20

1619 Words

Morella kini sangat berbeda dengan Morella yang Daniel ingat dulu. Sudah lebih dari dua puluh tahun berlalu. Semua berubah. Manusia, bangunan-bangunan, kenangan, tidak ada lagi yang sama. Mereka berdua menyusuri jalanan Morella dalam diam. Diva cukup paham untuk tidak bertanya. Daniel sendiri belum siap untuk bercerita. Kepalanya masih penuh dengan memori masa kecilnya. Ia bisa mengingat dengan jelas di sudut mana ia duduk menyemirkan sepatu milik orang-orang. Kadang, dalam satu hari ia akan beruntung mendapatkan banyak pelanggan. Namun tak jarang pula, tidak ada satu pun orang yang mau menggunakan jasanya. Hingga ia harus pulang dengan tangan hampa dan mendapatkan amukan ibunya. Daniel menghirup napas dalam-dalam dan memejamkan matanya. Jika bukan karena tangan Diva yang ada dalam gengg

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD