5. Tidak ada harapan

1046 Words
Begitu banyak pertikaian di dalam rumah, anehnya wanita yang bernama Binar selalu saja keluar masuk seenaknya. Dan Airra istri mas Arief malah di kurung bagaikan burung peliharaan yang tak akan memiliki impian untuk bisa terbang bebas. "Mas, aku ingin mengatakan sesuatu pada mu ... bisa ikut aku sebentar?" Airra memohon di hadapan Arief yang ketika kini sedang duduk bersampingan bersama Binar. Arief selalu mencari hiburan lewat Binar yang selalu menunjukkan sikap ceria serta lucu di hadapan Arief tanpa Arief sadari ia telah mengabaikan Airra. "Katakan saja di sini, Binar bukanlah orang luar," sahut Arief tanpa basa basi. "Tidak bisa Mas, aku hanya ingin kau yang mendengarnya," Airra sangat kekeh ia sudah menahan mengatakan itu dari dua setengah bulan yang lalu, tentang yang ingin ia katakan sebulan sebelum Arief kembali ke jakarta. Arief mengingat Airra bahkan masih tak ingin mengakaui, lalu untuk apa ia mendengarkan permintaannya? "Apa kau ingin mengakui kejadian itu Airra?" Arief bertanya pada Airra, tepat saat itu masih ada Binar duduk sebelahan di sampingnya. Airra merasa sangat malu ia terdiam, jika Arief mengatakan hal itu hanya ada mereka berdua Airra tak mungkin mengemban rasa malu pada Binar yang jelas sekali memiliki perasaan pada Arief namun, saat ini ada Binar di sana. "Bisakah sekali saja kau tak menanyakan hal itu Mas? kau fikir itu tidaklah keterlaluan?" Airra menatap Arief kecewa, sungguh menyakitkan baginya mendengar perkataan yang selalu membuat telinganya berdengung. "Kenapa Airra! kenapa kau susah sekali mengakuinya! walau kau benar-benar melakukannya aku akan memaafkan mu," teriak Arief. Teriak Arief dengan nada lantang di tambah dengan gerakkan langsung berdiri sehabis duduk, membuat tubuh Airra serta Binar tergerak karena terkejut. "Mas! tidak baik bagi mu berbicara lantang pada Mba Airra," Dengan jemari lentik Binar memegang satu lengan gagah Arief, serta sedikit menempelkan dua gumpalannya di dekat lengan Arief. Istri mana yang tak kesal melihat wanita lain melekat pada suaminya. "Mas! hentikan, kau tidak memperdulikan perasaan ku sama sekali apa?" "Kau hanya terus menuduh ku dengan prasangka buruk mu!" "Kau tidak memikirkan aku sama sekali, sakit Mas ... hati ini rasanya enggan mempertahankan cinta yang sudah tidak di balutkan dengan kepercayaan," Airra membalas perkataan Arief, terdengar tersayat perkataan yang keluar dari bibir lembut Airra. Airra mencoba menahan air mata, ia berharap suaminya akan sadar namun, yang ia harapkan tidaklah terjadi. "Kalau begitu tidak usah kau pertahankan, pergi dari hadapan ku sekarang!" Arief menatap sengit Airra, baru kali ini seorang Arief pria yang rela mengorbankan apa saja demi dirinya malah tanpa basa basi berniat mengusirnya. Rasa pedih menggerogoti batin Airra, sesak seakan rasanya sudah tidak ada lagi oksigen yang harus ia hirup. "Mas, kamu sungguh keterlaluan," Airra perlahan berdiri dan segera berjalan keluar dari ruangan yang mungkin saja menjadi pertemuan trakhir mereka, tanpa menatap sekali lagi ke arah Arief Airra berjalan dengan tegak. Di balik tubuh tegak itu, terlihat sebuah tetesan tangis Airra yang selalu jatuh memberikan jejak setiap kali Airra melangkah menjauh. Hari itu Airra pergi tanpa membawa barang sedikit pun, dan juga tidak menjelaskan tentang kesalapahaman yang pernah terjadi. Yang jelas Airra telah di usir oleh suaminya sendiri. Dari awal tidak memiliki sebuah keluarga, setelah kedatangan Arief, Airra mulai membangun sebuah keluarga namun, saat ini ketika Airra berdiri di depan gerbang kediaman Nandra, Airra kembali tidak memiliki sebuah keluarga. Dengan memegang perutnya sembari mengelus-elus pelan, Airra menatap berkaca-kaca pada sebuah bangunan mewah di depannya. "Yang ibu miliki hanyalah kamu, semuanya sudah hilang dalam sekejap," Hari itu Airra pergi, tanpa memikirkan hubungannya dengan mas Arief yang seakan di gantung. Berpisah tanpa bercerai, hal yang saat ini di alami Airra Handira, nama belakang Handira yang ia dapat setelah menikah dengan mas Arief. 3 tahun berlalu begitu cepat, di apartemen terlihat bayangan seorang wanita sedang beryoga dengan terpapar sinar matahari langsung menembus kaca dinding apartemen. Tes ... tetesan keringat bercucuran membasahi leher jenjang putih yang tampak b*******h akibat terkena keringat. Langkahan ke empat kaki mungil dengan hanya menggunakan celana dalam serta baju ketat bergambar jerapah melekat di kedua balita sekitar berusia 3 tahun. "Imbuu ... haus," "Imbu ... mimi cucu inih," suara cadel kedua balita kembar menggemaskan sedang menjulurkan dot berisi s**u ke wanita yang sedang beryoga di pagi hari. "Ya ampun, Putra dan Putri Imbu khawatir ibu kehausan ya? sayangnya Imbu tidak meminum asi Imbu sendiri," Airra tertawa setiap kali melihat anak kembarnya yang ia lahirkan tiga tahun yang lalu sangatlah menggemaskan. "Asi, Imbu endak mimi asi," oceh Vazri dengan mengaut-ngautkan jemari telunjuk kecilnya, anak laki-laki yang lahir lebih dulu dari adik perempuannya saat ini terlihat sedang memberitahu adik perempuannya. "Endak? Imbu, endak cuka mimi," sahut polos Vena adik perempuan Vazri. Kaka beradik sedang mengoceh dengan memegang dot s**u di tangan mereka masing-masing. Sementara ibunya Airra sedang mengangkat telephone yang sedari tadi berbunyi. "Halo Rik, kenapa?" Airra menjawab telephone dengan nada lembutnya seakan ia telah melupakan sesuatu. "Kenapa apanya, tiba-tiba menelphone ku sampai 7 kali! kau baik-baik saja?" Yang saat ini sedang berbicara lewat telephone dengan Airra, ia adalah adik Arief yang berbeda ibu. Rikki terkejut ketika melihat ponselnya, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Airra, ia memiliki profesi sebagai kepala chef di hotel ternama di mana Airra juga bekerja sebagai cleaning servis tentunya sangat sibuk. "Telephone?" seketika ingatan Airra kembali, ketika ia bertemu dengan suaminya di lorong hotel sedang bergandeng mesra dengan Binar. Airra tak kuasa menahan tangis, setelah pergi jauh dari tempat itu, ia segera menghubungi Rikki, karena selama 3 tahun ini Rikki lah yang membantunya agar tetap hidup. "Oh ... soal itu ya, apa kita bisa bertemu nanti siang?" tanya Airra menatap lantai sedikit terlihat redup. "Tentu saja bisa, aku akan kerumah mu ... kebetulan ada yang perlu aku bicarakan juga, dan ya katakan pada Vazri and Vena paman enak mereka datang," Sedari kecil Rikki sudah berada di samping si kembar Vazri dan Vena, berhubung ia seorang chef, Rikki sering membawa makanan enak untuk Vazri dan Vena, sejak itu lah sebuttan paman enak tercipta. Airra menoleh ke arah belakang, ia melihat kedua anak kembarnya sedang mengobrol dengan pipi gembul yang ikut bergerak lucu ke atas dan kebawah. "Haha ... akan ku samapaikan cepatlah datang mereka tidak akan bisa sabar, setelah aku mengatakannya loh," sahut tertawaan kecil Airra. "Hehe ... susah deh jadi Imbunya dua si kembar, tunggu aku di rumah, sampai nanti," Rikki mengakhiri telephonenya segera bergegas menuju kamar mandi bersiap terlihat rapih di mata seseorang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD