Hari semakin berlalu dan tibalah saat hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Alvaro. Hari ini ia akan melamar Daisy secara resmi pada keluarganya. Dan seperti yang telah dijanjikan, Renata serta Adelia ikut mendampingi pria itu. Adelia bahkan mengajak suami serta putrinya untuk menjadi saksi hari bersejarah sang sahabat.
Alvaro nampak begitu berkharisma dengan kemeja batik lengan panjang berwarna abu-abu yang senada dengan Daisy. Keduanya terlihat begitu bahagia selama acara berlangsung dan sesekali tertangkap sedang saling melemparkan pandangan malu-malu.
“You’re so beautiful.” Gumam Alvaro tanpa suara namun bisa tersampaikan pada Daisy yang sedang menatapnya.
“I know.” Balas Daisy sambil terkekeh tanpa suara pula.
Interaksi itu terlihat manis dimata orang-orang yang melihatnya. Bukan hanya keluarga, beberapa kolega Alvaro serta Daisy juga ikut menjadi saksi meningkatnya status kedua sejoli ini. Termasuk beberapa rekan kantor keduanya yang ikut khusuk memperhatikan setiap rangkaian acara.
“Itu bos kamu kan, yang?” tanya Alvaro berbisik sambil menatap seorang pria paruh baya yang menatap mereka dengan lekat.
Daisy mengikuti arah pandang tunangannya dan mengangguk mengiyakan.
“Perhatian banget bos kamu sampek bisa dateng ke acara kita!” komentar Alvaro seraya mengangguk saat pandangannya bertemu dengan orang berkedudukan tertinggi di firma hukum tempat Daisy bekerja.
“Tapi kok ngelihatinnya gitu banget sih, yang?” lanjut Alvaro dengan pertanyaannya. Ia memang melihat jika pria itu terus menatap lekat mereka seolah tanpa berkedip sedikitpun dan begitu tajam.
“Terharu mungkin. Kan aku karyawannya yang paling berdedikasi.” Jawab Daisy dengan agak terkekeh.
“Aku gak suka caranya dia liatin kita.” Alvaro melayangkan protesnya.
“Udah, biarin aja! Ada yang lebih penting daripada itu.”
Alvaro setuju, ia kembali menatap tunangannya dan tersenyum lembut sebelum kembali fokus pada setiap rangkaian acara.
Disisi lain, Renata terus memperhatikan interaksi sahabatnya dengan kekasih yang kini resmi menjadi tunangan pria itu. Ia ikut tersenyum gemas saat melihat interaksi keduanya yang terlihat canggung malu-malu dihadapan kedua keluarga besar mereka. Namun tak lama kemudian ia merasakan satu sudut hatinya terasa nyeri melihat kebahagiaan Alvaro dengan Daisy. Bukan karena ia cemburu, hanya saja Renata ragu jika dalam hidupnya akan hadir momen seperti ini nantinya. Terlebih ia juga sangat menutup hatinya dari pria manapun akibat ketakutannya pada karma.
“Lo bisa kok kayak mereka nanti!” bisik Adelia yang seolah bisa membaca pikiran sahabatnya.
Renata menatap Adelia dengan senyum yang ia usahakan sebaik-baiknya, namun bukan sahabat namanya jika tak bisa merasakan aura getir itu.
“Jangan nerbangin harapan gue tinggi-tinggi, Del. Dibawah gue gak ada matras, kalau jatuh bakal sakit banget.” Balas Renata gamang.
Adelia meraih bahu sahabatnya dan membawa gadis itu mendekat padanya. “Lo tahukan kalau gue selalu berdoa supaya lo bisa bahagia?”
Senyuman Renata semakin melebar, “nyampek gak tuh doa?” tanya gadis itu meragukan.
Pasalnya, kedua sahabat ini memang memiliki keyakinan yang berbeda. Namun bukan berarti mereka tak bisa saling mentoleransi satu sama lain. Justru hubungan mereka semakin kuat seiring berjalannya waktu.
