bc

Nona Anastasie : Pewaris yang hilang

book_age12+
1
FOLLOW
1K
READ
family
HE
second chance
arrogant
mafia
gangster
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
campus
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

"Kalau suatu hari aku menghilang, apa kamu akan mencariku?"

Pertanyaan itu membuat Alfareezel menghentikan langkahnya.

Ia menoleh ke arah Putri yang berdiri membelakanginya.

"Aku akan menemukanmu."

"Bagaimana kalau aku ternyata bukan orang yang selama ini kamu kenal?"

Alfa tersenyum tipis.

"Kalau begitu aku akan mengenalmu lagi."

Untuk sesaat, Putri ingin menangis.

Karena jika Alfareezel mengetahui kebenarannya, mungkin pria itu tidak akan mengatakan hal yang sama.

Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan nama Putri Anastasie Batara. Nama yang ia yakini sebagai identitasnya. Nama yang ia jaga sekuat tenaga.

Sampai sebuah rahasia yang terkubur sejak kelahirannya terungkap.

Putri Anastasie Batara tidak pernah ada.

Ia adalah Nona Anastasie Fredrick Abraham.

Seorang pewaris yang keberadaannya sengaja disembunyikan. Seorang anak yang sejak lahir menjadi bagian dari permainan kekuasaan, kebohongan, dan pengkhianatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketika masa lalu mulai menagih kebenaran, Putri dipaksa memilih antara mempertahankan hidup yang selama ini ia kenal atau menerima identitas yang selama ini direnggut darinya.

Dan di tengah semua itu, hanya ada satu orang yang tetap menggenggam tangannya.

Alfareezel.

Pria yang tanpa sadar akan ikut terseret ke dalam rahasia terbesar dalam hidupnya.

Sebab beberapa kebenaran tidak hanya mengubah masa depan.

Mereka juga menghancurkan semua yang pernah dianggap sebagai keluarga.

chap-preview
Free preview
Harapan
Gadis berambut hitam itu berdiri membeku di tengah ruangan. Jemarinya saling mencengkeram erat sementara kedua kakinya bergetar pelan. “JANGAN MENGGANGGU AKU, ANAK PUNGUT!” Bentakan itu menggema memenuhi ruangan. Tubuh Putri refleks menegang. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Kepalanya menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap pria dewasa di hadapannya. “BERANI SEKALI KAMU MENYENTUH BARANG-BARANGKU! PERGI KAU DARI SINI!” Putri menggigit bibirnya kuat-kuat. Dadanya terasa sesak. Padahal ia hanya merapikan kamar itu seperti biasa. Namun apa pun yang dilakukannya selalu salah di mata mereka. Dengan langkah terburu-buru, Putri berlari keluar ruangan. Ia melewati pintu belakang rumah besar itu—pintu yang memang dikhususkan untuknya. Menurut mereka, Putri tidak pantas terlihat oleh tamu yang datang. Rumah itu megah. Pagar tinggi, halaman luas, dan lampu-lampu mahal menghiasi setiap sudutnya. Namun bagi Putri, tempat itu tidak pernah terasa seperti rumah. Ia terus berlari hingga sampai di tepi danau belakang. Tubuh kecilnya jatuh terduduk di atas tanah. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ia membiarkan dirinya menangis. Tangis yang selama ini selalu dipendam sendirian. “Anak pungut.” “Aib keluarga.” “Kepungut.” Suara-suara itu terus berputar di kepalanya tanpa ampun. Apakah dirinya memang sehina itu? Apakah akan ada yang peduli jika suatu hari ia menghilang? “Kenapa? Dimarahin lagi?” Putri buru-buru menghapus air matanya lalu menoleh. Seorang lelaki seusianya berdiri di sana. Alfareezel. Satu-satunya orang yang tidak pernah memandangnya dengan hina. “Udah biasa,” jawab Putri sambil memaksakan senyum kecil. Ezel mendecih kesal. “Kamu mau hidup kayak gini terus?” Putri hanya menunduk. “Aku nggak mau nambah masalah lagi.” “Biarin aja sampai mereka nyakitin kamu terus?” Putri tertawa kecil, tetapi terdengar menyedihkan. “Aku nggak akan gampang mati, Ez.” Kalimat itu justru membuat Ezel semakin khawatir. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Putri. Untuk beberapa saat mereka hanya diam mendengarkan suara angin dan riak air danau. “Aku mau sekolah.” Ucapan Putri terdengar pelan, nyaris seperti bisikan. Ezel langsung menoleh. “Aku pengen tahu rasanya punya teman,” lanjut Putri sambil tersenyum tipis. “Pengen pakai seragam. Pengen punya buku sendiri.” Tangannya meremas ujung bajunya. “Tapi ya udah.” “Apa maksudnya ya udah?” tanya Ezel cepat. Putri mengangkat bahu kecil. “Memang bukan buat aku.” Ezel mengambil ranting lalu menggambar angka di tanah. “Ini berapa?” “Satu.” Ia menambah angka lain. “Kalau ini?” “Dua.” “Nah. Berarti kamu bisa belajar.” Putri tertawa kecil. “Ya nggak gitu juga.” “Ya gitu,” sahut Ezel serius. “Sekolah bukan gedung. Sekolah itu belajar.” Putri terdiam. Entah kenapa, dadanya terasa hangat setiap kali Ezel berbicara seperti itu. Seolah lelaki itu selalu berhasil membuatnya merasa berharga. “Kamu terlalu baik sama aku.” Ezel langsung memukul pelan bahunya. “Jangan ngomong aneh. Kita sahabat.” Ia mengulurkan jari kelingkingnya. “Dan sahabat nggak ninggalin sahabat.” Putri menatap jari itu beberapa detik sebelum akhirnya mengaitkan kelingkingnya pelan. “Janji?” “Janji.” “Alfa!” Keduanya menoleh bersamaan. Seorang wanita muda berjalan mendekat sambil membawa keranjang kecil. Adeeva. Ibunda Ezel. Tatapan wanita itu langsung melembut saat melihat Putri. “Putri sudah makan?” Pertanyaan sederhana itu membuat Putri membeku. Ia mengangguk cepat. “Sudah, Tante.” Namun suara perutnya malah berbunyi pelan. Kruuuk... Wajah Putri langsung memerah karena malu sementara Ezel menahan tawa. Adeeva tersenyum lembut lalu menggenggam tangan Putri. “Ayo makan sama Bunda.” “Nggak usah, Tante.” “Ayo.” Putri tidak sanggup menjawab. Ia tidak terbiasa diperlakukan sehangat ini. Karena takut terlalu nyaman dengan kebaikan mereka, Putri buru-buru mundur. “Aku pulang dulu.” Lalu ia berlari menjauh sebelum siapa pun sempat menahannya. Adeeva memperhatikan punggung kecil itu hingga menghilang. “Kasihan sekali anak itu.” Ezel menunduk. “Apa salah Putri, Bun?” Adeeva terdiam. “Dia baik. Dia nggak pernah nyakitin siapa-siapa. Tapi kenapa semua orang jahat sama dia?” Wanita itu mengusap kepala putranya perlahan. “Karena kadang orang dewasa lebih bodoh daripada anak-anak.” Sementara itu, Putri kembali berjalan menuju rumah besar yang terasa seperti neraka baginya. Ia masuk melalui pintu belakang dengan hati-hati. Namun suara engsel tua tetap terdengar nyaring. “ANAK PUNGUT! JANGAN BERISIK!” Putri memejamkan mata lelah. Belum sempat melangkah lebih jauh, suara berat dari belakang membuat tubuhnya membeku. “Darimana?” Perlahan Putri berbalik. Ayahnya berdiri beberapa langkah darinya dengan tatapan dingin. “Maaf, Yah.” “Darimana?” Belum sempat menjawab, pria itu sudah mencengkeram pergelangan tangannya kasar lalu menyeretnya menuju ruang keluarga. “Ayah... sakit...” Brak! Tubuh Putri terlempar ke lantai. Sebuah tendangan menghantam perutnya hingga gadis itu langsung meringkuk menahan sakit. “Mati saja kamu!” Bentakan itu menggema di ruangan. Tidak ada yang menghentikan. Mereka hanya menonton seolah semua ini biasa. Air mata Putri terus jatuh. Namun di tengah rasa sakit itu, ia masih berusaha mencari wajah ayahnya. Mencari sedikit saja kasih sayang yang mungkin tersisa. Tangannya yang gemetar perlahan menyentuh pergelangan tangan pria itu. “Ayah sakit...” Bisiknya lirih. Untuk pertama kalinya malam itu, pria tersebut benar-benar menatap Putri. Bukan sebagai aib. Melainkan sebagai seorang anak. “Maaf, Yah...” bisik Putri lemah. “maaf Putri hadir di hidup ayah...” Pandangan matanya mulai kabur. Darah menetes pelan dari pelipisnya. Lalu tubuh kecil itu terkulai lemah ke lantai. Tidak bergerak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria itu merasakan sesuatu yang selama ini hilang. Takut.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
726.9K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
962.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
348.9K
bc

Not just, the Beta

read
343.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook