Maret, 2013
Suara musik klasik terdengar membahana, diiringi canda tawa, obrolan, serta denting benda pecah belah beradu dengan metal memenuhi ballroom hotel bintang lima ini. Ruangan besar itu telah didekorasi sesempurna mungkin. Disana sedang diselenggarakan acara pernikahan putri bungsu pengusaha asal negeri paman Sam yang juga berprofesi sebagai nfluencer terkenal. Belum lagi mempelai pria juga memiliki background yang tak bisa dianggap remeh. Pria itu adalah putra tunggal salah satu menteri di negeri ini dan juga merupakan pemilik perusahaan startup terkemuka yang sudah go-internasional.
Tak hanya itu yang membuat pengunjung berdecak kagum. Fakta jika kedua mempelai telah menjalin kasih sejak tahun terakhir di bangku SMP pun membuat pengantin baru itu digadang-gadang sebagai couple goals masa kini. Apalagi mereka juga sama-sama rupawan dan saling menyempurnakan.
Sayangnya, cerita diatas bukanlah yang harus paling diperhatikan. Fokuslah pada sang maid of honor bergaun peach. Seorang gadis lokal dengan senyum manis dilengkapi lesung pipi yang sayangnya menampakkan aura kelelahan diwajahnya sejak beberapa jam yang lalu. Seharian ini tanpa henti ia mengikuti setiap prosesi pernikahan mendampingi mempelai wanita. Gadis itu adalah Renata Bumantara, sahabat kecil Adelia Lincoln.
Sebenarnya, selain Renata ada satu lagi sahabat Adelia. Namun sahabatnya yang satu ini tak mungkin menjadi bridesmaid. Satu peleton mungkin akan menertawakan Alvaro kalau ia sampai jadi bridesmaid. Ya, satu dari tiga bersahabat itu adalah seorang pria yang saat ini tengah melambaikan tangannya memanggil Renata agar mendekat padanya dan beristirahat sejenak.
“Gue nemenin Al dulu,” bisik Renata pada Adelia yang langsung disetujui.
Gadis itu berjalan perlahan dan lambat karena tak terbiasa mengenakan sepatu setinggi 12 sentimeter. Beberapa kali ia sampai hampir keseleo saking tidak terbiasanya.
“Udah makan?” Tanya Alvaro begitu Renata sudah sampai didekatnya. Pria itu mengambilkan kursi untuk Renata yang langsung disambut baik oleh sahabatnya.
“Belum, laper banget gue. Capek juga.”
Alvaro mengambil paper bag yang sejak tadi dibawanya dan mulai berjongkok dibawah kaki Renata. Dengan tanpa canggung, pria dua puluh empat tahun itu melepaskan sepatu hak tinggi Renata dan memijat betis sahabatnya.
“Kaku bener kaki lo,” komentar Alvaro.
“Biasanya pake slipper lari-larian, pake’ high heels kagok gue,” balas Renata menikmati massage yang diberikan sahabatnya.
Mereka sama sekali tak memperdulikan tatapan mencemooh para tamu undangan yang menganggap keduanya seperti pasangan yang tengah dimabuk cinta dan tak tahu tempat. Padahal kenyataannya, perlakuan seperti ini sudah sangat biasa mereka lakukan dalam kesehariannya. Jika saja tak ada Ravi, mungkin Alvaro juga akan melakukan hal yang sama pada Adelia, karena pada dasarnya ia memang sangat menyukai segala bentuk skinship. Namun suami Adelia itu terkenal posesif, sehingga Alvaro tak berani menyentuh sahabatnya itu terlalu jauh.
“Pakai ini, biar gak sakit. Gue ambilin lo makanan dulu!”
Alvaro menyodorkan sneakers putih pada Renata dan ia bersiap pergi.
“Masih banyak tamu, gak sopan dong kalau gue pake sneakers!”
“Udah hampir jam sepuluh. Palingan bentar lagi juga kelar,” ujar pria itu setelah memperhatikan arloji di pergelangan tangan kirinya. “Lo mau makan apa?”
“Emm, sate enak kayaknya.”
“Tunggu bentar!”
>>>>
Tak butuh waktu lama untuk Renata memindahkan sepuluh tusuk sate ayam, lontong, tiga tusuk sate telur puyuh, udang asam manis, dan capjay dari piring kedalam perutnya. Alvaro bahkan sampai menggelengkan kepala tak percaya melihat gadis mungil ini bisa makan porsi kuli dalam waktu yang sangat singkat menurutnya. Belum lagi satu gelas jus alpukat juga diminumnya hingga tanpa sisa dalam sekejap saja.
“Lo kesetanan, Re?” Tanya Alvaro sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Renata. Gadis itu sontak menampiknya kesal.
“Gue belum makan dari pagi. Nih gaun singset banget Adel bikininnya, gak bisa makan apa-apa gue.”
“Lah barusan apa kalo bukan makan?”
“Makanya, ini makin sumpek banget bajunya, sumpah.”
“Lepas aja! Apa mau gue bantu lepasin.”
“Ngawur lo!” Renata melemparkan tisu kearah Alvaro yang malah membuat sahabatnya itu tertawa receh.
“Eh Re, beneran lo gak pengen bisa kayak Adel?”
“Maksud lo?”
“Lo gak sepi terus-terusan jomblo?”
“Gue single bukan jomblo.”
“Alah, ngeles aja bisanya!” Alvaro mendorong bahu sahabatnya pelan.
