PART 8 : SEMUA DEMI DAVINA

1077 Words
Keesokan harinya, seperti pagi-pagi sebelumnya keluarga kecil Raihan tengah melakukan sarapan pagi mereka dengan tenang. Di ruang makan tersebut hanya terdengar suara dentingan sendok yang bersentuhan langsung dengan sebuah piring. Mereka memang sudah terbiasa untuk tidak berbicara ketika sedang berhadapan dengan makanan. Sampai semua orang yang melakukan sarapan selesai, barulah mereka bisa mengeluarkan suaranya. "Mama ... Papa ..." Panggilan dari Davina membuat kedua orang yang di panggil tersebut sontak menatap ke arah gadis itu. "Kenapa sayang?" tanya Fifi. "Davina lupa bilang kalau hari ini ada pertemuan antara orang tua dan guru di sekolah. Mama sama Papa bisa datang ke sekolah?" tanyanya sambil menatap ke arah kedua orang tuanya. "Davina, maafin Papa ya. Papa hari ini ada beberapa jadwal operasi di rumah sakit. Jadi, Papa gak bisa datang ke sekolah" ucap Raihan menatap penuh sesal ke arah sang anak. "Davina ngerti kok, Pa. Papa lakuin aja pekerjaan Papa karena mereka lebih butuh Papa di sana. Masih ada Mama kok" sahutnya sambil tersenyum. "Iya, nanti Mama aja yang datang ke sekolahnya Davina. Mama hari ini gak kemana-mana kok" timpal Fifi. "Tuh kan Pa, tenang aja masih ada Mama. Papa gak usah merasa bersalah sama Davina. Davina ngerti kok pekerjaan Papa. Davina malahan bangga punya Papa Dokter kaya Papa yang bisa mengobati dan menyembuhin orang lain. Malahan Davina pengen jadi Dokter kaya Papa juga." Perkataan dari sang anak membuat Raihan menyunggingkan senyumnya. Anaknya itu selalu berpikir bijak dan itu membuat dirinya merasa bangga mempunyai anak seperti Davina. Namun, meski begitu tak ayal dirinya juga terkadang merasakan perasaan bersalah tiap kali tidak bisa hadir ke acara sekolah sang anak. Pekerjaannya sebagai seorang Dokter membuat waktunya untuk bertemu sang anak atau pun berkumpul keluarga menjadi berkurang. Bahkan terkadang di hari libur sekali pun dirinya akan pergi ke rumah sakit jika pasien yang menjadi tanggung jawabnya dalam kondisi yang bisa di bilang kritis atau darurat. "Kalau Davina pengen jadi Dokter kaya Papa, Davina harus rajin belajar dan gak boleh malas. Kunci keberhasilan itu berasal dari diri kita sendiri. Kalau diri kitanya aja malas untuk melakukan sesuatu, gimana kita bisa berhasil untuk mencapai keinginan itu" nasehat Raihan. "Iya Papa, Davina ngerti" ucapnya. "Papa juga minta maaf ya sayang karena Papa gak bisa hadir di pertemuan antara guru dan orang tua di sekolah Davina" sahut Raihan. "Iya Papa, gak papa kok" ucap Davina dengan tersenyum. Fifi yang sedari tadi melihat interaksi antara Ayah dan anak itu pun tanpa sadar mengeluarkan senyumnya. ***** Dan disini lah Fifi berada di sekolah Davina untuk menghadiri pertemuan antara guru dan orang tua murid. Fifi yang sedang mencari kelas sang anak pun tersentak ketika mendengar teriakan dari arah belakangnya. "MAMA ..." Fifi pun membalikan badannya kebelakang dan terlihat sang anak yang berdiri di belakangnya dengan tersenyum dan kemudian berjalan menghampiri dirinya. "Davina kira Mama gak jadi datang ke sekolah" ucapnya ketika sudah berada di dekat sang Mama. "Tadi Mama kejebak macet sayang. Soalnya jalan yang biasanya Mama lewatin ke sekolah kamu jalan itu di tutup gara-gara orang pada demo" sahut Fifi. Davina yang mendengarnya pun menganggukan kepalanya. "Yaudah yuk Ma, kita ke kelas Davina. Di sana orang tua udah pada ngumpul." Setelahnya kedua Ibu dan Anak itu melangkahkan kakinya menuju ruang kelas gadis tersebut. Setelah dua jam lamanya pertemuan itu