“Nyampek lah, kan pake’ kurir! Lihat aja, gak lama lagi, lo yang bakal ada di posisi ini! Gue jamin.” Jawab Adelia mantap.
“Apa jaminan lo?”
“Deretan cowok yang siap gue kenalin buat lo setelah kita pulang dari sini.” Bisik Adelia dengan nada menggoda.
Renata langsung melepaskan tangan Adelia yang ada dibahunya dan sedikit menjauh dari ibu beranak satu itu. Matanya memicing tak percaya dan ada sedikit rasa kesal dalam hatinya.
“Kok, lo-“
“Udah waktunya gue keluarin stok-stok cowok grade A yang minta dikenalin ke lo.” Adelia memotong ucapan Renata yang terkejut. “Mau ya, nemuin mereka! Cuma ketemu aja dulu, gak harus lanjut kalau lo beneran gak cocok!”
Renata menghela napasnya panjang. Kemudian ia kembali memperhatikan Alvaro dan Daisy yang sedang melakukan tukar cincin dengan tatapan datar.
“Gue pikir-pikir dulu!” balas Renata lirih yang tetap saja bisa membuat Adelia memekik tertahan saking senangnya.
“Gitu, dong! Jangan belum apa-apa udah nolak!” seru Adelia puas.
Dari acara lamaran ini, disetujui bahwa acara akad dan resepsi pernikahan Alvaro serta Daisy akan dilaksanakan dua bulan yang akan datang. Meski waktunya cukup sempit, namun keluarga Alvaro cukup berpengaruh di kota ini, sehingga tidak akan sulit menyiapkan acara pernikahan besar dalam waktu yang singkat.
Terlihat pancaran kebahagiaan dari pasangan yang baru saja berganti status itu. Ucapan selamat tak henti-hentinya diucapkan oleh setiap orang yang hadir, menambah semarak acara di sore itu. Setelah acara berakhir, rombongan keluarga Alvaro pamit undur diri.
>>>>
Keesokan paginya, RS. Harapan
Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi dan ini adalah saatnya pergantian shif malam dengan shif pagi. Renata telah siap sejak beberapa menit yang lalu di ruangan dokter dan telah mengenakan jas putih kebesarannya. Ia terlihat sedang membaca-baca jurnal medis yang menjadi referensinya untuk mengambil sertifikasi double board*nya. Ia telah mengantongi sertifikasi sebagai ahli pengobatan darurat dan saat ini sedang mempersiapkan untuk sertifikasi ahli bedah neonatal**.
Tok tok tok
Pintu ruangan Renata diketuk dari luar dan ia membiarkan siapapun itu untuk masuk kedalam menemuinya. Seulas senyum dengan mata menyipit yang dibalut kacamata langsung memanjakan pandangan Renata seiring dengan masuknya seorang pria berkemeja navy itu mendekat padanya.
“Kok disini?” tanya Renata yang langsung kembali menatap kertas-kertas ditangannya. Sepertinya, ketampanan pria itu tak lebih menarik dari kertas-kertas ditangannya.
“Aku kangen sama kamu.” Jawab pria itu seraya duduk di bangku depan meja Renata. Kedua tangannya ia angkat keatas meja, menyangga dagunya, dan menatap gadis dihadapannya penuh damba.
“Kalau udah puas liatinnya, langsung balik aja!” seru Renata cuek. Ia sama sekali tak memperdulikan pria dihadapannya. Padahal sebagain besar staff perempuan rumah sakit ini cukup mengidolakan pria itu.
“Kok ngomongnya gitu, sih? Aku udah bantu gantiin tugas kamu loh kemarin!” pria yang tak lain adalah Jonathan itu mencebik kesal.
“Thank you!” balas Renata asal.
Jonathan yang kesal karena tak diperhatikan langsung mengambil pulpen serta kertas Renata lalu meletakkannya di meja yang jauh dari jangkauan gadis itu.
“JOOO!” protes Renata kesal.
Namun pria itu malah menangkupkan tangannya kewajah Renata dan membuat pandangan gadis itu sepenuhnya fokus pada dirinya.
“Aku tuh jauh-jauh dari Cirebon gak langsung balik ke rumah cuma buat nemuin kamu loh, dokter Renata Bumantara! Masa’ dikit aja kamu gak mau lihat aku?”
Gadis itu meraih tangan Jonathan dan melepaskan pegangan dipipinya. “Gue lagi sibuk, Jo! Sorry kalau lo gak nyaman lihat gue begini!”
Renata berusaha meraih kembali pulpen serta kertasnya yang langsung semakin dijauhkan oleh Jonathan. Sontak saja hal ini membuat Renata semakin kesal.
“Jo, please!”
“Lima belas menit aja aku minta waktu kamu, Re! Nggak, sepuluh menit juga gak apa-apa!”
“Mau apa emangnya?” tanya Renata menurunkan emosinya yang membuat Jonathan tersenyum sumringah.
“Tadi di jalan aku beli makanan dan aku tahu kamu jarang sarapan, jadi makan bareng, yuk!”
“Gue sibuk, Jo!”
“Dikit aja! Biar kamu makin semangat nanti jaganya, ya?”
“Lo gak kasih pelet ke makanannya, kan?”
“Dari dulu makanan yang aku kasih ke kamu sebenernya ada peletnya, Ren. Tapi kayaknya gak mempan sama kamu.”
Keduanya terkekeh dengan candaan absurd itu.
“Beneran sepuluh menit, ya? Sebagai tanda terima kasih gue karena lo udah gantiin gue piket!”
Jonathan mengepalkan tinjunya dan bersorak senang. Memang sulit sekali bisa mengambil waktu Renata. Kalaupun bisa, ia memang harus mencari beragam alasan untuk menarik gadis itu agar mau bercengkerama dengannya.
Renata melepaskan jas putihnya sedangkan Jonathan merapikan meja Renata sebelum membuka tas kain tempatnya menyimpan makanan, dan meletakkan bungkusan nasi itu ke atas meja. Ruangan ini memang tidak besar dan hanya berisi beberapa meja milik dokter-dokter yang sedang berjaga, sehingga tak ada tempat lain yang bisa mereka gunakan untuk menikmati makanannya.
“Gimana acaranya kemarin?” tanya Jonathan mencoba mencairkan suasana hening sejak mereka mulai makan.
“Lancar.” Jawab Renata singkat.
“Kamu gak cemburu lihat Alvaro mau nikah sama cewek lain?”
Renata mengangkat kepalanya dan menatap Jonathan dengan tatapan heran. “Maksud lo?”
“Kan kalian deket banget. Masa’ gak ada rasa-rasa cemburu gitu?”
“Kayaknya itu bukan urusan lo deh, Jo!”
Jawaban Renata yang begitu acuh membuat Jonathan menghela napasnya dan menjeda makannya. Memang sesulit itu menembus pertahanan seorang Renata Bumantara. Jonathan bahkan kerap kali merasa nyalinya menciut saat berhadapan dengan gadis itu.
“Berarti bener. Kamu emang ada rasa lebih sama detektif Alvaro.”
“Gak usah sok tahu!”
Makanan milik Renata telah tandas. Ia memang tipe gadis yang bisa makan dengan cepat. Kebiasaan ini terbentuk sejak masa kuliahnya yang memang hanya memiliki sedikit waktu untuk sekedar makan. Dan itu terbawa hingga saat ini.
“Sepuluh menit lo udah habis. Gue mau lanjut kerja, lo tahu pintu keluarnya dimana!”
>>>>
*Double board: merujuk pada dokter yang memiliki dua sertifikat keahlian yang sudah teruji.
**Ahli bedah Neonatal: ahli bedah yang memiliki spesialisasi dalam bedah koreksi cacat lahir pada bayi baru dilahirkan.