Arya’s Point of View
Usia 30 tahun lebih adalah usia yang sudah sangat matang bagi seorang pria untuk menikah. Memiliki seorang istri yang siap melayani kebutuhan sehari-hari, menunggu di depan pintu saat suami pulang kerja, tempat berbagi keluh kesah tentang keseharian. Mungkin itu terasa sangat menyenangkan apalagi jika di dalam hubungan mereka dikaruniai seorang anak yang merupakan dambaan bagi sepasang suami dan istri.
Tetapi, itu tak berlaku untuk saya. Pernikahan yang saya jalani kemarin bukanlah pernikahan impian yang saya nantikan. Menikah dengan seorang wanita yang sama sekali tak saya cintai. Apalagi wanita itu tak bisa melihat. Entah apa yang ada dipikiran Mama sampai memaksa saya untuk menikah dengan wanita seperti itu padahal diluar sana banyak wanita yang lebih cantik dan sempurna darinya. Mama selalu berkata bahwa wanita itu adalah putri dari sahabatnya. Saya bingung adakah hutang budi antara Mama dan sahabatnya itu sampai ia begitu memaksa putranya sendiri? Entahlah memikirkan hal itu membuat kepala semakin pusing.
Pekerjaan yang mulai menumpuk ditambah memikirkan masalah pernikahan yang tak ada habisnya. Rasanya sangat muak dengan kehidupan yang saat ini tengah saya jalani.
Kini, ada seorang wanita yang akan tinggal di apartemen mulai sekarang. Wanita itu tampak antusias membereskan semua pakaiannya ke dalam lemari dibantu oleh Mbak Sri. Saya akui, walaupun dia memiliki keterbatasan yaitu tak bisa melihat, namun tampaknya itu bukanlah satu hal besar yang menghalanginya untuk terus ceria dan menikmati hidup. Gadis itu bahkan selalu tersenyum. Senyuman yang bahkan bisa membuat siapapun yang melihatnya terpana.
Melihatnya kini, membuat saya teringat kejadian semalam. Tuhan … saya akui dia memanglah ciptaan-Mu yang paling indah. Tubuhnya begitu indah, berkulit putih pucat nan bersih dan jika disentuh maka akan merona. Sungguh dia sangat menggoda dan seksi. Mungkin, kalau wanita itu bisa melihat, sudah pasti dia bisa menjadi seorang supermodel melebihi Diandra.
Dan saat dia menggeliat geli karena sentuhan yang saya berikan di kulitnya yang begitu halus, membuat saya terus memuji tubuh wanita itu. Ia tampak tak berdaya dibawah, wajahnya memerah, dan suara lenguhannya yang begitu seksi. Astaga … saya sampai tak bisa mengingat berapa kali kami melakukan itu. Wanita itu begitu memabukkan. Tubuhnya begitu menghimpit diri saya. Sangat panas dan lembut.
Si-al! Hanya memikirkan hal itu saja sudah membuat yang di dalam celana bangun. Ah, apa yang sudah diperbuat wanita itu? Rasanya saya ingin menyentuhnya lagi. Mengulang kejadian semalam.
“Eh, Pak Arya …”
Saya tersenyum kecil mendengar ucapan Mbak Sri. Rupanya ia menyadari kehadiran saya yang kini tengah berdiri di pintu. Lalu, saya melihat tubuh wanita itu menegang. Mungkin, karena ia mendengar ucapan Mbak Sri yang memanggil saya.
“Sprei sama gordennya sudah diganti, Mbak? Semuanya juga tampak bersih, sepertinya sudah sekalian disapu dan dipel, ya?”
Saya memang menyuruhnya untuk membersihkan satu kamar kosong yang ada di apartemen. Awalnya Mbak Sri bingung, untuk siapa memangnya? Karena yang dia tahu saya menikah hari itu dan pasti akan datang ke sini untuk membawa istri sekalian. Namun, saat saya mengatakan kamar itu untuk istri saya, dia pun terkejut seakan tak percaya.
Hahaha … mungkin untuknya terdengar sangat konyol, sepasang suami istri tinggal dalam satu atap, namun pisah kamar. Ah, saya tak terlalu memikirkan apa yang ia pikirkan tentang pernikahan kami.
“Sudah, Pak. Semuanya sudah saya kerjakan sesuai perintah Pak Arya.”
“Terima kasih kalau gitu, Mbak Sri. Saya ke kamar dulu, nanti jangan lupa untuk memasukkan semua minuman saya ke dalam kulkas, ya?”
“Oh, udah dateng, ya, Pak, semua minuman punya Pak Arya?”
“Udah, tadi kurir dateng. Jangan lupa, ya, Mbak.”
“Baik, Pak.”
Seraya menganggukkan kepala, mata saya kini menatap seorang wanita yang sudah resmi menjadi istri saya. Wanita itu menundukkan kepalanya seraya memilin jari-jari tangannya. Tampak sekali ia gugup. Tak ada lagi keceriaan yang saya lihat seperti tadi. Ia seperti ketakutan. Mungkin ini karena ucapan saya sebelum kami pulang ke apartemen. Biarlah, saya tak ingin mengambil pusing tentang wanita itu.
Lebih baik cepat ke kamar sekarang juga. Dari pada harus beralama-lama di tempat ini. Langkah kaki saya membawa diri saya menuju kamar. Sesampainya di kamar, saya langsung menuju meja kerja. Ya, saya tak membuat ruangan khusus untuk bekerja. Saya tak ingin berjalan lebih jauh dari kamar hanya untuk menuju ruangan kerja. Jadi, meja kerja di dalam kamar adalah satu hal yang simple. Tak perlu membuang-buang waktu, tinggal berjalan lima langkah maka saya sudah sampai di meja kerja untuk mengecek seluruh pekerjaan yang tak terselesaikan di kantor.
Bunyi notifikasi dari ponsel membuat saya tertarik untuk melihatnya. Mendudukkan tubuh di kursi kerja, saya pun mulai mengecek ponsel. Dan ada satu pesan w******p dari Amora. Ah, apa yang dilakukan oleh anak kesayangan Mama dan Papa itu.
Amora
Mas, lihat deh aku dapet foto kita waktu kecil!!! 15.47
Ada foto kamu sama Chenin juga btw, astaga masss kalian cocok hangett 15.47
Eh tumben udah dibaca, nganggur yee 15.48
Bentar ya aku kirim 15.48
Saya memutar bola mata malas saat membaca pesan dari Amora. Sungguh, bahasan topik yang sangat tak menarik. Bahkan, saya tak minat sedikitpun untuk melihat foto-foto itu. Lebih baik saya mengcek email sekarang untuk melihat pekerjaan yang tertunda. Lalu, beberapa saat kemudian, muncul notifikasi dari Amora.
Amora sent a photo.
Amora sent a photo.
Amora sent a photo.
Amora sent a photo.
Amora sent a photo.
Amora sent a photo.
Kening saya mengerut saat melihat banyak sekali foto yang dikirim oleh Amora. Apa saja yang ia kirimkan itu? Ahh … kenap jadi penasaran begini? Dengan tak tahu malunya, jari saya menekan notifikasi dari Amora untuk melihat foto-foto itu. Pada akhirnya, saya tak bisa menahan diri saya untuk tak melihat foto itu. Padahal tadi saya tak tertarik sama sekali. Saya jadi teringat akan sebuah kiasan ‘menjilat ludah sendiri’ ya, memang itu pantas untuk saya.
Mata saya menatap dengan jeli salah satu foto yang dikirim oleh Amora. Di foto itu, tampak seorang remaja yang tengah tersenyum lebar seraya merangkul pundak seorang gadis kecil berseragam sekolah dasar. Itu adalah dirinya dan juga Shennina. Tampak sekali difoto itu saya begitu bahagia seperti tak ada kebencian sama sekali saat bersama dengan gadis itu.
Ah, saya jadi teringat ucapan Amora beberapa bulan sebelum pernikahan. Saat itu saya marah kepada Mama setelah mengetahui bahwa gadis yang dipilihkan olehnya adalah seorang gadis bu-ta. Dan Amora pun datang, ia berkata bahwa saya sendiri pernah bilang bahwa saya akan menikahi gadis itu waktu kecil.
Ya, saya tak menampik bahwa saya pernah mengatakan hal itu dulu. Karena saya terpaksa. Shennina selalu berkata bahwa ia ingin menikah dengan saya jika besar nanti, setiap ia bertemu dengan saya hal itu selalu ia ucapkan. Akhirnya, karena saya bosan mendengarnya, saya pun membalasnya dan berkata bahwa saya akan menikahinya nanti jika ia sudah dewasa. Dan hal itu didengar oleh Amora.
Saya pikir itu hanyalah candaan saja, namun itu semua menjadi kenyataan sekarang. Senyuman kecut pun kini sudah menghiasai wajah saya, sebegitu bercadanya kah kehidupan di dunia ini? Sebuah ucapan pun bisa menjadi kenyataan. Ah, saya pernah membaca bahwa ucapan itu adalah do’a. Jadi, apakah ucapan saya dulu dikabulkan oleh Tuhan? Rasanya sangat tak adil, disaat saya memiliki banyak sekali harapan, mengapa malah ucapan yang tak diinginkan itulah yang didengar oleh-Nya?
•••••
Menonton acara pertandingan sepak bola adalah salah satu kegemaran saya dari kecil. Melihat orang-orang yang saling berebut sebuah bola di tengah lapangan untuk mencetak sebuah gol adalah hal yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Apalagi sekarang jagoan saya yang tengah tanding. Tentu saja, Arsenal.
Saat sedang asyik menonton sepak bola. Tiba-tiba saja wanita itu datang seraya membawa white cane di tangannya untuk penuntun jalannya. Saya menghela napas pelan sambil menyenderkan tubuh di sofa. Saya masih tak percaya, wanita seperti itu yang saya nikahi. Astaga … jika Diandra mengetahui hal ini dia pasti akan menertawai saya sebab mantannya kini menikah dengan seorang wanita buta seperti Shennina.
“Mas …”
Ahh … suara halus itu. Suara yang sama seperti yang saya dengar waktu saya menyatukan tubuh dengan tubuhnya, sangat halus dan lembut. Astaga … kenapa jadi berpikir kesitu?
“Ada apa?”
Senyuman lembut terbit di wajahnya. Membuat kecantikan yang ia miliki bertambah berkali-kali lipat.
“Aku denger kamu lagi teriak-teriak gitu, antusias banget, lagi nonton apa? Kedengerannya seru.”
“Sepak bola.”
Saya menjawab seadanya. Dia itu sungguh menganggu euforia yang sudah saya buat. Datang di saat yang tidak tepat. Sangat menyebalkan.
“Wah, pantas. Mau aku bikinkan kopi? Atau sekalian sama biskuitnya juga? Biar kamu ada camilan dan tidak bosan.”
“Saya nggak begitu suka kopi.”
“Oh, kalau gitu teh saja, ya?”
“Kalau ngeteh malam-malam nanti saya beser, lagian juga saya takut nantinya kamu malah salah memasukkan gula, bukannya gula ynag dimasukkan malah garam. Jangan deh, ya.”
Senyuman di wajahnya kini sudah memudar. Tampak sekali ia menegang setelah saya mengucapkan hal itu. Mungkin, ucapan saya terlalu jahat untuknya. Ekspresi wajahnya sudah berubah 180 persen. Tetapi, yang saya ucapkan itu benar bukan? Saya hanya mengantisipasi saja. Takutnya memang dia tak bisa membedakan mana gula dan juga garam sebab dia saja tak bisa melihat.
“Aku memang nggak bisa melihat, Mas. Namun, indra pengecapku masih berfungsi. Aku tentu saja masih bisa merasakan asin, manis, pedas, gurih dan pahit. Mas Arya tak perlu takut.”
Saya mengangkat sebelah alis. Tampaknya ia tak suka dengan ucapan saya tadi makanya ia membalasnya dengan seperti itu. Dan ia menantan bahwa dirinya bisa membuat teh itu. Oke, mari kita lihat dan buktikan. Saya jadi penasaran, seberapa bergunanya istri saya itu?
“Oh, iya … saya hampir lupa. Kalau begitu, kamu bisa buatkan. Saya ingin merasakan teh buatanmu. Enak atau tidak.”
Dia tampak tersenyum senang. Dia pun menganggukkan kepalanya. Dia terlihat begitu antusias. “Baik, Mas.”
Saha menghela napas sebentar. Lalu, menatap kepergiannya yang masih berjalan terseok-seok menggunakan white cane di tangannya. Tuhan … wanita macam apa yang saya nikahi ini? Mama … ini semua karena Mama. Astaga … untung saja saya begitu menyayangi wanita yang sudah melahirkan saya itu, jika tidak, maka saya tak akan menikahinya. Mustahil.
Beberapa menit kemudian, ia pun datang dengan secangkir teh di tangannya. Tampak sekali wanita itu begitu hati-hati membawanya.
“Mas, ini sudah. Coba kamu rasakan.”
Saya menatapnya sejenak. Lalu, dengan white cane yang ada di tangannya, ia gerakkan kesana-kemari seakan mencari meja. Dan sepertinya wanita itu menemukannya. Saya melihat ujung white cane itu mengenai kaki meja. Ia pun tersenyum senang seraya menaruh secangkir teh itu di atas sofa.
“Silahkan dirasakan, Mas. Semoga pas ya, rasanya sama lidah kamu.”
Saya menatap teh di dalam cangkir itu dengan tatapan tak yakin. Namun, jika melihat wajah Shennina yang begitu senang, rasanya wanita itu seperti sudah sangat percaya dengan teh buatannya. Akhirnya, saya pun mengambil cangkir teh itu dan mulai meminumnya.
Saat pertama kali teh itu menyentuh lidah saya, saat itu pula saya percaya dengan ucapan Shennina. Ya ampun, teh buatan wanita itu enak sekali. Tak kemanisan ataupun kurang manis. Rasanya begitu pas. Bahkan, buatan Mbak Sri pun kalah. Saya percaya dengan ucapannya kini. Wanita itu tak bisa diremehkan sekarang. Dibalik kekurangannya, ternyata ia wanita yang bisa diandalkan. Rupanya pemikiran saya tentang wanita itu yang tak becus melakukan segala hal kini mulai terkikis dengan perlahan.
“Bagaimana, Mas?”
“Kemanisan, kamu mau buat saya diabetes, ya?”
Bohong. Astaga … saya berbohong kepadanya. Nyatanya, teh buatannya enak. Dan sekarang, saya bisa melihat wajahnya menjadi sedih dan murung karena ucapan saya. Ck! Saya suka membuatnya seperti itu. Rasanya ada kepuasan tersendiri dalam diri saya. Terdengar sangat jahat memang. Tetapi, rasa kesal dan benci saya karena telah menikahinya mengalahkan semuanya.
“Ehm, maaf, Mas. Maaf aku nggak tahu kalau Mas Arya ngga suka teh yang kemanisan. Aku tadi udah nyobain sedikit, aku merasakan rasanya sudah pas. Ternyata, di Mas Arya itu kemanisan, ya? Ya sudah, nanti kalau aku mau buatin teh lagi buat Mas Arya, nanti aku kurangi gulanya.”
Saya menghela napas seraya memejamkan matanya mendengar ucapan Shennina. Wanita itu tampaknya ingin berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya. Ia tak mudah putus asa walaupun tadi sudah saya komplain bahwa teh yang ia buat kemanisan. Wanita itu justru malah ingin membuatkan teh lagi untuk saya. Sepertinya wanita itu ingin memperbaiki kesalahannya. Padahal, di sini saya yang berbohong bahwa tehnya kemanisan, tak ada yang salah dari teh buatannya.
“Oke, saya harap kamu tak mengulangi kesalahan yang sama.”
Wanita itu tersenyum lebar seraya menganggukkan kepalanya. “Iya, Mas. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik buat Mas Arya.”
Mungkin, jika pria lain yang mencintai wanitanya mendengar ucapan Shennina saat ini, ia pasti akan sangat senang. Namun, kenyaatannya ini adalah saya yang mendengarnya. Terdengar sangat berlebihan dan memuakkan.
“Kalau begitu, kamu lebih baik tidur sekarang, sudah malam.”
Wajah wanita itu bersemu saat saya mengatakan hal itu kepadanya. Astaga … tampaknya ia salah tingkah saat ini karena ucapan saya.
“Jangan salah sangka, saya hanya tak mau kamu sakit karena kurang tidur, itu pasti akan sangat merepotkan saya. Jadi, lebih baik saya mengingatkanmu dari sekarang. Lagi pula, bukan hanya dirimu yang pernah saya bilangin seperti itu. Mbak Sri bahkan hampir setiap hari saya bilangin seperti tadi.”
Dan ya, ekspresi muka Shennina pun kini sudah berubah lagi. Senyuman manis di wajahnya sudah menghilang. Namun, ia tetap menganggukkan kepalanya seakan ia mengerti dengan ucapan saya.
“Baik, Mas Arya, kalau begitu aku balik ke kamar dulu, ya? Mas Arya juga jangan terlalu malam tidurnya, nanti bakalan sakit. Kalau Mas Arya sakit, aku yang akan sedih karena Mas Arya nggak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.”
Saya memutar bola mata mendengarnya. Tak ada romantisnya sama sekali ia berkata seperti itu. Jika, ia berharap bahwa saya akan luluh kepadanya hanya karena ucapan. Oh tidak, tidak semudah itu Shennina.
“Iya, iya, udah sana kamu pergi ke kamar.”
Setelah itu, ia pun pergi ke kamarnya. Saya pun langsung melanjutkan nonton sepak bola yang tadi sempat tertunda. Astaga, karena wanita itu, saya tak bisa melihat siapa yang mencetak gol di Arsenal. Ah, sangat menyebalkan.
Ketika jam sudah menunjukkan waktu 12 malam, acara pertandingan sepak bola itu pun sudah selesai. Jagoan saya akhirnya menang. Bahagia sekali saat mereka mendapatkan piala bergilir itu. Dan ya, mata saya sudah terasa berat. Rasanya ingin sekali memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi sekarang. Saya pun memutuskan untuk kembali ke kamar.
Namun, saat saya sudah merebahkan tubuh di atas kasur. Rasa kantuk dan lelah itu hilang. Dan saya pun jadi melamun sendirian. Memikirkan berbagai macam hal yang ada di otak saya. Dan tiba-tiba saja, bayangan Shennina muncul. Saat untuk pertama kalinya saya mendapatkan keperawanan yang wanita itu jaga selama ini. Pria ba-jingan seperti saya rasanya tak pantas untuk mendapatkannya. Namun, apalah daya, wanita itu adalah istrinya. Jadi, saya anggap itu adalah kado dari penikahannya.
Memikirkan tentang Shennian membuat saya menebak apakah wanita itu sudah tidur di kamarnya atau belum? Ah, rasanya saya ingin sekarang. Saya ingin merasakan lagi sensasi panas dan mendebarkan di atas ranjang bersama wanita itu. Dan entah sejak kapan, kaki ini melangkah menuju kamar Shennina. Tangan saya bergerak untuk membuka dengan perlahan daun pintu kamar wanita itu yang ternyata tak dikunci. Kesempatan besar yang tak boleh saya sia-siakan.
Saya melihat wanita itu yang sudah tertidur menyamping membelakangi pintu. Dengan perlahan, saya kembali menutup pintu tak lupa menguncinya dari dalam. Setelah itu, saya berjalan mendekati ranjang, dan menaiki ranjang pelan-pelan. Tangan saya menyentuh pundak wanita itu, lalu menariknya hingga kini ia menjadi tertidur telentang menghadap ke arah saya. Menghela napas sejenak, tangan saya pun kini beralih ke pipi wanita itu. Menepuknya pelan hingga wanita itu merasa terganggu.
“Shennina … Shennina, bangun.”
“Ehm …”
Dia bergumam. Seakan tak mau tidurnya terganggu. Namun, saya tak tinggal diam, kini, tangan saya sudah bergeriliya di tubuhnya. Melepaskan kancing baju wanita itu. Lalu mulai melakukan aksi-aksi yang nakal. Sampai akhirnya, Shennina melenguh dan wanita itu pun membuka matanya. Mata hijau itu kini sudah terbuka sempurna.
“Shennina …”
“Mas Arya?”
“Shennina … saya ingin kamu. Saya mau kamu. Jangan menolak saya.”
Ya, pria bisa melakukan hubungan badan dengan wanita yang bahkan tak mereka cintai sama sekali. Yang terpenting hasrat biologis mereka dapat terpenuhi. Dan Shennina tak pernah menolak. Wanita itu sangat menuruti ucapan saya sebagai suaminya.
Ah, Shennina. Tubuhmu ini mengandung nikotin yang membuat saya kecanduan. Rasanya saya ingin terus merasakan dirimu sampai saya sendiri pun bosan melakukannya denganmu.