berlangsung, akhirnya pertemuan tersebut berakhir dan semua murid di pulangkan lebih awal oleh pihak sekolah. Kini, Fifi dan Davina pun sudah berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang ke kediaman mereka. Tak berapa lama, mobil keduanya memasuki sebuah pagar bewarna hitam yang mana di saat bersamaan mobil bewarna putih juga ikut masuk ke sana. Davina yang sudah turun dari dalam mobil pun menghampiri seseorang yang berada di dalam mobil putih tersebut. "Papa ..." panggil Davina pada sang Papa yang baru saja keluar dari dalam mobil. Raihan yang melihat itu pun membawa sang anak ke dalam pelukannya. "Kok Papa pulang cepat sih?bukannya kata Papa tadi Papa ada operasi ya?" tanya Davina ketika pelukan tersebut terlepas. "Salah satu jadwal operasi Papa di batalkan karena pasien yang akan Papa operasi meninggal dunia" jawab Raihan. "Pasti keluarga pasien itu sangat sedih karena di tinggalkan oleh orang terdekat mereka" ucap Davina pelan. "Yang namanya sedih itu pasti. Tapi mereka juga harus ikhlas melepaskan kepergian orang tersebut. Dan kepergian seseorang dari dunia itu sudah menjadi jalan hidup atau takdir mereka masing-masing. Papa sebagai seorang Dokter hanya bisa membantu dan mencegah kepergian orang itu untuk sementara, karena selanjutnya hanya Tuhan lah yang mengatur hidup dan matinya seseorang" sahut Raihan. "Davina semakin bangga sama Papa" ucapnya Raihan yang mendengarnya pun sontak tersenyum. "Yaudah yuk kita ke dalam aja." "Ayo, Pa" ucap Davina dan menggandeng tangan besar sang Papa berjalan ke dalam rumah menyusul sang Mama yang sedari tadi sudah masuk ke dalam. Malam hari pun tiba, seperti biasa seusai makan malam selesai keluarga kecil itu memilih bersantai di ruang keluarga dengan Davina yang mengerjakan pekerjaan rumahnya di bawah sofa yang di duduki oleh kedua orang tuanya. "Malam ini Davina mau tidur sama Papa dan Mama ya ..." Ucapan dari Davina membuat kedua orang yang tadi fokus menonton tayangan di televisi memalingkan tatapan mereka ke arah gadis tersebut. "Tumben banget Davina mau tidur sama Papa dan Mama?" tanya Raihan. "Davina pengen aja. Kayanya udah lama Davina gak tidur bareng-bareng sama Papa dan Mama. Dulu sebelum Mama Indah meninggal, Davina sering kan tidur bareng sama Papa dan sama Mama kalau Davina nginap di rumah kakek. Makanya Davina pengen malam ini tidur sama kalian." Jawaban dari Davina membuat Raihan dan juga Fifi seketika terdiam. Keduanya membenarkan jika sebelum kepergian istri dan juga sang kakak, Davina memang sering tidur bersama-sama dengan mereka. Ada rasa tak tega di hati mereka jika menolak permintaan tersebut. Mungkin kali ini keduanya harus membuang jauh-jauh ego yang ada di dalam hati mereka untuk Davina. "Baiklah, hari ini kita bakal tidur bertiga" ucap Raihan. Davina yang mendengar itu pun memekik senang. Sedangkan Fifi langsung menatap laki-laki tersebut. Raihan yang sadar jika Fifi menatap dirinya pun mencoba menghiraukan perempuan itu dan menatap ke arah sang anak dengan tersenyum. "Kalau Davina udah selesai ngerjain pr nya, Davina sikat gigi sama cuci kakinya gih terus ke kamar Papa." "Davina udah selesai kok Pah ngerjain pr nya. Kalau gitu Davina mau beresin buku-buku ini dulu terus ke kamar" ucap Davina. Setelah tidak ada keberadaan sang anak di sana, Raihan lalu mengalihkan tatapannya ke arah Fifi yang sejak tadi terdiam. "Untuk malam ini saja, demi Davina." Fifi kemudian menatap lelaki yang berada di sampingnya itu dengan lekat. "Baiklah. Mari lakukan ini demi Davina."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD