Tubuh Lara terkapar di sana, pucat dan tak berdaya. Darah mengalir dari sudut bibirnya, membentuk genangan kecil di lantai. Luka-luka lama yang sempat memudar kini dipenuhi dengan memar-memar baru. Bajunya kusut, nafasnya terengah, nyaris tak terdengar. Niko berjongkok cepat, tangannya gemetar saat menyentuh wajah Lara. Dan begitu ia mengangkat tubuh rapuh itu, darah segar kembali keluar dari mulut Lara. “S h it! No, no, no…” Niko merutuk, suara tercekat di tenggorokannya. Jantungnya berdegup liar, seakan ingin meledak. Perlahan, kelopak mata Lara terbuka. Tatapannya kosong, tapi air mata menetes tanpa henti. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya menatap Niko dengan pilu yang dalam. “Lara… tahan sebentar, please. Just hold on for me. Aku bawa kamu sekarang juga!” Niko berbisik

