Sosok Ibu

1128 Words
Sambil mengelap piring basah, Olin menatap ponselnya yang terus berdering sedari tadi. Raut wajahnya sangat masam merasa enggan untuk mengangkat panggilan dari seseorang yang baru hadir ke dalam hidupnya akhir-akhir ini. Bahkan Olin lebih memilih dihubungi rentenir sat ini dari pada Gevan, pria yang terus menghubunginya sejak tadi siang. "Jangan ngelamun." Fika menepuk bahu Olin dan ikut melihat ponsel wanita itu. "Om Gevan? Kenapa nggak diangkat?" tanyanya. Olin menggeleng cepat, "Nggak ah, males." Mata Fika menyipit, "Gue liat-liat lo makin deket sama sepupunya Mas Tama. Lo nggak cerita sama gue?" Olin berbalik dan menatap Fika tajam, "Buat apa gue cerita sama lo? Lo sendiri juga nggak cerita sama gue tentang hubungan lo sama Mas Tama. Mana udah main caplok-caplokan lagi." Fika mendengkus, "Gue digantung," bisiknya lirih. "Sama Mas Tama?" Olin mulai penasaran dan ikut memelankan suaranya. Beruntung suara mereka teredam oleh alat-alat dapur yang saling berbunyi nyaring.. "Iya. Kayaknya dia nggak mau ada status deh." Wajah Fika berubah masam. Dia meraih satu mangkok dan ikut mengelapnya. "FWB dong?" Fika mengangguk dan menghela napas kasar. Kenapa nasib percintaannya begitu menyedihkan? Jika bisa memilih tentu dia tidak akan mau jatuh hati pada pria bermulut manis seperti Tama. "Olin?" panggil Okta, salah satu pelayan kafe yang masuk ke dapur. "Kenapa, Ta?" "Dipanggil Pak Bos di ruangannya." "Mas Tama?" Olin bertanya bingung. Namun dengan segera dia mengelap tangannya dan berlalu menuju ruangan Tama. Tidak biasanya pria itu memanggilnya secara pribadi. Ada apa? Olin mengetuk pintu ruangan Tama sebentar sebelum membukanya. "Mas Tama panggil saya?" "Sini, Lin. Masuk." Olin masuk dan berdiri di depan meja Tama. Pria itu kembali fokus pada ponselnya. "Ada apa, Mas?" "Tunggu sebentar." Tama mengangkat sebelah tangannya dan tak lama dia memberikan ponselnya pada Olin. "Apa ini, Mas?" tanya Olin bingung. "Sepupu saya mau bicara." "Om Gevan?" tanya Olin tanpa suara. Dia menjauhkan ponsel Tama agar Gevan tidak mendengar suaranya. "Iya, katanya kamu nggak bisa dihubungi jadi dia telepon saya." "Nggak mau." Olin menggeleng dan mengembalikan ponselnya. Dahi Tama berkerut mendengar itu, "Kalian ada apa?" Tidak ingin menjawab pertanyaan dari Tama, akhirnya Olin memilih untuk menerima panggilan Gevan. Dia tidak mau jika orang-orang akan berpikir jika ada sesuatu antara dirinya dan Gevan. "Iya, Om." "Hp-mu kamu jual? Kok nggak bisa dihubungi?" tanya Gevan dari seberang sana. Olin mendengkus, "Kan saya kerja, Om." "Saya mau ngomong sesuatu, tolong dengerin saya dulu." "Jawaban saya masih sama, Om. Saya nggak mau." Olin tahu arah pembicaraan Gevan. Gevan menghela napas di seberang sana, "Olin, saya mohon, bantu saya kali ini." "Mending Om jelasin semuanya ke Tante Ajeng. Saya nggak mau ada salah paham di sini." "Cuma kali ini aja, saya mohon. Kamu dateng ya ke rumah saya nanti malam. Saya nggak bisa jemput kamu karena ada jadwal operasi, jadi saya nyusul nanti." "Yah, makin nggak mau lah saya." Olin mendengkus. "Saya cuma nggak mau bikin Mama saya kecewa, Lin." Gevan berusaha meyakinkan Olin untuk mau datang ke rumah demi memenuhi undangan makan malam dari ibunya. Jika Olin menolak, maka Ibunya akan kembali beraksi nanti. Gevan juga tidak mau mempermainkan emosi wanita itu. "Ya harusnya dari awal jangan bohong dong, Om. Jangan saya juga, kan Om Gevan ceweknya banyak, kenapa harus saya?" "Lin...," "Udah ya, Om. Saya mau kerja lagi." Tama menerima ponselnya dengan bingung. Dia mencoba menebak apa yang terjadi pada Olin dan Gevan. Sejak kapan mereka menjadi sedekat ini? "Ada apa sih, Van?" tanya Tama pada Gevan saat telepon masih tersambung. "Gue mau minta tolong sama lo. Dengerin baik-baik." Tama mendengar ucapan Gevan dengan seksama. Dia masih menatap Olin yang menunggunya selesai berbicara dengan Gevan. Lagi-lagi Tama dibuat bingung, tapi tak urung dia juga mengangguk menuruti permintaan Gevan. "Oke," ucapnya singkat dan panggilan pun berakhir. "Udah selesai kan, Mas? Kalau gitu saya kerja lagi ya?" "Tunggu." Tama menahan Olin, "Sore ini sampai nanti malem kamu nggak udah kerja." "Maksudnya?" "Saya liburin kamu biar bisa ke rumah Gevan. Ayo, saya anter." Mata Olin membulat mendengar itu. Dia yakin jika Tama seperti ini karena ulah Gevan. "Nggak mau, Mas. Saya udah bilang sama Om Gevan kalau saya nggak mau." "Gevan nyuruh saya kasih bonus kalau kamu mau dateng." "Om Gevan bilang gitu?" Mata Olin membulat tidak percaya. "Lima ratus ribu," ucap Tama, "Cuma sebentar tapi kamu bisa dapet bonus segitu. Yang lembur pun kalah." "Serius?" "Iya, kamu bisa minta lebih nanti kalau ketemu Gevan, karena dia yang bayar." "Dasar licik!" "Gimana?" tanya Tama merasa geli dengan kekesalan Olin. "Ya udah, ayo. Terpaksa juga." Dengan menghentakkan kakinya, Olin keluar dari ruangan Tama untuk bersiap. Selain mendapatkan uang, hitung-hitung Olin juga membantu Gevan yang selalu membantunya akhir-akhir ini. *** Olin berdiri di depan pintu rumah Gevan dengan gugup. Dia sudah menekan bel beberapa kali tapi pintu tak kunjung dibuka. Apa dia terlalu awal untuk datang? Memang ini masih sore, tapi Gevan sendiri yang memintanya untuk datang sekarang. Bahkan Tama tidak perlu repot-repot untuk mengantarnya masuk. Setelah menurunkannya di depan rumah Gevan, Tama langsung kembali ke kafe. "Apa Tante Ajeng tidur ya?" Saat akan berbalik pergi, pintu rumah pun terbuka. Olin tersenyum canggung saat melihat Tante Ajeng muncul dengan apron yang melekat di tubuhnya. "Loh, Olin? Kok udah dateng, Nak? Tante masih masak loh." Olin menggaruk lehernya pelan, "Disuruh Om— Mas Gevan dateng sekarang Tante." "Dasar anak itu." "Nggak papa, Tante. Saya bisa bantu Tante masak nanti." "Nggak perlu repot-repot, Lin. Tapi karena kamu udah di sini ya udah ayo masuk,” ajak Ibu Gevan. Olin masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Dia masih merasa canggung tapi sepertinya tidak dengan Ibu Gevan. Wanita itu jauh lebih ramah dari pada sebelumnya. Olin sadar jika perubahan itu terjadi setelah Gevan mengenalkannya sebagai kekasih. Apa Ibu Gevan benar-benar sefrustrasi itu menghadapi kesendirian anaknya hingga saat ini? Olin berhenti di depan sebuah foto keluarga yang sangat besar. Hanya ada tiga orang di sana. Dua di antaranya dia yakini sebagai Gevan dan ibunya. "Itu foto Gevan waktu lulus kuliah dulu," ucap Ibu Gevan tersenyum. Dia mengingat kembali kejadian manis yang terjadi beberapa tahun lalu. "Ganteng ya anak Tante?" Wanita itu terkekeh, "Yang di samping Tante itu Papanya Gevan." "Saya belum ketemu Om, Tante." Olin mulai tersadar. Ibu Gevan tersenyum tipis, "Papanya Gevan sudah meninggal." Olin terkejut mendengar itu, "Tante, saya minta maaf." "Nggak papa kok. Papanya Gevan udah lama meninggal karena kecelakaan. Sejak saat itu Tante cuma punya Gevan. Besar harapan Tante sama dia, tapi Gevan malah bikin kepala Tante pusing," curhatnya. "Pusing kenapa Tante?" tanya Olin geli. "Ya gitu, Gevan itu bandel banget. Bahkan sampe tua gini juga susah dibilangin. Disuruh nikah nggak mau-mau." "Mungkin belum ketemu yang cocok, Tante." Ibu Gevan menyeringai mendengar itu, "Iya, untungnya sekarang udah ketemu. Jadi gimana? Kapan kalian nikah?" Olin terbatuk saat mendengar itu. Lagi-lagi dia harus dihadapkan dengan pertanyaan ini? Apa yang harus Olin katakan? Dia butuh Gevan saat ini! *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD