Raihan saat ini sudah berada di rumah setelah menjemput Davina di sekolah. Lelaki itu bersyukur ketika menjemput Davina tadi ada seorang guru yang menemani sang anak di sana. Rasa lega dan pikiran-pikiran buruk pun langsung sirna seketika melihat itu semua. Kini, lelaki itu tengah duduk di ruang tamu sambil membaca beberapa buku yang berada di depannya. Sampai pada akhirnya, lelaki tersebut tersentak ketika sebuah ponsel yang menampilkan room chat sebuah pesan yang di letakkan secara kasar di depan mejanya.
"Mana pesan yang kak Raihan kirim ke aku?gak ada" sentak Fifi dengan tangan bersedekap di d**a.
Raihan yang sudah menormalkan rasa kagetnya itu pun langsung menatap perempuan yang berada di depannya. "Jelas-jelas saya sudah mengirimkan pesan itu kepada kamu. Paling-paling pesan tersebut sudah kamu hapus terlebih dahulu."
Fifi yang mendengar penuturan itu pun seketika berdecih. "Kalau pun pesan yang di kirim kak Raihan emang sudah terkirim ke ponsel aku, pasti pesan tersebut bakalan muncul. And see, pesan itu gak ada sama sekali. Kak Raihan yakin udah ngirim pesan itu ke aku?"
"Saya yakin sudah mengirimkan pesan tersebut kepada kamu" bantah Raihan.
"Oh ya? coba kita buktikan. Sekarang lihat room chat aku di ponsel kakak" suruh Fifi.
Raihan pun langsung membuka room chat mereka berdua di ponselnya dan ternyata pesan yang di kira dirinya sudah terkirim nyatanya tidak sama sekali terkirim dan pesan itu masih tersimpan di room chat tersebut.
"Gimana?"
Raihan pun seketika menatap Fifi dengan pandangan bersalahnya. "S-saya mi---"
"Kalau kak Raihan ingin meminta maaf, aku udah maafin kak Raihan walaupun kata-kata kakak tadi siang nyakitin aku. Tapi gak papa" potong Fifi dan kemudian berlalu meninggalkan lelaki itu sendirian di ruang tamu.
Raihan menatap kepergian Fifi dengan rasa bersalah yang bersarang di dalam hatinya. Jujur saja, kata-kata yang di keluarkan oleh dirinya tadi siang adalah sebuah ketidaksengajaan karena merasa panik ketika mengetahui sang anak belum berada di rumah. Namun, ternyata tanpa sadar dirinya malah menyakiti perasaan orang lain karena perkataannya itu.
*****
Malam hari pun tiba, kini keluarga kecil itu baru saja menyelesaikan makan malam mereka dan kini ketiga orang tersebut tengah berada di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Mama ..."
Suara dari Davina membuat Fifi dan juga Raihan sontak menatap gadis tersebut.
"Iya Davina, kenapa?"
"Mama sama Papa udah nikah kan?"
"Mm, udah. Emang kenapa sayang?"
"Bukannya kalau orang udah nikah itu tidurnya sekamar ya? kok Davina lihat Mama dan Papa tidurnya misah? Bukannya dulu Mama Indah dan Papa juga tidurnya barengan ya ..."
Ucapan dari Davina membuat Fifi dan Raihan menjadi terdiam seketika. Memang semenjak kepindahan Fifi kerumah ini, perempuan itu menggunakan kamar yang terpisah dengan Raihan sampai dengan sekarang.
"Itu karena--- karena ranjang di kamarnya Papa rusak jadi cuman bisa satu orang aja yang bisa tidur di sana, terus Papa kamu gak terbiasa tidur dikamar yang bukan miliknya. Makanya Mama dan Papa kamu tidur di kamar yang terpisah" jawab Fifi dengan asal.
Davina yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya. "Oh Gitu. Hampir aja Davina mau ngasih tau kakek, nenek, oma, opa kalau Papa sama Mama tidurnya misah-misah."
"JANGAN ..." teriak Fifi dan Raihan berbarengan.
"Jangan teriak, Davina kaget ..."
"M-maaf sayang" ucap Fifi dan memeluk sang anak.
"Davina jangan bilang-bilang sama kakek, nenek, oma, opa ya kalau Papa sama Mama tidurnya misah" sahut Raihan.
Davina pun melepaskan pelukannya dari dekapan sang Mama dan menatap sang Papa. "Emang kenapa kalau Davina bilang?"
"Em, itu karena nanti kalau Davina bilang, Papa sama Mama bakalan di marahin sama mereka. Emang Davina mau lihat Papa sama Mama di marahin?" tanya Raihan.
Gadis itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan sang Papa. "Davina gak mau kalau Papa sama Mama di marahin. Davina janji gak bilang, asal Papa sama Mama tidurnya bareng kaya sama Mama Indah dulu."
Baik Fifi ataupun Raihan pun saling berpandangan satu sama lain dan setelahnya kepala milik Raihan pun mengangguk. "Iya, nanti Papa sama Mama bakalan tidur bareng."
Fifi yang mendengar itu sontak melebarkan kedua matanya dan dengan cepat menggelengkan kepalanya. Namun, reaksi dari Fifi hanya di hiraukan saja oleh Raihan.
"Yaudah, kalau gitu Davina mau ke kamar aja ngantuk soalnya."
Setelah mengatakan itu, Davina pun pergi ke kamarnya meninggalkan dua orang yang berbeda gender tersebut.
Tak lama dari itu, Fifi pun berdiri dan berjalan melalui Raihan.
"Saya minta maaf atas ucapan saya tadi siang" ucap Raihan.
Langkah Fifi seketika berhenti ketika mendengar ucapan lelaki tersebut dan kemudian membalikan badannya seraya menatap lelaki yang kini berada di depannya.
"Aku maafin! Dan untuk ucapan kakak tadi, aku gak setuju karena dari awal kita menikah baik kakak atau pun aku menolak untuk tidur di tempat yang sama."
Setelah mengatakan itu, Fifi kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Raihan yang masih terdiam membenarkan perkataan perempuan yang berstatus sebagai istrinya tersebut.