Lara meneguk ludahnya susah payah. Rasa pahit seolah tertinggal di tenggorokannya, menolak untuk hilang. Dadanya terasa sesak—bukan hanya karena napas yang tertahan, tetapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang seperti merobek perlahan dari dalam. Hatinya seperti diremas tanpa ampun, dipelintir tanpa jeda. Hancur—itu satu-satunya kata yang mampu menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini. Bukan hancur yang berisik, bukan hancur yang meledak-ledak. Tapi hancur yang sunyi, yang diam-diam meruntuhkan segalanya dari dalam, tanpa suara, tanpa perlawanan. Air matanya jatuh perlahan di tengah keheningan. Tidak ada isakan, tidak ada suara yang mengiringi runtuhnya perasaannya. Hanya cairan bening yang mengalir begitu saja, seolah tubuhnya sudah tidak mampu lagi menahan apa pun. Namu