Renata menghela napasnya lelah. “Mental gue belum sanggup Al.”
Alvaro yang duduk di sebelah kanan Renata mencondongkan tubuhnya hingga bersandar keatas meja dan menatap lekat sang sahabat. Ia paham dengan alasan gadis itu enggan pacaran hingga kini. Alvaro juga tak ingin membuat sahabatnya sedih lagi dengan mengungkit-ungkit alasan itu.
“Re, bikin perjanjian yuk!” Celetukan tiba-tiba Alvaro menimbulkan tanda tanya besar di wajah Renata.
“Gak sekalian panggil notaris sama pake hitam diatas putih dilengkapi materai sepuluh ribu biar perjanjiannya sah?” Renata menimpali dengan sarkas.
“Ah, lo kaku banget, gak seru!” Alvaro mencebik seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Perjanjian apaan sih emangnya?” Gadis dua puluh tiga tahun itu akhirnya menunjukkan antusias pada ide sahabat karibnya.
“Jadi gini,” Alvaro kembali menegakkan tubuhnya. “Gue tahu lo gak mau pacaran bahkan deket sama cowok aja ogah, nah sementara gue mau nyari pacar aja susahnya minta ampun. Gak ketemu-ketemu sama yang cocok. Padahal temen-temen kita juga udah banyak yang married.”
“Langsung aja deh Al, gak usah pake kata pengantar gitu,” desak Renata tak sabar.
“Biar keliatan resmi dikit kali, Re!”
“Yaudah, jadi intinya apaan Alva?”
“Nikah yuk!”
“Siapa?”
“Ya elo, Renata Bumantara! Sama gue, Alvaro Renjana. Kan gue ngomongnya sama lo, lemot!”
“Ngaco’ lo!” Renata mengibaskan telapak tangannya menganggap ucapan Alvaro hanya bagai angin lalu.
“Gue tahu lo masih harus koas, intern, dll. Sedangkan gue juga masih anak baru di kantor,” balas Alvaro menjelaskan. “Maksud gue itu nanti Ren. Kalo lo sama gue udah bener-bener gak laku, kita nikah aja.”
“Lo aja yang gak laku, gue banyak yang naksir kok.” Renata menjulurkan lidahnya mengejek Alvaro yang notabene adalah sahabatnya sejak TK.
“Iya, tapi elonya yang gak doyan sama mereka. Kalo’ sama gue kan udah terjamin. Gue udah tahu luar dalemnya lo kayak gimana, lo juga udah tahu gue gimana? Jadi gak perlu adaptasi gitulah gampangnya.” Alvaro terus membujuk.
“Kapan batas waktunya?” Tanya Renata bagai angin segar di telinga Alvaro.
“Pas lo ulang tahun ke tiga puluh. Kan kalo patokannya pake gue, lo masih dua puluhan ntar.”
“Oke! Deal!” Renata mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Alvaro.
“Gue bakalan cariin lo cewek biar lo gak gangguin gue lagi. Tunggu aja Al!”
“Kurang baik apalagi gue, sampek dengan suka rela jadi asuransi buat sahabat sendiri?”
>>>>
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam saat Renata turun dari mobil SUV yang dikemudikan oleh Alvaro. Sahabatnya itu berhenti tepat didepan rumah kost sederhana tempat tinggal Renata beberapa bulan terakhir.
“Lo besok langsung kerja lagi?” Tanya Alvaro saat Renata sudah ada disamping pintu kemudinya.
“Iya. Dokter kepala cuma kasih gue izin dua hari doang.”
“Yaudah, cepet istirahat biar besok gak telat!”
“Oke. Ati-ati dijalan, udah malem.” Pesan Renata yang dibalas anggukan Alvaro.
“Sampai jumpa di depan penghulu tujuh tahun lagi!” Alvaro menggoda dengan kerlingan mata tengilnya.
“Nyebelin lo! Pergi gak?”
“Iya, iya, calon nyonya Renjana. Jangan marah-marah gitulah, cepet tua ntar!”
“ALVARO!”
Pria itu segera menutup jendela mobilnya dan tancap gas sebelum Renata memakannya hidup-hidup.
Begitulah perjanjian itu tercipta di malam sakral beberapa tahun silam. Spontan dan tanpa pikir panjang hingga akhirnya perlahan tertutupi oleh memori-memori baru yang menenggelamkannya. Tak satupun dari Alvaro maupun Renata yang kembali membahas perjanjian itu.
Bahkan, beberapa tahun kemudian Alvaro mengumumkan pada kedua sahabatnya jika ia sedang serius menjalin hubungan dengan seseorang. Wanita anggun bernama Daisy, seorang pengacara yang beberapa kali berjumpa karena pekerjaan mereka yang saling berhubungan.
Sedangkan Renata? Seperti yang diucapkannya sejak dulu, gadis itu tetap betah menjadi seorang single dan begitu menikmati pekerjaannya sebagai dokter fellow bagian gawat darurat di rumah sakit Harapan. Rumah sakit itu terletak hanya beberapa meter dari kantor polisi tempat Alvaro bekerja, sehingga keduanya masih kerap kali berjumpa di saat senggangnya.
Lalu Adelia. Wanita bersuami itu telah memiliki seorang putri cantik berusia dua tahun bernama Olivia, yang membuatnya semakin sulit berkumpul dengan kedua sahabatnya. Namun sesekali ia juga masih meluangkan untuk kedua sahabat terbaiknya itu.
>>>>