Keping - 4 - Hari Pertama Menjadi Istri

1468 Words
Shennina's Point of View Mencintai seseorang bukanlah suatu kesalahan. Tak akan ada yang bisa menahan perasaan yang tumbuh begitu saja. Manusia berhak menentukan pilihannya masing-masing. Kepada siapa mereka memberikan rasa cintanya.  Dan yang paling membahagiakan adalah ketika kita mendapatkan seseorang yang kita cintai itu. Dan ya, bolehkah aku bersyukur sekarang? Mendapatkan Mas Arya yang sudah lama aku cintai menjadi suamiku. Dulu saat aku berusia 10 tahun, waktu pertama kali aku bertemu dengannya. Saat kedua orang tua kami bertemu dan ternyata mereka merupakan sahabat lama. Aku mulai mengenal Mas Arya dan adiknya Amora, kami pun berteman. Amora sering bermain ke rumahku saat akhir pekan, ia diantar dan ditemani oleh kakaknya—Mas Arya. Entah sejak kapan, perasaanku tumbuh untuk Mas Arya. Dia lelaki yang baik, dia mungkin menganggapku sebagai adiknya sama seperti Amora, namun aku tidak. Aku menyukainya. Lalu, aku memberanikan diri berkata kepada dirinya saat kami berdua di ruang tamu, sedangkan Amora sedang bu-ang air kecil di kamar mandi. Aku mengatakan kepadanya dirinya bahwa aku akan menikah dengannya kelak. Dan dia hanya tertawa pelan seraya mengelus rambutku dengan lembut. Mungkin dia hanya menganggap itu sebagai lelucon saja. Pernah suatu waktu, aku meraba wajahnya. Merasakan alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang penuh dan kumis tipis yang menggelitik kulitku. Aku tak bisa melihat wajahnya, namun aku bisa merasakan bahwa lelaki itu adalah lelaki yang tampan.  Aku selalu berkhayal jika nanti aku bisa menikah dengannya maka aku akan mengabdikan diriku untuk suamiku itu. Dan kini, aku resmi menjadi istrinya. Suatu keinginan yang besar sejak dulu akhirnya bisa terwujudkan, bukan dalam mimpi melainkan kenyataan. Apakah aku egois membiarkan cintaku sendiri yang menang? Sedangkan aku tak pernah tahu apa yang dirasakan oleh pria itu terhadapku. Telingaku menangkap bunyi pintu yang terbuka. Sontak, aku langsung menarik selimut dan menghimpitnya di bawah ketiak. Ah, siapa yang datang? Astaga … bisa gawat kalau Bunda yang masuk. Aku sangat malu.  “Nina, Bunda memanggilmu untuk sarapan.” Aku merasakan pipiku memanas saat mendengar suara berat yang tak asing itu. Ya, dia adalah suamiku. Aku sangat mengenali suaranya. Astaga tiba-tiba saja aku jadi teringat kejadian semalam. Saat aku menyerahkan diriku kepadanya. Ya Tuhan, aku malu sekali. Aku takut ada bagian tubuhku yang tak disukai olehnya. Namun, tak dapat aku pungkiri bahwa Mas Arya adalah lelaki yang perkasa. Mas Arya sedikit kasar kepadaku semalam. namun aku masih memakluminya, mungkin dia tak bisa menahan hasratnya yang menggebu-gebu. “Cepat mandi dan berpakaian, saya tunggu di depan.” Ia berucap lagi, setelah itu aku mendengar suara pintu yang sudah ditutup kembali. Ia bahkan pergi tanpa mendengar jawabanku terlebih dahulu. Menghela napasku sejenak, aku pun mencari white cane milikku yang semalam aku simpan di dekat nakas. Dan akhirnya aku menemukan benda itu. Benda inilah yang membantuku dalam berjalan agar tak menabrak sesuatu yang berada di depanku. Aku jarang sekali menggunakannya, biasanya aku akan menggunakan benda itu ketika akan pergi ke tempat yang asing. Kalau di rumah, aku tak pernah menggunakannya. Karena aku sudah hafal dengan seluk-beluk rumahku, Ayah yang mengajariku dan melatihku agar aku menghafalnya. Karena Ayah ingin aku terbiasa tanpa white cane. Memang tak mudah, butuh beberapa lama sampai aku pun hafal semuanya. Lebih baik, sekarang aku cepat-cepat mandi. Aku tak ingin semua keluarga hanya menungguku untuk sarapan.  ••••• “Nanti kalian mau tinggal dimana?” “Arya ada apartemen kok, Des, enak juga deket sama kantornya. Chenin mau ‘kan tinggal di apart?” Aku yang sedari tadi memakan sarapan dalam diam dan hanya mendengarkan perkataan mereka pun menganggukkan kepala seraya tersenyum semanis mungkin. Mana mungkin jika aku tinggal terpisah dengan suamiku itu. Memang sudah seharusnya bukan seorang istri ikut bersama suaminya. “Mau Tan—” “Ya, jangan Tante lagi dong, Sayang. Kamu ‘kan sekarang istri Arya, panggil Mama sama kayak Amora dan Arya.” Lagi, aku pun menganggukka kepala. “Iya, Ma.” “Nah, gitu dong, cantik.” “Bunda nitip Chenin ya, Ya? Kalau dia ada kesalahan tegur dia baik-baik, Chenin itu orangnya ceroboh, dia juga pelupa, maaf kalau misalnya dia ngelakuin kesalahan, yang pasti Chenin itu mandiri, kamu gak perlu khawatir.” “Bunda …” Aku berusaha menghentikan ucapan Bunda. Ah, Bunda kenapa pakai segala membeberkan sifat burukku kepada suamiku? Apalagi ini di depan semua orang. “Tenang aja, Bun. Saya pasti akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Nina.” Tubuhku terasa kaku saat merasakan sebuah lengan besar yang tiba-tiba saja merangkul pundakku. Astaga, Mas Arya membuatku terkejut. Aku berusaha agar senormal mungkin. Sebab, jika bersentuhan dengannya, bulu kudukku langsung meremang karena selalu saja teringat kejadian semalam. Sepertinya ada sesuatu yang salah dengan diriku sekarang. “Saya juga akan berusaha membuat Nina nyaman di apartemen, Bun. Kalau bisa, mungkin saya akan menjual beberapa barang yang tidak terpakai agar ruang gerak Nina lebih luas lagi.” “Wah, bagus itu. Makasih ya, Arya.  Ternyata kamu pengertian banget sama istri kamu sendiri.” “Tentu, Bunda. Nina pasti akan betah di sana, iya ‘kan, Nin?” Aku merasakan tangannya yang merangkul pundakku semakin mengencang. Bahkan, sepertinya ia tengah meluapkan emosinya kepadaku. Ah, mungkin ini hanya pikiran negatifku saja. Mas Arya tidak mungkin seperti itu. Ia pria yang baik. “I—iya, Mas.”  Jantungku berdebar dengan kencang saat merasakan tangannya mengelus lenganku. Lalu, ia menarikku hingga tubuhku menabrak tubuhnya. Kemudian, aku merasakan bibirnya menyentuh keningku. Ya Tuhan, dia tengah mencium keningku. Astaga, aku benar-benar malu. Pasti semua keluarga sedang menatap kami dengan ekspresi yang aneh. Kadang aku bersyukur bahwa aku tak bisa melihat, karena tak semua hal ingin kulihat di dinia ini. “Aduh, Mama nggak sabar mau punya cucu. Kalau bisa cucu pertama laki-laki, ya.” “Loh, jangan gitu ah, Yu. Apa saja gendernya, sudah bersyukur banget.” “Iya, ya, Des. Cuma kalau laki-laki, jagoan aja, bisa jagain adik-adiknya nanti.” “Nah, udah jalan ‘kan progresnya, Ya?” “Hehe … tenang aja, Bun. Semuanya beres.” Ya Tuhan, pembicaraan macam apa ini? Mas Arya juga terdengar menjawabnya dengan santai. Ah, aku malu. Kedua orang tuaku yang menganggapku sebagai gadis kecilnya mungkin sekarang sudah menyadari bahwa aku bukanlah gadis kecil mereka lagi.  Oke, Chenin. Kamu nggak boleh seperti ini. Wajar mereka berpikiran macam-macam sebab kamu adalah istri dari Arya. Suami dan istri memang melakukan hal itu, bukan? Kedua orang tuanya juga pasti pernah melakukannya, jika tidak aku dan kakakku tak akan hadir di dunia ini. Aku berusaha menghibur diriku sendiri. Saat sesi sarapan telah usai. Akhirnya aku pun kembali ke kamar bersama Mas Arya. Sepanjang perjalanan menuju kamar, Mas Arya merangkulku seakan ia menjadi mata untukku. Ia tak membiarkanku untuk berjalan sendiri.  Aku jadi teringat kejadian saat Mas Arya berbincang dengan Mas Yuda, tampak sekali ia tak suka dengan Mas Yuda. Bahkan ia menuduh Mas Yuda memiliki hubungan spesial denganku. Aku jadi berpikir bahwa Mas Arya marah semalam karena cemburu akan kedekatanku dengan Mas Yuda. Apakah itu tanda bahwa suamiku sendiri memiliki perasaan yang sama denganku? Itu artinya cintaku tak bertepuk sebelah tangan bukan? “Kamu bereskan semua pakaianmu sendiri, kata Bunda kamu gadis yang mandiri bukan? Jadi, jangan menyusahkan saya!” Aku tersentak kaget. Apalagi saat tangannya mencengkeram kasar pergelangan tanganku. Ya Tuhan, kenapa Mas Arya berbeda dengan tadi? Saat berada dj meja makan, pria itu sopan bahkan sangat lembut kepadanya. Dan saat Mama menyuruhnya untuk membantuku membereskan barang-barang, ia menyetujuinya dengan baik. Namun, sekarang … mengapa ia sangat berbeda 180°? “Mas Arya …” “Apa?! Jangan membuat saya kesal! Jangan membantah, Nin! Menurutlah, maka saya akan memperlakukanmu dengan baik!” Tak terasa air mataku mengalir. Suamiku tiba-tiba berubah menjadi seorang monster. Pikiranku yang tadinya mengira bahwa ia mencintaiku seakan lenyap begitu saja. Itu bukanlah tanda dirinya mencintai diriku. Mungkin, itu adalah bentuk rasa kesalnya karena menikah denganku. Aku Shennina Sudrajat, berhasil menikah dengan pria yang sangat aku cintai. Namun, pria yang kucintai itu malah membenciku. Ia seperti tak suka dengan pernikahan kami. Lalu, apa artinya kegiatan panas kami semalam? Bahkan ia sangat menikmatinya. Dia hanya bernafsu pada tubuhmu. Seorang pria tak akan menolak jika disodorkan wanita di hadapannya. Karena pria memiliki nafsu yang besar. Aku memejamkan mata saat mendengar setan dalam diriku berkata demikian. Ya Tuhan, benarkah seperti itu? Rasanya sakit sekali. Bahkan, suamiku menyentuhku begitu saja tanpa adanya rasa cinta.  Begitu menyedihkannya dirimu, Shennina. Kamu mendapatkan dirinya sebagai suamimu, namun kamu tak mendapatkan kasih sayang dan cinta darinya. Batinku berkata. “Jangan cengeng! Cepat bereskan barang-barangmu. Oh, kalau perlu sekalian dengan barang-barang saya. Kamu istri saya sekarang, selain harus melayani saya di ranjang, kamu juga harus melayani yang lainnya.” Tuhan … ini baru hari pertamaku menjadi seorang istri dari Arya Bima Daneswara. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Tolong, kuatkan diriku, Tuhan. Kuatkan aku dalam mendapatkan cinta suamiku. Aku yakin, seiring berjalannya waktu, hatinya pasti akan luluh kepadaku. Ya, pasti. Semoga saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD