6. Berita tak sedap

1269 Words
Siang hari di Apartemen Airra, setelah selesai mematikan telephone, ia bergegas merapihkan rumah, pembantu yang ia pekerjakan. Sedang pulang ke kampung halamannya, di karenakan ibunya dari sang pembantu sakit parah, tentu saja Airra membiarkan pembantunya pulang. Di saat detik-detik seperti itu seorang anaklah yang harus berada di samping sang ibu. Airra yang dari kecil tidak memiliki ibu bahkan ayah, membuatnya menjadi lebih perduli apa pun yang berhubungan dengan tugas sebagai orang tua. Walau Airra, harus kesusahan karena mengurusi si kembar dan rumah yang selalu berantakkan atas kelakuan si kembar yang sudah mulai aktif keingin tahuannya. Ap lagi pernyataan bahwa Airra harus menafkahi kedua bayi kembarnya tanpa adanya sosok kepala keluarga. "Huft, akhirnya selesai kuharap Dek Rosa cepat kembali," hela Airra yang sudah selesai melempit pakaian yang baru ia ambil dari jemuran. Airra mulai membaringkan tubuhnya, berniat meluruskan kembali tulang-tulang yang bengkok akibat banyak sekali pekerjaan rumah yang harus di lakukan dengan posisi jongkok atau menunduk. Memejamkan mata dengan menarik nafas pelan-pelan merilekskan otak sejenak, lalu mulai membuka matanya kembali. Ia menatap langit-langit atap kamarnya, kini Airra baru menyadari selama ini ia terlalu sibuk sampai tak memperhatikan warna langit-langit kamarnya. "Selama tiga tahun ini, apa aku sesibuk itu? tak menyangka waktu berlalu begitu cepat ya Mas, bahkan sekarang kau sudah memiliki tunangan," Airra tersenyum miris, pandangannya kini jelas terlihat sangat kecewa, ketika ia mendengar untuk pertama kali, bahwa sang suami sudah bertunangan dengan wanita lain. Jelas saja saat ini Airra dan Arief masih bersetatus suami istri. Seminggu yang lalu saat, sebelum Airra bertemu mas Arief di lorong hotel. Airra selama tiga tahun trakhir selalu sibuk dengan pekerjaan serta merawat dua baby kembar yang ia lahirkan. Mengemban tugas sebagai seorang ibu si kembar juga sebagai seorang kepala keluarga, sangatlah berat untuk Airra yang bahkan tidak memiliki apa pun di dunia. "Rik, kayanya gua mau cari kontrakkan aja deh," ucap Airra. "Loh kenapa Ra? keluarga gua ngerawat lu baik-baikkan? atau sepupu gua buat lu susah?" tanya Rikki yang jelas terkejut setelah mendengar Airra ingin pindah. Selama Airra pergi dari kediaman Nandra, Rikki yang membantu merawat Airra tanpa sepengetahuan Arief di dalam rumah yang Rikki tinggali bersama adik dari ibunya yang sudah meninggal serta satu sepupu wanitanya yang bernama Marisa. Bahkan Rikki menjalankan tugas sebagai seorang ayah dari bayi yang Airra lahirkan tanpa menyandang setatus apa pun dengan Airra. "Enggak kok, Risa baik bangat malah gua ngerasa jadi beban di keluarga lu, gua mau coba biayain kedua anak gua sendiri Rik, gua harap lu setuju," "Gua nggak mau ngesusahin lu terus, juga gua ngerasa tabungan dari hasil gua kerja cukup," ujar Airra menatap Rikki dengan wajah bersungguh sungguhnya. Rikki mengetahui sifat serta semua tentang Airra, karena sedari SMA sampai kuliah ia dan Airra sangatlah akrab. Sudah pasti jika Airra ke hendaki, orang lain tak mungkin akan bisa menghalanginya, jelas saja sikap Airra berbeda dari wajah serta kelakuannya yang terlihat lemah sebenarnya ia lebih gigih dari siapa pun. "Huft, kau masih keras kepala ya walau si kembar sudah berusia 3 tahun," "Baiklah, gua nanti yang bantu lu beli apartemen, dan gua juga yang cari, pokoknya harus dekat dari rumah," paksa Rikki menegaskan dengan tepat agar Airra tak bisa membantah. Apartemen? tentu saja Airra agak tidak setuju, tabungannya mungkin tak akan cukup untuk membeli sebuah apartemen. Apa lagi jika untuk menyewa dalam 2 bulan saja kurang, bagaimana bisa jika untuk membeli? "Bentar Rik, cariin kontrakkan kecil saja lagian gua cuman tinggal bertiga itu pun sama kedua baby," tolak Airra. "Kau baru memikirkannya bahwa tindakkan mu salahkan?" "Jika uang, aku akan meminjamkannya lagi pula sekarang banyak penculikkan anak, jika Vazri dan Vena tinggal di lingkungan biasa itu akan sangat bahaya," "Nanti aku akan mencarikan pembantu yang bisa membantu mu, aku tahu tugas mu berat Airra, tetapi fikirkan juga kondisi mu, tentunya kau tak ingin kedua anak mu bernasib sama seperti diri mu kan?" tanya Rikki sembari meneguk kopi yang ia buat. Airra seketika merenung, kondisi tubuhnya sering sekali drop jika tubuhnya merasa sangat lelah. Setelah Airra fikir-fikir, yang di katakan Rikki benar, jika kedua baby yang menjadi nyawanya hilang dan lagi jika kondisi tubuhnya memburuk bisa saja membuat kedua si kembar benar-benar akan tidak memiliki orang tua. Airra tak ingin itu terjadi, memang semua yang di lakukan manusia harus di ikut sertai dengan uang yang mengalir. "Yasudah, di cicilkan? jangan pelit-pelit loh," sahut Airra menatap tajam Rikki. "Jadi rentenir deh, gua ambilnya misalkan uangnya udah kekumpul aja semuanya, soal apartemen sama pembantu gua cari secepatnya," ucap Rikki. Kini Rikki dan Airra berada di dalam lestoran di dalam hotel Castlystar di mana Rikki dan Airra bekerja. Rikki menyodorkan segelas kopi yang telah ia buat dengan resepnya sendiri spesial untuk Airra. "Bersulang, untuk masa depan," Airra mengangkat gelas kopinya ke arah Rikki dengan senyum lebar bagaikan wanita paling bahagia. Rikki menyambut sulangan Airra di ikuti dengan senyuman, kini Riki yang sedang memakai seragam kepala chef sementara Airra yang sedang memakai seragam cleaning servis terlihat sedang bersulang berharap masa depan akan lebih indah. "Aku senang melihat mu tersenyum Airra, semoga selamanya akan seperti sekarang ini," fikir Rikki menatap dalam dalam Airra. Rikki tak bisa mengantar Airra pulang, jam kerja Airra selesai sampai pada jam 8 malam, sementara Rikki akan pulang jam 10 malam bahkan terkadang sering melewati waktu batas jam kerja. Airra duduk di kursi tunggu halte bus, menggunakan heandset sebagai penutup telinga walau tak menyetel musik. Bisa di bilang, itu lah kebiasaan aneh seorang Airra jika di tempat keramaian. "Si kembar lagi apa ya, tak sabar ingin mencium pipi moccinya," angan-angan Airra dengan senyum bahagianya walau terlihat jelas wajahnya menampakkan kekesalan akibat bekerja. Melihat bus yang ia tunggu sudah datang, Airra segera naik dan membiarkan seorang ibu hamil duduk di kursinya, sementara ia berdiri dengan memegang tiang gantung agar menjaga keseimbangannya saat bis melaju. Bus sangat ramai, orang terus saja naik sampai mempadati bus yang saat ini Airra tumpangi. "Serasinya, semoga anak ku mirip seperti mereka," "Cantik dan tampan, ku dengar acara pertunanganya di gelar 6 hari lagi ya?" percakapan sesosok ibu-ibu dengan seorang ibu hamil yang saat ini Airra sedang berdiri di sampingnya. Airra mendengar perbincangan dari kedua ibu-ibu di sampingnya, tentu saja ia tidak melupakan kalau ia pun sudah menjadi ibu-ibu. "Tugas seorang Ibu, memikirkan masa depan untuk anaknya, Vazri dan Vena saat besar kira-kira cocok jadi apa ya? aku harus memikirkannya dari sekarang," fikir Airra fokus bergulat dengan otaknya. "Pengusaha Arief dan aktris Binar mereka pasti akan menjadi pasangan top dalam negara nih," Mendengar nama tidak asing dalam telinganya, sontak membuat Airra segera menengok ke arah pusat suara. Di layar kaca telephone yang saat ini ibu hamil sedang duduk di samping Airra berdiri, jelas memperlihatkan sebuah gambar mesra dua sejoli yang Airra kenal. "Apaa? tunangan?" fikir Airra sedikit syok. "Bukankah pengusaha Arief sudah pernah menikah ya? kudengar istrinya kabur," "Beritanya sih gitu, katanya istrinya kabur pas mengetahui keluarga Nandra akan jatuh miskin, tapi sayangnya itu tak terjadi," "Kasihan sih, aku kalau jadi istrinya sudah menangis darah melihat berita ini, sayangnya wajah mantan istrinya tak pernah di perlihatkan kemedia," Omongan-omongan beracun membuat Airra sampai tak kuat mendengarnya. Apa tadi? yang baru mereka katakan? Tuduhan palsu yang jelas menyalahkan untuk Airra saja, jadi media tahu bahwa Airra selama ini meninggalkan Arief karena masalah kebangkrutan? Airra tak sanggup untuk berdiri, jelas semua yang di katakan hanyalah kebohongan belaka, dan lagi semua itu sungguh mencoreng nama baiknya. Tak kuat lagi untuk berdiri, Airra hampir terjatuh namun, kedua ibu-ibu yang membicarakan serta berkomen jahat tentangnya kini malah membantunya. "Ya ampun, Mbak baik-baik saja?" "Duduk saja Mbak, gagapa biar saya saja yang berdiri, wajah Mbak kelihatan pucat," ucap si ibu hamil yang tidak mengetahui siapa wanita yang saat ini ia bantu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD