“Mas ….” Suara Marinka terdengar dari ambang pintu, lembut namun cukup jelas untuk memecah ketegangan yang sebelumnya memenuhi ruangan itu. Kehadirannya seperti menarik Lara kembali pada kenyataan yang tak bisa lagi ia hindari. Seketika itu juga, Lara menunduk, menyembunyikan wajahnya, tangannya bergerak cepat namun tetap hati-hati mengusap sisa air mata yang belum sepenuhnya kering. Ia mengambil jarak, mundur perlahan dari dekat Niko, seolah ingin menghapus jejak kedekatan yang barusan terjadi. “Loh, Lara … kamu di sini?” Nada suara Marinka terdengar heran, bercampur dengan kebingungan yang belum sepenuhnya ia pahami. Lara hanya mengangguk pelan, tubuhnya kaku, berdiri canggung saat langkahnya berpapasan tepat di samping wanita itu. “Tadi Mas Roy suruh aku bawain kotak P3K buat Mas Ni

