Ajakan Mendadak

1288 Words
Suasana dapur yang awalnya terasa canggung perlahan mulai mencair. Olin yang sedari tadi berusaha untuk membentengi diri perlahan mulai terbiasa. Meskipun hanya sandiwara, tetapi entah mengapa Olin melihat ketulusan dari Ibu Gevan. "Ini resep puding andalan Tante. Kamu harus coba nanti." "Pasti, Tan. Belum jadi aja baunya udah enak." Olin berucap jujur. Sudah lama dia tidak melihat banyaknya makanan rumahan yang dihidangkan untuknya. Ada sedikit rasa bersalah karena semuanya hanyalah kebohongan. Ibu Gevan benar-benar senang saat mengetahui anaknya memiliki kekasih. "Dulu ketemu sama Gevan di mana, Lin?" "Di kafenya Mas Tama, Tante." "Tama?" "Iya, saya kerja di sana." Olin tersenyum tipis. Dia tidak percaya diri saat memberitahu pekerjaannya. Ibu Gevan terlihat terkejut, tapi perlahan dia kembali santai dan tersenyum. "Udah berapa lama kerja sama Tama?" "Udah lama, Tante. Sejak orang tua saya meninggal." Olin merasakan elusan di bahunya, "Maaf ya, Tante jadi buat kamu sedih." "Enggak kok, Tan. Saya udah berdamai." Olin terkekeh pelan. Dia memang sudah berdamai, apalagi saat dia harus berjuang melunasi hutang-hutang orang tuanya. Tidak ada lagi waktu untuknya meratapi nasib. "Coba ceritain awal pertemuan kamu sama Gevan. Tante penasaran gimana anak Tante bisa deketin cewek, karena selama ini kalau disuruh kencan gagal terus." Olin tersenyum tipis mengingat pertemuannya dengan Gevan, "Waktu itu saya lagi lembur, Tan. Mas Gevan dateng ke kafe buat ketemu Mas Tama, tapi saya kira dia maling. Untung saya cuma getok pake sapu, bukan tabung gas." Ibu Gevan tertawa mendengar itu. Hilang sudah bayangan pertemuan yang romantis. Ternyata kisah cinta anaknya sangatlah konyol. "Sejak saat itu kalian jadi deket?" Olin mengangguk ragu. "Iya, Tante." "Gimana? Kalian udah cari tanggal?" "Apa nggak kecepetan, Tan?" Olin meringis. "Nggak! Kamu lupa kalau Gevan udah tua?" "Kan belum 40, Ma." Suara berat itu menghentikan percakapan Olin dan Ibu Gevan di dapur. Dua wanita itu menatap ke arah Gevan yang baru saja datang. Tidak terlihat raut bersalah di wajah pria itu. Gevan bersikap biasa saja tanpa peduli jika dia sudah membohongi ibunya dan memaksa Olin untuk bersandiwara. "Umur 39 udah tua belum, Lin?" tanya Ibu Gevan pada Olin. "Tua, Tante." Olin menjawab dengan polos. Gevan menatap Olin tidak percaya. Seharusnya wanita itu membelanya. "Nah makanya, ayo cepet kalian nikah." Gevan mendengkus dan memutar matanya kesal. Bagaimana bisa dia betah di rumah jika ibunya selalu membahas hal ini? Saat ingin hidup sendiri pun, ibunya terus melakukan banyak drama agar membuatnya tetap tinggal. Sebagai orang tua tunggal tentu Gevan tidak akan tega pada ibunya. "Ayo, makan. Aku udah laper." Akhirnya Gevan memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Makan malam berlangsung hangat. Namun kali ini topik pembicaraan tentu berpusat pada hubungan Gevan dan Olin. Yang lebih mengejutkan lagi, Ibu Gevan tampak tidak masalah dengan latar belakang Olin. Dia memiliki perasaan yang bagus untuk wanita itu. *** Mobil Gevan berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang tampak sepi. Dia menoleh dan melihat Olin yang bersiap untuk turun. "Ini bener kontrakan kamu?" tanya Gevan. "Iya, Om." "Gimana kamu sama Mama saya tadi?" "Nggak ada apa-apa kok. Tante Ajeng baik sama saya. Cuma ya gitu, tanya kapan nikah terus." Gevan menghela napas lelah, "Maaf." "Kenapa Om Gevan nggak nikah-nikah?" tanya Olin polos. Satu detik kemudian dia tersadar karena sudah lancang. "Maaf, Om. Bukan maksud say—" "Saya belum ketemu yang cocok." Olin mencibir, entah kenapa alasan itu terdengar terlalu klasik untuknya. "Gimana mau cocok kalau dari awal di otak Om Gevan udah bilang nggak cocok terus." "Saya nggak suka dijodohin." Gevan menatap lampu berwarna kuning yang menerangi jalan dengan tatapan menerawang. "Kasian Tante Ajeng, Om. Om Gevan harus mulai berhenti main-main. Waktunya cari istri, jangan jajan terus." Gevan terbatuk mendengar itu, "Kamu nasehatin saya?" Olin mengedikkan bahunya tak acuh, "Cuma saran, Om." "Udah, turun sana. Saya mau balik ke rumah sakit." Olin mengerucutkan bibirnya dan berniat untuk keluar. Namun gerakannya terhenti saat melihat motor yang tiba-tiba berhenti di depan rumahnya. "Mampus gue!" umpat Olin. "Kenapa?" Olin menggeleng dan menundukkan tubuhnya, "Rentenir, Om. Ayo pergi!" "Kamu belum bayar utang kamu?" Gevan tampak tidak percaya. "Belum waktunya saya gajian, Om. Lagian utang saya udah lunas, tinggal bunganya aja." "Berapa?" "Duh, nggak penting. Ayo cepet pergi!" Gevan menatap dua pemuda yang mengetuk pintu rumah Olin dengan mata yang menyipit. Dia tidak mempedulikan Olin yang memukul lengannya untuk segera pergi. Ada sedikit rasa syukur karena kaca mobil Gevan yang gelap sehingga tak terlihat dari luar. "Lin?" panggil Gevan tiba-tiba. "Apasih, Om? Ayo pergi, ish!" Olin berusaha menutupi wajahnya dengan tas. "Kamu mau rentenir itu berhenti tagih hutang ke kamu?" "Maksud Om Gevan?" "Kamu mau hutang kamu lunas?" "Ya mau lah! Buat apa saya kerja rodi kalau bukan buat lunasin utang?" Olin mengerucutkan bibirnya kesal. "Bagus." "Saya nggak ngerti. Maksud Om Gevan apa sih?" Perlahan Gevan mulai menatap Olin sepenuhnya, "Saya udah pikirin saran kamu tadi." "Saran apa?" Olin masih panik sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih. "Menikah." Gevan tersenyum manis, "Ayo kita nikah." Olin menatap Gevan tidak percaya. Tas yang sedari tadi ia genggam dengan erat mulai terjatuh begitu saja. "Om Gevan kesurupan? Ketempelan hantu rumah sakit?" Olin mulai panik. Dia seperti terjebak. Ingin melarikan diri pun dia belum siap bertemu dengan para penagih hutang. "Saya serius. Bener kata kamu, bukan waktunya saya buat main-main lagi. Makanya ayo nikah." "Ya, tapi bukan sama saya!" "Anggap aja hubungan kita adalah simbiosis mutualisme. Kamu bantu saya lepas dari tuntutan untuk nikah dan saya bantu kamu buat lunasin semua hutang-hutang kamu." "Om Gevan gila," desis Olin tidak percaya. "Dengerin saya, cuma kamu yang Mama saya kenal dan Mama juga sudah suka sama kamu. Jadi kamu... adalah pilihan terbaik." "Gila!" Olin masih tidak percaya dengan ajakan yang Gevan lakukan secara tiba-tiba. Demi Tuhan! Pria itu mengajaknya menikah. Sekali lagi, menikah?! Menikah bukanlah hal yang sederhana. "Om, saya—" "Saya akan penuhi kebutuhan kamu. Kalau perlu kamu nggak usah kerja lagi." "Om—" "Saya hitung sampai tiga." "Om Gevan!" Olin mulai panik. "Satu." "Om, saya nggak mau!" "Saya bantu lunasin semua hutang kamu, Lin." Gevan masih berusaha. "Tapi, Om—" "Dua." "Berhenti ngitung nggak?!" "Saya penuhin semua kebutuhan kamu. Kamu nggak usah capek-capek kerja, biar saya yang kerja. Uang saya banyak kalau itu yang kamu takutin." "Ya, tapi bukan masalah itu, Om." "Tiga. Waktu kamu habis." "Apaan!" Olin mencoba meraih lengan Gevan yang akan kelur dari mobil. Terlambat. Pria itu sudah keluar dari mobil dan menghampiri para rentenir yang masih menunggu di depan rumah Olin. Dengan ragu, Olin ikut turun dari mobil. Dia ingin memukul kepala Gevan dengan batu saat ini juga. Demi Tuhan ternyata pria itu sangat gila! "Nah, ini dia yang kita cari-cari." Para rentenir itu tersenyum licik saat melihat Olin. Gevan berdiri di depan dua penagih hutang itu saat mereka akan mendekati Olin. "Berapa hutang Olin?" tanya Gevan tanpa basa-basi. Olin memilih untuk berdiri di belakang Gevan, berusaha untuk tidak bertatap mula langsung dengan para rentenir. "Lo siapa?" tanya salah satu pria itu. "Saya calon suaminya. Sekarang cepet kasih tau berapa hutang calon istri saya?" "Lima belas juta." "Minta rekening bos kamu, biar saya transfer sekarang." Gevan mulai mengeluarkan ponselnya. "Om, jangan!" bisik Olin berusaha untuk mencegah Gevan. Namun pria itu mengabaikannya. Setelah mendapatkan informasi nomor rekening, Gevan langsung membayar hutang Olin lunas saat itu juga. "Sudah saya bayar semua." Gevan menunjukkan ponselnya, "Sekarang saya minta tanda bukti lunas, setelah itu jangan pernah ganggu calon istri saya lagi." "Aman!" Kedua pria itu tampak senang dan memberikan apa yang Gevan mau. Setelah semua urusan selesai, kedua pemuda itu langsung pergi. "Om...," ucap Olin pelan. Dia sangat bingung dengan posisinya saat ini. Dia ingin marah tapi juga sangat berterima kasih. Gevan memasukkan ponselnya dan berbalik menatap Olin. Dia menatap wanita di hadapannya itu dengan datar, berusaha menyembunyikan rasa kasihan dengan apa yang gadis itu alami. "Jadi, Olin....," Gevan menatap Olin lekat, "Kapan kita bisa nikah?" *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD