah, saat Ayah pulang bekerja. Namun, aku tak berani untuk masuk ke dalam kamar Mas Arya. Aku takut ia tak menyukai keberadaanku di dalam kamarnya.
Lalu, tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. Astaga … sepertinya Mas Arya sudah selesai membersihkan tubuhnya.
“Kok kamu di sini? Ngapain?”
Aku memejamkan mata sejenak saat mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Mas Arya. Wangi harum menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku. Aku suka wangi harum musk bercampur kayu-kayuan yang keluar dari tubuh Mas Arya.
“A … aku … aku tadinya mau masuk ke kamar Mas Arya. Waktu Mas Arya bilang mau membersihkan badan di kamar, aku langsung berjalan ke sini untuk menemui Mas Arya, tapi aku nggak berani masuk. Aku takut Mas Arya nanti akan marah.”
“Ya! Itu kamu tahu.”
Aku terkejut mendengarnya. Ucapan Mas Arya lumayan keras membuat jantungku berdebar lebih kencang.
“Saya bilang ke kamu ya, jangan pernah masuk ke kamar saya tanpa seizin saya, Nina. Ini adalah kamar saya, ruangan pribadi saya, saya nggak mau kamu sesuka hati kamu masuk ke dalamnya. Kamu harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari saya, baru kamu boleh masuk.”
Ya Tuhan, apakah itu tak terlalu berlebihan? Kami adalah sepasang suami istri. Aku adalah istri Mas Arya. Namun, kenapa Mas Arya seperti menganggapku orang asing? Bahkan aku tak boleh masuk ke dalam kamar suamiku sendiri. Sedangkan Mbak Sri, ia bisa masuk sesuka hatinya. Hatiku terasa pedih. Aku seperti tak dianggap olehnya. Seharusnya kami juga tidur satu kamar. Bukannya pisah kamar seperti pasangan suami istri yang ingin bercerai.
Sebegitu tak sukanya kah Mas Arya kepadaku? Sampai ia tak mau tidur bersamaku? Bahkan, ketika ia selesai menuntaskan hasratnya kepadaku, ia akan langsung pergi meninggalkanku begitu saja. Ia akan pergi menuju kamarnya. Ya Tuhan, aku merasa aku ini bukanlah istrinya melainkan seorang ja-lang yang dibayar untuk membantu suamiku sendiri menuntaskan hasratnya.
Kenapa ini semua terasa begitu menyakitkan? Aku juga tak mungkin menceritakan ini semua kepada Bunda. Pernikahan kami masih sangat baru, rasanya tak etis untuk membeberkan semuanya kepada Bunda. Biarlah. Biarlah aku saja yang menyimpan semua ini sendirian. Ini adalah keinginanku sendiri untuk menikah dengan Mas Arya. Jadi, aku harus siap menerima semua yang ia lakukan kepadaku.
“Oke, aku mengerti. Aku nggak akan masuk ke kamar Mas Arya tanpa seizin Mas Arya.”
“Bagus. Saya suka istri yang penurut seperti itu. Oh iya, jangan sampai Mama atau Bunda tahu kalau kita tidak satu kamar. Awas saja kalau sampai kamu mengadu kepada mereka. Saya tak akan membiarkan kamu tidur dengan tenang.”
Aku menghela napas. Mas Arya sudah mengancamku sekarang. “Tanpa kamu mengancamku seperti itu, aku pasti tak akan memberitahukan masalah pernikahanku kepada mereka, Mas.”
“Saya pegang ucapanmu. Saya harap kamu bisa ingat akan ucapanmu itu.”
“Pasti, Mas. Kamu nggak perlu khawatir.”
“Minggir. Saya ingin makan. Saya lapar. Kamu menghalangi jalan saya.”
Aku tersenyum miris mendengarnya. Rasanya begitu sakit saat suami sendiri berkata seperti itu kepadaku. Aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini. Yang pasti, terdengar dari suaranya, ia sepertinya sangat muak kepadaku. Aku pun bergeser sedikit memberikan jalan untuknya pergi. Lalu, aku mendengar pintu yang kembali tertutup, kemudian suara langkah kaki yang kian menjauh. Sepertinya Mas Arya sudah pergi untuk makan.
Aku pun mengarahkan white cane di tanganku untuk mengikutinya dari belakang.
“Mbak, tolong ya, nasinya jangan banyak-banyak.”
“Biar aku aja, Mbak.”
Aku berusaha mengambil alih tugas yang selalu dikerjakan oleh Mbak Sri. Aku berpikir memang seharusnya aku melakukan hal itu. Aku istri Mas Arya. Jadi, aku lah yang harus melayaninya bukan Mbak Sri.
“Nggak usah, biar Mbka Sri aja.”
Mas Arya masih menolak. Namun, aku tetap memaksa. Aku pun mengambil piring kosong untuknya, lalu tanganku meraba-raba untuk mengetahui dimana nasi itu diletakkan. Lalu, tak sengaja tanganku menyentuh sayur yang dibuat oleh Mbak Sri.
“Apa saya bilang?! Kamu nggak perlu melakukan itu! Kamu nggak bisa melihat apapun Shennina, jadi jangan berlaga seperti manusia yang bisa melihat. Saya tak perlu kamu layani seperti ini. Karena saya tahu kamu itu nggak becus jadi istri.”
“Mbak … Mbak Sri …”
“I—iya, Non?”
Tanganku berusaha mencari tubuhnya. Dan ternyata di ada di samping kananku. Aku pun memberikan piring yang ada di tanganku kepadanya. “Mbak saja yang melakukannya. Aku … aku nggak enak badan. Aku mau ke kamar dulu.”
“Tapi, Non—”
Aku menganggukkan kepala seakan meyakinkan Mbak Sri bahwa aku baik-baik saja. Ia pasti mendengar ucapan Mas Arya yang begitu menyakitkan tadi. Aku tidak mau dia mengasihaniku. “Aku ke kamar dulu ya, Mbak.”
Setelah itu, aku pun pergi meninggalkan Mbak Sri bersama Mas Arya. Sesampainya di kamar, tangisku langsung pecah, setelah aku menahannya dari tadi. Mas Arya … ucapannya begitu menyakitiku. Ia berkata bahwa aku tak becus. Aku tak bisa melihat dan aku berlaga seperti orang yang bisa melihat. Ya Tuhan, rasanya pedih sekaligus sakit sekali. Aku merasa tak berguna untuknya. Memang tadi kesalahanku, aku tak sengaja menyentuh sayur. Namun, aku tak menyangka bahwa Mas Arya akan semarah itu. Tetapi, tak pantas rasanya Mas Arya mengucapkan kata-kata itu kepadaku apalagi di hadapan asisten rumah tangga.
Aku tak pernah meminta kepada Tuhan agar aku bisa melihat. Tidak. Dari kecil aku sudah menerima keadaanku yang tidak sempurna ini. Aku juga tak penah ingin melihat indahnya dunia. Aku sudah terbiasa dalam kegelapan. Aku nyaman. Karena aku berpikir aku tak mau melihat kekerasan dan kekejaman yang ada di dunia ini. Aku berusaha membuat diriku beguna untuk siapapun.
Namun ternyata Mas Arya sama sekali tak menghargai usahaku. Ia juga tak pernah memikirkan perasaanku saat ia berkata pedas seperti tadi. Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus menyerah untuk mendapatkan cinta darinya? Rasanya begitu sulit ya Tuhan … Mas Arya saja selalu menjauh dariku. Ia tak pernah membiarkanku untuk melayaninya.
Lalu, terdengar suara ketukan pintu. Aku mengernyitkan kening sebelum akhirnya suara orang yang mengetuk pintu itu terdengar.
“Non, ini Mbak. Boleh Mbak masuk?”
Dengan cepat, aku menghapus air mata yang ada di pipiku. Aku tak ingin Mbak Sri melihat diriku yang menangis. Aku tak mau ia mengasihaniku. “Iya, Mbak. Masuk aja nggak dikunci, kok.”
Setelah itu, aku mendengar suara pintu yang perlahan terbuka. Lalu, langkah kaki yang mulai mendekat. “Ada apa, Mbak?” aku bertanya.
Kemudian, aku merasakan tanganku yang berada di atas kedua paha dipegang oleh Mbak Sri. Ia sepertinya tengah berjongkok di hadapanku yang duduk di atas kasur.
“Mbak mau memberitahu Non.”
“Memberitahu apa, Mbak?”
“Pak Arya tadi makan ayam pedas manis buatan, Non. Dia makannya lahap banget lho, Non. Setelah makan, dia bilang kalau masakan itu enak banget, lalu Mbak bilang itu Non Shenin yang masak.”
Aku tersenyum kecil mendengarnya. “Terus reaksi dia gimana?”
“Pak Arya kaget, kayak nggak percaya gitu kalau Non Shenin yang buat, tapi abis itu dia langsung pergi ke kamarnya.”
“Syukurlah kalau dia suka masakanku.”
“Non, harus kuat, ya. Jangan terlalu dipikirkan ucapan Pak Arya. Sepertinya dia lagi banyak masalah di kantornya. Mbak nggak suka Pak Arya bilang begitu ke Non, nyatanya Non bisa memasak yang enak untuknya.
“Udahlah, Mbak. Aku juga sudah mulai menerima ucapannya. Makasih ya, Mbak. Bisa Mbak tinggalkan aku sendiri? Maaf ya, Mbak, aku ngantuk mau tidur.”
“Oh iya, maaf ya, Non kalau mengganggu. Kalau begitu Mbak pergi dulu.”
“Nggak ngeganggu kok, Mbak. Aku ngerasa nggak enak badan aja, besok kita ngobrol lagi ya.”
“Iya, Non. Selamat malam, Non.”
“Selamat malam, Mbak.”
Setelah mendengar pintu yang kembali tertutup. Aku pun langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Aku memejamkan mata saat mengingat ucapan Mbak Sri tadi yang mengatakan bahwa Mas Arya menyukai masakan buatanku. Aku senang ia menyukainya. Mungkin aku akan memasak lebih banyak agar ia tak meremehkanku lagi. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa melakukan sesuatu untuknya. Walaupun diriku ini bu-ta.