Kamar Lara. “Minum dulu, Non,” ucap Mbok Asih dengan suara lembut, tangannya menyodorkan segelas air putih yang masih hangat dari dapur, seolah ingin memastikan Lara tidak hanya minum, tapi juga sedikit merasa tenang. Lara menerima gelas itu dengan jemari yang masih bergetar halus. Ia menatap sejenak permukaan air sebelum akhirnya mengangkatnya perlahan. “Terima kasih, Mbok,” ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan yang terbawa lelah. Mbok Asih kemudian beralih ke nakas di samping ranjang, membuka laci kecil yang berisi barang-barang pribadi Lara. Ia mencari dengan teliti, lalu mengeluarkan beberapa obat yang tersimpan rapi, sebelum kembali duduk di sisi ranjang dan menyodorkan tablet-tablet itu di telapak tangannya. “Ayo, diminum obat kramnya, Non,” ucapnya pelan, tapi tegas, seolah sud

