Ben bergerak lebih cepat, dan yang terdengar detik berikutnya adalah erangan penuh kenikmatan dari bibirnya dan Mary. Mereka saling meneriakkan nama ketika kepuasan itu menghancurkan mereka berdua. Ben terus menyemburkan benihnya ke dalam rahim Mary secara berulang-ulang. Ia tidak peduli jika Mary akan mengandung anaknya setelah ini. Itu justru bagus karena hubungan mereka akan lebih kuat lagi dengan adanya anak. Bahkan, ia ingin terus bercinta dengan Mary agar wanita itu segera mengandung anaknya. Masih dengan sedikit terengah, Ben melepaskan diri dari Mary walaupun sebenarnya ia tidak ingin melakukan itu. Mereka berbaringan bersisian dengan tangan Ben mendekap Mary dengan erat sementara tangan gadis itu berada di atas jantung Ben yang berdegup kencang. “Bagaimana pendapatmu? Kau menyu

