Bab 143

1457 Words

Sepanjang perjalanan pulang, Niko hanya diam membisu. Lelaki itu duduk di kursi kemudi dengan satu tangan menggenggam setir begitu kuat, sementara pandangannya lurus menembus jalanan malam yang masih cukup padat oleh kendaraan. Lampu-lampu kota memantul samar di wajahnya yang penuh luka, membuat lebam di pelipis dan sudut bibirnya terlihat semakin jelas di tengah suasana mobil yang remang. Pikirannya kosong. Atau mungkin terlalu penuh sampai ia sendiri tidak tahu harus memikirkan yang mana lebih dulu. Richard tengah mengancamnya. Dan Niko tahu betul … lelaki itu tidak pernah main-main dengan setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Jika Richard sudah memberi ultimatum, maka itu artinya segalanya benar-benar bisa terjadi kapan saja. Terlebih kalimat terakhir yang diucapkan ayahnya sebel

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD