BAB 03

923 Words
Sebagai dua orang dewasa yang cukup sibuk dengan pekerjaannya, cukup sulit untuk pasangan ini bisa menikmati waktu liburnya secara bersamaan. Dan mumpung hari minggu ini mereka sama-sama libur, Alvaro mengajak Daisy untuk berjalan-jalan sambil melepas rindu. Bukan pergi kesebuah tempat mewah atau bahkan sampai keluar kota, bisa jalan-jalan ke mall dan belanja bersama pun sudah cukup untuk keduanya. Tak terhitung sudah berapa kali kartu kredit Alvaro bergesekan dengan mesin kecil yang tampak tak berdosa. Beberapa paper bag juga sudah bertengger nyaman ditangan pasangan ini. Hingga pada satu titik, keduanya merasa lelah dan memilih masuk kesebuah restoran untuk mengisi bahan bakar energy mereka. “Sayang, semua belanjaan aku tadi habis berapa? Biar aku transfer sekarang.” ujar Daisy saat menunggu pesanan mereka datang. “Salahku sendiri mau jalan-jalan malah lupa bawa credit card.” “Gak apa-apa, aku seneng kok bisa manjain kamu.” Balas Alvaro. “Eh, gak boleh gitu. Sekarang itu uangmu masih uangmu sendiri, belum jadi uangku. Jadi harus aku balikin.” Alvaro terkekeh seraya mencubit hidung bangir kekasihnya yang lima tahun lebih muda. “Kamu lucu banget sih, yang. Kayak sama siapa aja? Lagian kita kan udah mau nikah bentar lagi.” “Tapi tetep aja kak Alva sayang, mendingan uang kamu buat biaya nikahan kita nanti.” “Kamu beda banget sih sama cewek-cewek diluaran? Makin sayang, deh!” “Lebih sayang ke aku atau kak Rena sama kak Adel?” “Ya beda lah yang. Aku sayang ke mereka kan sebatas sahabat, kalau kamu kan calon istri aku.” “Kalau misalnya aku, kak Rena, kak Adel tenggelam, kamu bakal nolongin siapa duluan?” “Kamu lah.” Jawab Alvaro cepat tanpa sedikitpun keraguan, membuat Daisy tersenyum puas. “Beneran?” Nada suara Daisy terdengar menggoda. “Rena jago berenang, dan Adel palingan juga Ravi yang nolong. Jadi aku cuma perlu nolongin kam—aawww!” Alvaro memekik diujung kalimatnya karena mendapat cubitan dari Daisy di pinggangnya. “Belum nikah kok udah kekerasan dalam rumah tangga sih, yang? Ntar kena pasal 23 tahun 2004, loh!” “Bisa ya kamu malah bercanda? Aku serius tauk!” Daisy mengerucutkan bibirnya. “Lagian kamu pake’ nyubit-nyubit segala. Kan sakit, yang! Kalo kulitku biru-biru gimana?” “Minta diobatin dokter pribadi kamu aja! Kan siap tuh dia kapanpun kamu panggil.” Dokter pribadi yang dimaksud oleh Daisy adalah Renata. Memang Alvaro selalu menemui Renata setiap kali ia terluka setelah menyelesaikan misinya. Apalagi kantor mereka berdekatan, sehingga Alvaro bisa dengan mudah mencari Renata. Dan sebenarnya Daisy cukup tidak menyukai kedekatan mereka yang menurutnya terlalu berlebihan. Namun Alvaro selalu bisa meyakinkan Daisy jika hubungannya dengan Renata hanyalah platonik. “Gak ah, kamu ngambek aku didiemin lagi ntar.” Alvaro melengos. “Alah alesan!” meskipun Daisy terlihat ngambek, namun ia tak bisa menutupi senyumnya pada sang kekasih. Ddddrrttt dddrrrttt Meja tempat sejoli itu terasa bergetar akibat sebuah pesan singkat yang diterima oleh Alvaro. Kepalanya melongok menatap nama seseorang yang muncul di layar dan ia langsung meraihnya. Dr.Rena [Sibuk gak? Gue butuh kalian.] Ny.Ravi [Duh, gue baru sampek Sidney, Ren. Sorry banget.] [Al, lo libur kan?] Me [Dimana @Dr.Rena?] Dr.Rena [Apart.] Me [Sejam lagi gue sampek sana!] “Siapa?” tanya Daisy penasaran karena Alvaro cukup larut dengan ponselnya. “Makanannya di bungkus aja, yang! Aku harus nemuin Renata.” Alvaro buru-buru mengemasi barang-barang mereka dan memanggil pelayan untuk membungkus makanan mereka. “Kok gitu sih? Bukannya hari ini kamu full buat aku?” Daisy cemberut. “Tadi pagi Renata pulang kerumah dan sekarang kayaknya dia gak baik-baik aja. Kalo aja Adel lagi disini, aku bisa nemenin kamu. Tapi Adel lagi di Aussie, jadi aku,-” “Iya-iya, paham!” Daisy memotong penjelasan Alvaro karena ia tak ingin mendengarnya. Sudah terlalu terbiasa dengan sikap Alvaro yang terkadang menomor satukan kedua sahabatnya. “Kamu gak marah, kan?” Alvaro menatap lekat netra hitam kekasihnya. “Enggak, udah biasa.” Jawab Daisy sambil tersenyum ramah. “Tapi ntar anterin aku ke kantor aja, ya. Mau ngambil berkas biar bisa aku kerjain dirumah.” “Kamu pengertian banget sih, yang? Makin cinta deh!” “Gak usah ngerayu! Yuk ah, kak Rena udah nungguin, kan?” Setelah mengambil makanan yang mereka pesan, sejoli itu bergegas menuju area parkir dan mobil CRV hitam itu segera membelah jalanan kota yang cukup padat diakhir pekan. >>>> BIP BIP BIP Brakk Pintu apartement itu terbuka dan sesosok pria gagah diawal usia tiga puluhannya melenggang masuk dengan bebas. Sebelah tangannya membawa sebuah tas plastik berwarna putih yang berisi beragam snack. Sementara kakinya melangkah, netranya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru apartemen studio berukuran 25 meter persegi. Ia menghela napasnya kala menemukan sosok sang sahabat yang tengah merenung di balkon seorang diri. Alvaro meletakkan bungkusan plastiknya dan segera menyusul Renata yang bahkan belum menyadari kehadirannya. Ia berhenti disebelah gadis itu dan ikut menatap gamang kearah dunia diluar sana. “Butuh pelukan?” tanya Alvaro memecah kesunyian. Renata sama sekali tak terkejut meskipun suara Alvaro terucap secara tiba-tiba. Entah terbuat dari apa hatinya, namun Renata memang bukanlah sosok yang mudah terkejut, meski bertemu hantu sekalipun. Ia juga sama sekali tak merespon pertanyaan sahabatnya, bahkan menolehkan kepalanya pun tidak. “Masuk yuk! Angin diluar gak baik buat kesehatan.” Alvaro membimbing Renata kembali masuk ke apartemennya dan membawa gadis itu untuk duduk di sofa panjang di ruang tamu. “Sorry gangguin waktu liburnya.” Gumam Renata. “Kayak sama siapa aja?” Alvaro kemudian duduk dalam diam. Seperti biasanya, ia tak akan bertanya apapun sebelum Renata sendiri yang mengatakan masalahnya. Gadis itu mendudukkan tubuhnya disisi Alvaro dan mulai menjatuhkan kepalanya ke d**a bisang sang sahabat. Kedua lengannya juga terulur memeluk Alvaro dengan rapat. Sementara sebelah lengan Alvaro mulai merangkul pundak Renata dan sesekali menepuk-nepuknya pelan. Meskipun orang-orang mengatakan jika kedekatan dua sahabat ini tak lazim, namun mereka tak peduli. Selama keduanya saling nyaman, mereka tak akan mendengarkan kata orang. “Gue capek, Al.” Ujar Renata lirih. Alvaro tak langsung menjawab, jemarinya berpindah membelai rambut legam Renata dengan pelan. “Kalo gue ngilang aja, gimana?” “Huss, jangan ngomong gitu! Gue gak suka.” Alvaro menyentil ringan jidat Renata yang membuat sahabatnya itu meringis. “Kali ini siapa lagi? Tante Gina? Om Danu? Radit? Kakek? Atau nenek?” “Semua.” Jawab Renata semakain mengeratkan pelukannya pada Alvaro. “Coba ceritain satu-satu!” Pinta Alvaro yang masih terus membelai surai sahabatnya. >>>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD