Kebaikkan kedua ibu-ibu yang baru saja menghinanya tanpa memikirkan kebenaran, membuat Airra merasa mual dan ingin muntah.
"Ti, tidak perlu, turun di sini ... kumohon turunkan aku di sini," jerit gemetar Airra sembari memegangi mulutnya.
Segera bis berhenti dan menurunkan Airra tepat di depan sebuah mini market, Airra segera turun lalu duduk di meja yang di sediakan untuk para pengunjung mini market.
Semua tuduhan jelek mengarah ke arahnya, anehnya kenapa Airra baru mendengar hal itu sekarang?
Arief dan Airra sudah pisah selama tiga tahun, dan berita itu pastinya, tentu saja sudah menyebar dari dulu tetapi kenapa Airra baru mengetahuinya sekarang?
Dan untungnya, media dan semua orang tidak mengetahui jelas wajahnya, karena memang pernikahan serta sesudah menjadi menantu kediaman Nandra.
Airra sama sekali tak pernah di tunjukkan ke media, hanya kepada teman-teman sosialita dari ibu Arief semata.
Lalu siapa yang menyebarkan berita bohong itu? tentu saja orang yang menyebarkan sudah keterlaluan.
Kini Airra merasa sangat terpuruk, bodohnya selama tiga tahun ini ia mengira sesosok mas Arief akan menjemputnya kembali.
"Kenapa bisaa?" perkataan yang selalu berdengung di fikiran serta hati Airra.
Di telantarkan dalam kondisi mengandung, bahkan tanpa membawa barang serta uang sepersen pun, bodohnya selama ini Airra masih memiliki perasaan pada lelaki b*****t bertopengkan identitas seorang suami yang bahkan tak bisa menjalankan tugasnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Mas? kenapa begitu banyak orang yang membenci ku? dan apa maksud dari perkataan tajam mereka?" keluh Airra tak kuasa menahan tangis.
Sejak hari itu tubuh Airra kembali melemah, setiap kali kakinya melangkah setiap itu juga telinga mendengar hal buruk yang di katakan orang sekitarnya tentang dirinya.
Sungguh menyakitkan! mendengar semua hal busuk untuk dirinya sendiri bahkan dari sang bos dan teman kerjanya di hotel itu pun harus setiap hari?
Krieett ... pintu kamar terbuka, tiba tiba dua tumpukkan baju yang sudah Airra lempit sampai rapih jatuh kembali dan berantakkan.
Semua itu masih tidak bisa membangunkan Airra dari fikirannya, sampai kedua balita Vazri dan Vena mulai beraksi menaiki tubuh sang ibu.
Puk! puk! suara pukulan ke d**a Airra yang berasal dari ke empat tangan mungil serta kecil.
"Imbuu, imbuuu!"
"Hehe ... Imbuuu!"
Cengiran manis keluar dari bibir si kembar dengan ke empat tangan nakalnya yang sedari tadi terus menepuk nepuk d**a Airra.
Pipi yang menggelembung mungkin saja di perkirakan akan meledak jika di sentuh.
Airra tersadar, untuk apa ia memikirkan hal yang akan membuatnya sakit dan tidak bisa bekerja, apa lagi tidak bisa menjaga si kembar?
Tidak Airra, kau tidak boleh terhanyut dalam fikiran bodoh mu itu, ayo kembali apa pun yang terjadi nanti, cukup hanya kehadiran si kembar sudah cukupkan?
"Ya, ampun maaf ibu mengabaikan kalian ya?"
"Ngomong-ngomong kenapa mereka bisa masuk bukan kah pintunya tertutup?"
"Jangan-jangan ada pencuri?" segera Airra meletakkan kedua anaknya di atas ranjang yang sedari tadi menimpahi tubuhnya.
Airra melihat ke arah sekitar tidak ada benda yang bisa ia gunakan, kini hanya sebuah remot Tv saja yang ia gunakan sebagai senjata.
"Dengar anak ku, kapten akan maju! lindungi ibu dengan senyum kalian," seru Airra di ikuti ekspresi bodohnya.
Sementara ibunya sedang bergumam tak jelas dan sok kuat padahal sekujur tubuhnya gemetar, si kembar yang belum memiliki otak full, hanya bisa menatapi sembari mengenyot ibu jari mereka masing-masing.
"Hentikan wajah bodoh mu itu, kau sedang memberi pelajaran ekspresi konyol ya?" sebuah suara terdengar tegas namun juga lembut yang saat ini di perkirakan sedang berdiri di depan pintu yang terbuka.
Airra tahu suara siapa ini dan wangi-wangian yang terus saja membuat hidung Airra belenger sangking tak kuatnya.
"Sial, ku fikir siapa kau membuat ku terkejut dasar!" gerundel Airra mulai kembali tenang.
Rikki berjalan mendekati Airra, seorang pria bujang berjalan masuk ke kamar seorang wanita yang di katakan janda bukan perawaan juga bukan.
"A-apa kah aku saja yang memikirkan hal aneh? kenapa pria ini sangat santai masuk ke kamar wanita? apa lagi aku hanya sedang menggunakan tentop dan celana pendek seperti ini!" batin Airra mulai berjalan mundur.
Tak terasa kaki Airra sudah tertahan oleh ranjang, membuat Airra terduduk di pinggir ranjang itu, di saat itu juga Rikki berdiri tepat di depan Airra.
Semakin lama dan semakin lama tubuh Rikki menunduk, Airra sempat ingin mendorong tubuh Rikki yang hampir membuat Airra ingin telentang di ranjang.
"Wah, pipi kalian semakin melempung apa imbu kalian ini royal terhadap makanan ya?" ejek Rikki dengan juluran tangannya yang memegang pipi Vena yang saat ini tepat berada di belakang punggung Airra.
Airra terpaku, hampir saja ia salah paham dan mungkin membuat hubungannya akan renggang dengan Rikki si sosok pria yang selama 3 tahun selalu ada untuknya.
Tiba-tiba Airra mendapatkan serangan dari si kembar yang saat ini mulai merayapi punggung Airra secara bersamaan, membuat tubuh Airra menyondong ke arah d**a Rikki.
Hal hasil secara tidak sengaja, baju Rikki yang berwarna putih pun terkena ceplakan lipstik Airra.
Sementara Rikki yang merasakan sosoran bibir yang mengenai d**a bidangnya itu hanya terdiam sangking terkejutnya.
"Mampus! ta-tadi barusan!" gumam Airra memandang terkejut ceplakan bibirnya yang saat ini berada di kaos Rikki.
Rikki serta Airra saling menatap, keduanya sama sama terkejut hampir tercipta suasana keheningan di sana, suasana hening itu hancur ketika tangan mungil Vazri menjambak rambut panjang Airra.
Membuat Airra tertarik ke belakang dan kembali menyadarkan lamunan Rikki.
"Sa-sayang lepaskan, kenapa harus menjambak Imbu," rintih Airra mulai memegang tangan mungil Vazri yang saat ini sedang menjambak rambutnya.
"Lepaskan ya, kemari mau paman gendong?" rayu Rikki mulai melebarkan tangannya.
Vazri pun melepaskan tarikkannya, kini rambut Airra semakin berantakkan dan terlihat kusut, Rikki menahan tawa melihat Airra yang hampir saja menangis.
"Berhenti menertawai ku dasar!" gertak Airra.
"Haha ... kau kan paling tidak suka di jambak, jika Vazri seorang pria dewasa kau pasti akan memakannya," ledek Rikki.
"Itu lu kan? waktu SMA! saat itu aku puas melempari mu pakai buku! Ohh ... lihat nih Vazri kau buat rambut cantik imbu mu kusut!" gerundel Airra sembari memisahkan rambut yang kusut.
Tiba tiba tangan Rikki mengelus lembut kepala Airra, diikuti dengan senyuman hangat khas Rikki yang berhasil menjadikannya pria tertampan semasa SMA.
"Berhenti, kau menambah kusutnya!" geram Airra menatap tajam Rikki.
"Haha, mandi sana dan ganti pakaian bekas yoga itu, atau kau akan terus memamerkan badan mu?" ujar Rikki dengan wajah mengejeknya.
Airra langsung berdiri dengan tegak, ia baru menyadari pakaian apa yang sedari tadi ia perlihatkan kepada Rikki.
Oh tidak Airra! jika orang lain melihat ini mungkin kau akan di cap sebagai qanita penggoda bujangan!
"A-aku mandi dulu, tolong jaga Vazri dan Vena sebentar," ucap terbata bata Airra segera menghilang.
Setelah membersihkan badan Airra dan Rikki serta si kembar makan bersama, di ruangan makan yang tidak begitu besar malah tercipta suasana bahagia yang di ikuti dengan ketawa ketiwi hangat.
Sementara itu di sebuah ruangan makan mewah serta besar yang sekelilingnya di sinari cahaya lampu mewah, tetapi begitu terasa aura gelap yang terus saja menyelimuti.
"Ibu senang kau sudah bertunangan dengan Binar, apa kau tau semua teman Ibu sangat iri," ujar sesosok wanita yang dari atas sampai bawah tubuhnya tertempel semua aksesoris mahal.
"Bagus jika Ibu mendapatkan rasa senang dari sebuah rasa iri," sahut celetuk Arief dengan segelas wine di tangannya.
Nadira tersenyum kecil, walaupun perkataan Arief terkadang terasa seperti racun namun, semua keinginan Nadira selalu di penuhi.
"Kau tahu kan ... bukan itu maksud Ibu hmm soal Binar, kau sudah bertunangan jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Nadira seketika membuat Arief berhenti menggoyang goyangkan gelas winenya.