Suasana benar-benar penuh dengan kepiluan. Tangisan pecah di lorong rumah sakit, Bagas menangis keras sambil meremas bahu suster yang menenangkannya, sementara Bude Lasma meraung tak henti, tubuhnya lemas dalam pegangan para perawat. Histeris dan duka bercampur, memenuhi udara yang pengap dengan kesedihan. Bagas terisak kencang, matanya sembab, wajahnya memerah karena terlalu lama menangis. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan suster, berlari kecil ke arah ranjang tempat ibunya tadi terbaring. Suaranya pecah, parau khas anak kecil yang belum tahu cara merangkai kata dengan benar. “Ibu… jangan tinggalin Bagas…! Ibu bangun, Bu! Bagas janji nggak nakal lagi, Bu… Bagas janji mau belajar rajin, asal Ibu jangan pergi…” Tangannya mungil Bagas terhuyung, berusaha menggapai udara kosong seol

