BAB 02

1276 Words
~ Present ~ Hari ini, Alvaro sedang bertemu dengan Adelia di kafe favorit mereka. Meninggalkan Renata yang masih belum selesai jam piketnya. Terlihat sekali antusias pria berusia awal tiga puluhan itu saat menggoda Olivia yang menggemaskan. Tentu hal ini membuat ibu Olivia, Adelia jadi ingin menggoda sahabatnya. “Udah siap kayaknya lo jadi bapak.” Komentar Adelia. “Makanya gue mau ngelamar Daisy biar bisa cepet punya boneka kayak gini.” Balas Alvaro mentoel-toel pipi Olivia. “Yakin Daisy mau cepet-cepet punya buntut?” Adelia menggoda sahabatnya. “Maksud lo?” “Wanita karir ambisus kayak Daisy tuh banyak yang suka nunda-nunda punya momongan, Al. Tapi ini pendapat gue loh ya, gak semua wanita karir kayak gitu.” “Dia suka anak kecil juga kok!” “Bukan berarti mau cepet-cepet punya sendiri juga, kan? Emangnya lo udah pernah diskusiin hal ini sama Daisy?” “Belum.” Alvaro mengedikkan bahunya yang malah mendapat pukulan ringan Adelia. “Omongin dong! Apalagi Daisy masih muda, karirnya masih panjang. Gue sama Ravi aja udah ngobrolin masalah anak bahkan sebelum kita lamaran.” “Ya jangan bandingin gue sama ‘couple goals’ kayak kalian! Gue cari pacar aja susah.” Keluh Alvaro sambil menekan kata couple goals untuk menyindir sahabatnya. “Emangnya kapan lo mau lamaran?” “Siapa yang mau lamaran?” tanya satu suara yang sama sekali tak asing untuk keduanya. Seorang gadis berusia dua puluh sembilan tahun yang terlihat kelelahan dengan peluh disekitar dahi itu menghempaskan bokongnya ke satu kursi kosong diantara Alvaro dan Adelia yang duduk berhadapan. Dia adalah Renata yang baru sampai dengan napas masih terengah dan tangan yang menghalau hawa panas setelah terkena terik matahari diluar. “Noh, Al mau nglamar Daisy katanya.” Jawab Adelia sambil menunjuk Alvaro dengan dagunya. “Woowww? Beneran? Kapan?” tanya Renata antusias. Sebelah tangannya mengambil gelas Americano milik Alvaro dan meminumnya hingga tersisa setengah. Ia tak menggunakan sedotan bekas pria itu, melainkan langsung meminumnya dari bibir gelas. “Bulan depan. Kalian ikut nganterin, kan?” pinta Alvaro sambil membetulkan kerah baju Renata yang tak rapi dan terdapat sedikit noda darah. “Sebelum keluar, bisa gak sih lo ganti baju dulu? Masih ada darahnya ini!” Renata senyum terpaksa. “Gak sempet pulang, dan baju ganti di loker juga udah abis. Makanya mau gue taruh ke laundry ntar!” “Jorok lo!” tegur Adelia. “Punya apartemen, tapi gak pernah pulang. Tinggal di rumah sakit mulu, gak pernah nyuci.” “Biarin. Gak ada yang protes ini.” Renata menjulurkan lidahnya. “Jadi, bulan depan pasnya kapan? Biar gue bisa siap-siap tukeran jadwal sama yang lain kalau misalnya gak pas libur.” “Jum’at pertama, abis dhuhur.” Jawab Alvaro. Renata langsung mengambil ponsel dan memeriksa jadwalnya selama beberapa saat. “Ooh, gue lagi ada jadwal ke rumah sakit cabang di Cirebon hari itu.” Ujar Renata kecewa tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar gadget. “Gue tanya Jonathan dulu, siapa tahu dia mau tukeran jadwal.” “Lo bilang dadakan juga si Jonathan-Jonathan itu bakal tetep setuju, Ren.” Cibir Adelia yang dibalas tatapan heran sahabatnya. “Iya juga sih, dia kan nurut banget sama gue.” Renata menutup ponselnya dan kembali menyimpan ke sakunya, membatalkan rencana menghubungi rekan sesama dokternya. “Mau sampek kapan lo hidup kayak gini, Ren?” tanya Alvaro prihatin. “Kenapa emangnya? Gue bahagia sama hidup gue.” Renata mengedikkan bahunya. “Gak perlu sok kuat didepan kita!” sanggah Adelia. “Orang lain mungkin gak tahu, tapi kita yang paling paham lo kayak gimana?” “Mulai lagi deh!” Renata mendengus kesal. “Karena kita peduli sama lo, Renata Bumantara!” Alvaro mengacak rambut acak-acakan Renata. “Kalaupun lo masih gak mau punya pacar, paling gak mulai rapi dikit lah Ren. Pasien lo bisa takut liat lo kayak gini!” tambah Adelia. “Jangan! Kalau gue udah mulai dandan, Al aja bisa terpesona sama gue.” Renata terkekeh. “Kayak gini aja udah banyak yang ngintilin. Kalo gue rapi, bisa-bisa Kate Middleton kalah saing.” “Ngeles aja lo bisanya!” kedua sahabat Renata itu mendengus kesal. Seulas senyum hangat terbentuk di bibir tipis Renata. Orang lain mungkin akan langsung percaya melihat senyum itu, namun tidak dengan kedua sahabatnya. Senyum hangat Renata adalah sebuah benteng yang melindungi hati dan perasaannya agar tak bisa diselami oleh siapapun. “Gue beneran baik-baik aja.” Gadis itu meraih tangan kedua sahabatnya dan mendekapnya dengan erat diatas meja. “Selama gue punya kalian, gue bakalan baik-baik aja.” “Tentu. Kita selalu siap kapanpun lo butuh.” Alvaro membelai halus rambut Renata yang diikat pigtail. Senyum menenangkan dari bibir Alvaro lambat laun luntur dan wajahnya berubah mengkerut. “Lo terakhir keramas kapan sih Ren? Lepek banget ini rambut?” >>>>  Renata melemparkan slingbagnya sembarangan setelah berhasil masuk kedalam unit apartmennya. Gadis itu malah langung saja menghempaskan tubuhnya keatas ranjang tanpa mengganti pakaiannya yang masih terkena noda darah. Matanya mengerjab beberapa kali menatap langit-langit kamar apartemennya yang sudah satu minggu ini tak ia kunjungi. Sebenarnya gadis itu merasa sepi dan sangat hening saat ada di apartmennya, sehingga memilih menetap di rumah sakit yang bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa sepi dihatinya. Renata memang sudah mulai tinggal sendiri sejak lulus SMA. Tahun pertama ia tinggal di asrama kampus, setelah itu ia tinggal berpindah-pindah dari satu rumah kost ke rumah kost lainnya hingga selesai masa internshipnya. Setelah itu, dengan uang tabungannya ia mampu membeli apartmen studio sederhana tempatnya tinggal saat ini. TING Dengan mata sedikit terpejam, Renata meraih ponselnya yang teronggok diatas ranjang. Ia membuka pesan itu sambil menyipitkan mata lelahnya. Mama [Minggu ini pulang kerumah! Gak terima alasan sibuk!] Renata menghempaskan tangannya sambil mendesah keras tanpa membalas pesan bernada paksaan itu. Sebelah lengannya ia angkat untuk menutup wajahnya yang terlihat kesal. “Aaarrghhh, mau apa lagi kali ini?” gumamnya kesal. Kepalanya langsung terasa pening setelahnya. Hubungan Renata dengan keluarganya memang buruk. Itu juga alasan Renata langsung pergi dari rumah saat mengetahui beasiswa kedokterannya lolos seleksi. Bukannya ia dilarang untuk menjadi seorang dokter, orang tuanya bahkan sangat mendukung. Hanya saja, ada hal lain yang membuat gadis itu merasa tak lagi memiliki rumah untuk kembali pulang dan mengadu. >>>> Hari minggu tiba. Dengan menggunakan kendaraan umum Renata memenuhi undangan paksaan sang mama. Rasanya sudah cukup lama ia tak menginjakkan kaki di halaman rumah keluarganya. Sebuah rumah yang harusnya bisa dirindukan oleh seorang anak, namun tidak untuk Renata. Kondisi rumah itu masih sama seperti terakhir kali ia berkunjung, dua bulan yang lalu. Padahal jarak antara rumah, apartemen, dan rumah sakit tempat dinas Renata tak jauh. Hanya butuh waktu 15 sampai 20 menit saja sudah sampai. Namun lagi-lagi, Renata merasa tak nyaman ada dirumahnya sendiri. Kehadirannya langsung disambut senyum bahagia Gita, mamanya. Wanita pertengahan lima puluh tahun itu langsung memeluk putri sulungnya dengan erat dan menghujani Renata dengan ciuman. Renata hanya diam menerima setiap perlakuan itu. Katakanlah ia terlalu kaku dan dingin pada sang mama, tapi tak akan ada asap jika tak ada api bukan? Dan Gita bersikap seolah api antara dirinya dan sang putri telah padam, meskipun sebenarnya bara itu masih menyala dihati Renata. “Kamu kalau mama gak paksa pulang, gak pernah inisiatif pulang sendiri!” Protes Gita sambil mengerucutkan bibirnya. “Sibuk ma.” Jawab Renata singkat dan datar. “Papa mana?” Gita langsung melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata coklat Renata. “Biasa, lagi nonton TV sama adikmu didalem.” “Yaudah, Rena mau ketemu papa sama Radit dulu.” Gadis itu melenggang begitu saja melewati Gita yang mencebik kesal. “Makin hari makin dingin aja itu perawan. Gimana bisa punya mantu kalau anaknya aja kayak gitu?” >>>> 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD