Anas melangkah turun lebih dulu dari angkot, kemudian berdiri menunggu 3 orang yang bersamanya sejak tadi yang perlahan turun dengan raut masam. Daisy menyodorkan uang pada supir angkot, setelah itu dia mendekat pada Anas sembari menatap rumah sederhana di hadapannya. Dean belum bisa berkedip, mulutnya sampai terbuka kecil, menganga melihat rumah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan ditinggali oleh Husyan–– ayahnya Alfi. Selama ini pria itu terlalu cocok dengan sesuatu yang mewah dan mahal, melihat penampakan rumah dengan pagar bambu di depannya membuat Dean menyayukan tatapannya. Ternyata selama ini kehidupan pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri itu sangat mengkhawatirkan. "Ayo, masuk." Ajak Anas tanpa basa-basi, menenteng keranjang gorengannya yang sudah kosong

