PART 5 : PERAN SEORANG ISTRI DAN IBU

827 Words
Suasana kamar yang berbeda menyambut Fifi ketika membuka kedua matanya. Biasanya ketika perempuan itu membuka matanya akan di sambut oleh warna pink di setiap sudut kamarnya. Sekarang, yang perempuan itu lihat warna gelap yang kontras sekali dengan warna kamarnya dahulu. Ingatkan Fifi untuk mengubah warna kamarnya ini agar suasana kamar yang di tinggalinya sekarang lebih bewarna tidak seperti sekarang yang terlihat sangat mencekam dan juga sangat kaku seperti pemilik rumah ini. Fifi yang ingat akan sesuatu pun langsung bergegas mencuci muka dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Meski perempuan itu belum bisa menerima Raihan sebagai suaminya, namun tugas seorang istri harus tetap di jalankan pikirnya. ***** Raihan yang baru saja terbangun dari tidurnya pun mencium bau masakan yang sangat enak. Pikirannya pun seketika mengarah kepada Fifi. "Apa dia yang masak?" gumam Raihan dan beranjak dari tempat tidurnya. Sebelum keluar kamar, lelaki itu pun mencuci wajahnya terlebih dahulu dan selanjutnya melangkahkan kakinya menuju dapur. Raihan yang sudah berada di dapur pun melihat seorang perempuan yang sangat di kenalnya sedang memasak. "Ehem ..." Fifi yang sedang asyik memasak pun terlonjak kaget ketika mendengar suara deheman seseorang di belakangnya. "Kak Raihan! Sejak kapan kakak di situ?" "Baru aja. Masak apa?" "Nasi goreng." Setelah mengucapkan itu, Fifi melanjutkan kembali acara masak memasaknya dan menghiraukan Raihan yang berdiri di sana. Raihan lalu memutuskan pergi dari tempat tersebut dan memilih untuk ke ruang keluarga sambil membaca koran. Fifi yang sadar jika Raihan sudah tak berada di sana pun hanya mengendikkan bahunya dan menyiapkan masakannya yang sudah selesai ke meja makan. Kini, di meja makan sudah ada Raihan dan Fifi yang sedang memakan sarapan mereka dengan hening. Hanya terdengar suara sendok dan juga garpu yang bersentuhan dengan piring. Dari awal duduk di meja makan tadi, keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara. Raihan yang sudah menghabiskan sarapannya itu pun sontak menatap Fifi. "Nanti siang kita akan menjemput Davina." Fifi yang tau jika lelaki di depannya itu berbicara padanya pun menganggukan kepalanya sambil terus melanjutkan makannya. Sedangkan Raihan langsung beranjak dari kursinya. Namun, sebelum melangkah lelaki itu menatap Fifi kembali. "Terima kasih sarapannya ..." Setelah mengatakan itu, Raihan melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang rumah meninggalkan Fifi yang menatap lelaki tersebut dari belakang dengan tatapan yang sulit di artikan. ***** Siang hari pun tiba, kini pasangan suami istri sedang berada di perjalanan untuk menjemput Davina di rumah Ayah Dimas. Sedari tadi baik Fifi maupun Raihan tidak ada yang mengeluarkan suara. Sampai pada akhirnya, suara dehemen Fifi membuat lelaki itu menengok ke samping kirinya. "Boleh nyalain musik gak?sepi banget soalnya. Aku gak bisa kalau suasananya sepi kaya gini, bawaannya sakit perut." Raihan yang mendengar ucapan perempuan di sampingnya pun menganggukan kepalanya. "Silahkan." Tangan Fifi pun segera menyalakan musik yang berada di depannya. Dan sepanjang perjalanan menuju ke rumah Ayah Dimas, keduanya saling diam tidak ada yang berbicara selain musik yang mengalun dari dalam mobil tersebut. Tak berapa lama, keduanya pun sampai di kediaman Ayah Dimas. Fifi pun segera turun meninggalkan Raihan yang masih berada di dalam mobil. "BUNDA ... AYAH ..." teriak Fifi. "MAMA ..." teriak seseorang dari arah samping. Grep! Pelukan yang di terima oleh Fifi secara mendadak itu membuat perempuan tersebut terdiam kaku, apalagi ketika mendengar teriakan dari gadis itu. Mama, satu kata yang membuat seluruh tubuh Fifi merasa kaku tak bisa bergerak. Fifi sangat-sangat kenal dengan suara teriakan tersebut. Suara teriakan yang berasal dari keponakannya, Davina. Dulu statusnya hanya sebagai tante dari gadis tersebut, namun sekarang status itu berubah menjadi Ibu sambung dari sang keponakan. "Mama ... " panggil Davina Fifi pun membalikkan badannya menghadap ke arah gadis tersebut. "D-davina manggil Mafi dengan sebutan apa tadi?" Davina yang mendengarnya pun seketika melepaskan pelukan tersebut dan menundukkan kepalanya. Gadis tersebut berpikir jika perempuan yang di panggilnya dengan sebutan Mama itu tidak menyukai panggilan tersebut. "Davina manggil Mama karena sekarang Mafi udah jadi Mamanya Davina. Mafi gak suka ya di panggil kaya gitu?kalau Mafi gak suk---" "Mafi suka kok. Mafi cuma kaget aja Davina manggil Mafi kaya gitu. Biasanya Davina kan suka panggil Mafi makanya Mafi agak sedikit kaget aja dengan sebutan itu. Tapi Mafi suka kok di panggil kaya gitu. Mafi kan udah jadi Mamanya Davina, jadi mulai sekarang dan seterusnya Davina boleh panggil Mafi dengan sebutan Mama" potong Fifi dan tersenyum menatap gadis yang berada di depannya. Davina yang mendengar ucapan tersebut pun mengangkat kepalanya dan kemudian memeluk Fifi dengan eratnya. "Davina seneng karena Davina mempunyai Mama lagi dan Davina seneng karena yang jadi Mamanya Davina adalah Mama Fifi bukan yang lain. Davina sayang sama Mama." "M-mama juga sayang banget sama Davina. Sekarang Mamanya Davina ada dua, yaitu Mama Indah dan juga Mama Fifi" ucap Fifi. Tanpa kedua orang itu sadari, sedari tadi interaksi keduanya di lihat oleh Raihan, Ayah Dimas dan juga Bunda Mayang. Raihan yang melihat jika sang anak sangat menerima dengan baik kehadiran Fifi sebagai Ibu sambungnya itu pun berpikir kembali. Apakah dirinya juga harus bisa menerima kehadiran Fifi di dalam hidupnya sebagai seorang istri dan juga Ibu sambung dari sang anak?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD