“Kali ini siapa lagi? Tante Gina? Om Danu? Radit? Kakek? Atau nenek?”
“Semua.” Jawab Renata semakain mengeratkan pelukannya pada Alvaro.
“Coba ceritain satu-satu!” Pinta Alvaro yang masih terus membelai surai sahabatnya.
Flashback on
Pagi tadi, Renata langsung ikut bergabung dengan papanya, Danudirja Bumantara atau Danu dan juga adik lelakinya Raditya Bumantara yang sedang bersantai di hari liburnya. Ketiganya sama-sama menikmati film bergenre romance yang ditayangkan salah satu channel TV. Sementara sang mama, Gita tak ikut bergabung dan menyibukkan dirinya sendiri di dalam kamar. Bukanlah sesuatu yang baru, karena Gita memang sering seperti itu.
“Kerjaan kamu gimana, Re? Nyaman?” tanya Danu basa-basi.
“Capek sih pa, tapi aku suka.” Jawab Renata lalu memasukkan keripik dari dalam toples ke mulutnya.
“Kamu masih belum pengen pulang, nak? Kan dari sini ke rumah sakit juga gak jauh. Apartemennya di kontrakin aja!” lagi, Danu meminta Renata pulang.
“Kalau dirumah, gak bisa sering nyelipin bang Alva ke kamar, pa!” seloroh Radit tanpa di filter yang membuat Danu membulatkan kedua matanya.
“Beneran kamu sering bawa Alvaro ke kamar?”
“Dari kecil juga aku sering ngajakin Alvaro sama Adelia ke kamar, pa. Kenapa kaget gitu, sih?” Renata mengernyitkan dahinya.
“Tapi kan itu dulu, Rena! Kalian sekarang udah sama-sama dewasa.” Tegur Danu tak habis pikir.
“Tua.” Sahut Radit yang langsung dibalas Rena dengan cubitan dan membuat adiknya meringis sakit.
“Lagipula yang papa denger Alvaro udah mau tunangan, loh! Kalau tunangannya sampek salah paham gimana?” lanjut Danu.
“Aku kenal Daisy, pa! Dan aku juga tahu batasan hubungan cowok sama cewek dewasa sampek mana?” bantah Renata yang diakhir kalimat matanya menatap kearah pintu yang tertutup.
PRAANGGG
Terdengar suara pecahan kaca menggema diiringi suara teriakan seorang pria dari arah luar rumah yang membuat ketiga orang itu terperanjat. Namun Danu dan Radit segera kembali biasa saja seolah tak pernah mendengar apapun. Padahal suara bising itu benar-benar sangat mengganggu hinggi membuat Renata dilanda cemas.
“Kamu itu ya, udah berapa puluh tahun hidup sama aku, masih aja gak bisa nyenengin? Udah jelas-jelas aku nggak suka ikan, masih dikasih ikan! Gosong lagi!”
Omelan seorang pria yang begitu bersungut-sungut dari rumah di sebelah terdengar hingga rumah keluarga Renata. Meski tak terdengar suara jawaban, namun Renata tahu pasti respon seperti apa yang diberikan oleh lawan bicara pria itu.
“Kamu tuh bandel apa bodoh, sih? Jadi istri bertahun-tahun tetep gak becus?”
Terdengar teriakan lagi yang membuat telinga Renata panas. Ia kemudian menatap Danu yang sudah kembali fokus pada layar kaca televisi.
“Pa,” Renata memanggil papanya yang hanya dijawab dengan gumaman oleh Danu. “Papa mau biarin aja itu nenek di maki-maki lagi sama kakek?”
Rumah kakek dan nenek Renata dari jalur ibunya memang berada di sebelah rumah mereka. Dan jarak yang sangat dekat itu membuat semua pertengkaran pasangan tua itu menjadi konsumsi menantu dan cucu mereka setiap harinya. Suara-suara itu pula yang menjadi salah satu penyumbang Renata tak betah berada di rumahnya.
“Udah, biarin aja! Gak usah ikut campur daripada kamu yang dimaki-maki kakek!” Balas Danu santai.
“Tapi kasian nenek, pa! Mana nenek gak pernah ngelawan dan selalu iya-iya aja tiap kali di maki-maki gitu.” Renata mendengus kesal.
“Kamu tahu sendiri gimana batunya kakek kamu. Papa gak mau kena semprot juga! Mama kamu aja itu suruh bilangin!” Danu menunjuk pada pintu kamarnya yang tertutup dan Gita memang ada disana.
“Dit, lo gak mau negur kakek juga?” tanya Renata yang hanya dibalas Radit dengan mengedikkan bahunya.
“Lo aja, kak!” Radit berdiri dan melenggang kearah kamarnya.
“Kalau aja jantung gue sanggup ngadepin kakek, Dit!” batin Renata.
Ia kemudian berjalan kearah kamar kedua orang tuanya. Ia akan mencoba berbicara dengan Gita sekali lagi dan meminta bantuan wanita paruh baya itu. Sayangnya, tangan Renata yang sudah terkepal akan mengetuk pintu kamar itu tiba-tiba berhenti di udara. Ia mengurungkan niatnya dan memilih semakin mendekatkan telinganya pada pintu kayu berwarna coklat kehitaman itu. Samar-samar Renata mendengar Gita sedang tertawa-tawa dan sepertinya sedang dalam sambungan telephone.
“Aku juga kangen kamu sentuh-sentuh, tahu! Nanti deh, kalau suami aku udah berangkat ke Kalimantan lagi, kita ketemuan di tempat biasa.”
“…”
“Iya. Lagian si Danu udah gak bisa bikin aku puas. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku.”
“…”
“Kamu ngomongnya gak disaring banget sih! Untung aku lagi sendiri di kamar.”
“…”
“Lagi pada nonton TV didepan.”
“…”
“Tenang aja, sayang! Aman kok.”
Tanpa terasa air mata Renata telah menggenang. Ia menggenggam erat-erat telapak tangannya hingga kuku-kukunya seakan tertancap pada telapaknya. Sedetik kemudian ia menghapus air mata yang jatuh di pipinya menggunakan lengan hoodie dengan kasar. Tak kuat lagi mendengar pembicaraan itu, Renata berbalik dan melangkah keluar rumah dengan tergesa.
“Pa, aku pulang!”
Renata tak menunggu reaksi Danu dan ia langsung mengambil tangan papanya dan mencium punggung tangan paruh baya itu sekilas. Belum sempat Danu menanyakan kepergiannya yang begitu tiba-tiba, sosok Renata telah hilang dari pandangan.
Gadis itu tak perlu repot-repot mengatakan tentang apa yang baru saja didengarnya pada sang papa. Pasalnya Danu tak pernah percaya jika Renata mengatakan mamanya telah berhubungan dengan pria lain selain dirinya. Dan Renata sudah lelah mengingatkan papanya mengenai affair penuh dosa itu. Renata juga pernah mengatakannya pada Radit, namun ia malah dikatai mengada-ada oleh adiknya. Oleh karena itu Renata memilih untuk tinggal terpisah daripada hatinya semakin sakit oleh perilaku orang-orang yang seharunya menjadi pendukung terdekatnya.
Flashback off
Alvaro kini balas memeluk Renata dengan erat. Sebelah tangannya mengelus punggung sang sahabat dengan lembut dan ia menumpukan dagunya pada kepala Renata yang terbenam di dadanya.
“Lupakan! Lupakan semuanya!” bisik Alvaro lembut.
Sesekali ia mendengar Renata terisak dalam pelukannya yang membuat hati Alvaro ikut merasakan nyeri. Alvaro yang mengenal keluarga Renata sejak kecil memang mengetahui semua cerita itu. Ia bahkan pernah sekali ikut memergoki Gita sedang bersama pria lain dan terlihat mesra.
Saat itu Alvaro dan Adelia juga ikut mendampingi Renata melabrak mamanya dengan pria selingkuhannya, dan ia pikir fase itu telah terlewati. Karena bagaimanapun peristiwa itu terjadi sudah sejak belasan tahun lalu saat mereka masih duduk di bangku SMA. Namun ternyata kegilaan Gita tak pernah berhenti disana meski pernah berjanji untuk tak berselingkuh lagi asal mereka tak melaporkan kejadian itu pada Danu, suaminya.
Seperti kata pepatah ‘banyak orang yang tak pernah berselingkuh, namun tak ada orang yang berselingkuh hanya satu kali’. Cepat atau lambat mereka pasti akan mengulanginya, entah dengan orang yang sama ataupun dengan sosok baru.
“Aku gak kuat kayak gini, Al. Aku takut!” saat sedang kalut seperti ini, Renata memang selalu menggunakan sebutan aku-kamu pada Alvaro maupun Adelia.
Alvaro tak langsung menanggapi, ia terus membelai punggung Renata dengan sabar dan berusaha menenangkan.
“Aku takut karma itu yang bakal nanggung nantinya adalah aku.”
“Husshh…jangan ngomong gitu!” Alvaro semakin mengeratkan pelukannya. “Karma memang ada, Re. Tapi gak mungkin salah sasaran baliknya. Bukan kamu yang harus nanggung karma orang lain, meskipun orang itu adalah kakek ataupun mama kamu.”
“Aku takut, Al. Aku takut!”
Renata terus menangis dan menyuarakan ketakutannya. Ia memang hanya bisa mengungkapkan pikiran terdalamnya pada kedua sahabatnya. Dan untunglah keduanya selalu siap kapanpun Renata membutuhkan meski sedang berjauhan. Dalam hidup Renata, darah belum tentu lebih kental daripada air. Karena pada kenyataannya, kedua sahabatnya yang notabene adalah orang luar, ternyata bisa jauh lebih dekat padanya daripada keluarganya sendiri.
Alvaro terus berusaha menenangkan sang sahabat dan membiarkan gadis itu menangis dalam dekapannya. Ia bahkan tak beranjak hingga Renata tertidur akibat kelelahan setelah menangis beberapa jam. Setelah memastikan Renata benar-benar terlelap, Alvaro membopong tubuh sahabatnya dan menidurkannya keatas ranjang di apartemen yang tak bersekat itu.
Pandangan mata Alvaro tak pernah lepas dari mata bengkak Renata. Terlihat sekali bekas-bekas air mata yang mengering serta hidung gadis itu yang memerah. Alvaro kemudian membuka nakas dan mengambil tisu basah untuk membersihkan bekas air mata Renata dengan begitu telaten.
“Jangan buat benteng kamu semakin tebal dan tinggi, Re. Aku pengen kamu bahagia juga, sama kayak gadis-gadis lain diluar sana!” gumam Alvaro lembut.
Selama Renata tertidur, Alvaro sama sekali tak beranjak dari apartemen itu. Ia bahkan sampai tertidur di sofa dan terus menunggui Renata hingga kondisinya membaik. Dan seperti biasanya, gadis itu langsung kembali ceria seperti biasanya setelah bangun tidur. Meski Alvaro tahu, jika sikap ceria itu hanyalah topeng semata yang semakin mengokohkan pertahanan seorang Renata.
>>>>