Selamat pagi, mbak. Sapa Erika pada pemilik foto kopi di dekat kampusnya. Pagi juga mbak, ada yang bisa saya bantu, jawab pelayan tersebut dengan penuh ramah. Ia nih mbak jadi saya mau beli 2 kertas materai 6 ribu, nih uangnya. Erika menyodorkan uang ke pelayan tersebut. Kok saya mau aja disuruh sama Keenly buat beli ini materai, bego amat sih aku. Ngomel Erika pada dirinya sendiri sambil memasukan materai tersebut ke dalam saku jasnya.
Sesampainya di kelas dia melihat Keenly sedang mengobrol dengan Anita. Seru amat ngobrolnya, ngobrolin apa sih, tanya Erika penuh penasaraan. Ada aja deh, kamu tidak perlu tau ya, jawab Anita sambil ketawa. Eh, jahat banget kamu Anita sejak kapan kamu main rahasia begitu dengan aku, emang ngobrolin apa sih sama Keenly, lanjut Erika dengan nada kecewa. Tidak usah ngambek ya ka nanti cantiknya kurang lagi, lanjut Keenly sambil menarik tangan Erika keluar dari ruang kelas. Kita mau kemana sih, kelaskan mulai sebentar lagi,Keenly......ken....Erika terus-terusan memanggil Keenly yang sedari tadi tidak mau melepaskan tangannya. Kok kita ke taman sih, kita mau ngapain disini ken??? Tanya erika sambil memoncongkan bibirnya karena merasa aneh saja kok sahabatnya tiba-tiba membawanya ke taman. Keenly hanya menatap wajah cantik itu tanpa mengubris kata-katanya. Semakin Keenly tidak merespon pembicaraannya semakin membuat Erika terus-terusan berbicara tiada henti. Keenly pun merasa panas dengan suasana saat itu, dia terus memandang bibir seksi Erika apalagi dia memakai lipstik berwarna merah, ingin Keenly mencium bibir tersebut dengan penuh hasrat. Apaan sih ken, kamu diam aja mending aku balik ke kelas aja deh, Erika membalikan badannya hendak meninggalkan Keenly yang sedari tadi telah menjadi patung hidup. Eh, jangan....Keenly menarik tangan sahabatnya itu sehingga membuat Erika secara spontan mendorong tubuh sahabatnya itu. Akhirnya, keduanya pun jatuh ke atas rumput Keenly menindih tubuh mungil Erika, secara refleks membangkitkan hasrat keduanya. Keenly pun langsung mencium bibir yang sudah lama ia ingin menciumnya. Ciumannya semakin b*******h, sehingga membuat Erika kesulitan bernafas. Erika pun menikmati ciuman tersebut bagaimana pun Keenly adalah cowok yang dia cintai. Seketika juga Erika membayangkan gadis-gadis yang pernah Keenly sakiti, membuat gadis ini secara spontan mendorong Keenly jauh dari tubuhnya. Erika aku minta maaf ya, karena sudah mencium kamu tanpa minta izin dulu, Keenly memohon pada gadis tersebut karena dia takut kalau gadis yang ia cintai itu membencinya. Ya udah anggap aja kejadian ini tidak pernah terjadi, jawab Erika sambil merapikan bajunya, dan berjalan meninggalkan Keenly yang membeku mendengar jawaban dari sang gadis pujaannya.
***
Sesampai di depan kelas Erika langsung mendobrak pintunya sambil berteriak Anita ada yang gaw.......kata-katanya tak bisa diteruskan karena Pak David sedang melototinya dan juga teman-temannya. Mereka kaget melihat tingkah si Erika yang tidak waspada itu. Sudah tau terlambat ke kelas, pintunya pake didobrak segala tanpa mengetuk dulu. Kamu tidak tau aturan ya?, tanya Pak David dengan marah. Erika diam aja sambil menundukkan kepalanya karena malu. Kamu tidak punya mulut untuk menjawab, hah....bentak Pak David. Maaf pak, saya salah karena datang terlambat, ujar Erika. Oh, jadi kamu paham juga kesalahanmu apa. Erika asal kamu tau ya kesalahan mu banyak, mau bapak sebutkan satu persatu?, tanya pak David dengan kesal. Tidak usah pak, sekali lagi saya minta maaf, ujar Erika sekali lagi. Baiklah, Bapak maafin kamu asalkan kamu tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Jika kamu ingin menjadi anak yang sukses kamu harus disiplin ya, ujar pak David panjang lebar. Tiba-tiba Keenly mengetuk pintu dan langsung membukanya. Selamat pagi, pak! ujar Keenly dengan sopan. Silakan masuk, Keenly, ujar pak David. Baiklah Bapak malas mengulangi kata-kata yang sama yang bapak ujarkan ke Erika sama kamu. Jadi, hari ini Bapak akan menghukum kalian berdua karena telah datang terlambat. Keenly dan Erika saling pandang dan berharap hukumannya tidak berat. Bapak tugaskan kalian untuk membuat makalah yang berjudul tentang waktu. Makalah tersebut harus berisi 50 halaman dan dikumpulkan minggu depan tepatnya hari selasa di ruangan bapak. Mengerti!! Ujar pak David dengan tegas. Baik pak, tapi hari inikan akhir pekan itu tandanya kami harus menyelesaikan makalahnya hanya 2 hari?, tanya Erika dengan harapan Pak David memperpanjangkan waktu pengumpulan makalahnya. Ia bapak tau den tetap saja kalian berdua harus menyelesaikannya bagaimana pun caranya, jika tidak kalian berdua akan diskors, pahamkan maksud saya apa? ujar pak David sekali lagi. Ia pak, saya paham, jawab Keenly dan Erika serempak. Setelah kelas usai, Keenly buru-buru mendekati Erika. Erika aku antar kamu pulang ya, sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu, sahut Keenly kepada Erika. Aduh, ken maaf ya aku lagi pengen sendiri aja, sahut Erika dengan nada malas. Ka, kamu masih marah ya sama aku gara-gara kejadian tadi pagi?, tanya Keenly. Enggaklah, akukan sudah bilang sama kamu agar tidak ingat lagi kejadian itu, bantah si Erika. Tapi aku pengen kamu terus mengingatnya, dan itu adalah ciuman pertama kita, ketus si Keenly. Dalam hati Erika sangat senang mendengar omongan Keenly yang menandakan bahwa ciuman tersebut sangat berarti buat Keenly buktinya dia menyuruhnya untuk mengingat kalau itu ciuman pertama mereka. Jadi, sekarang gimana?, tanya Erika yang membuat Keenly kebingungan. Maksud kamu kita jadian aja, atau bagaimana?, tanya Keenly balik karena kebingungan. Enak aja, maksud aku jadi nggak kamu antarin aku pulang sekalian kita kerja tugas dari pak David apalagi waktu pengumpulannya sisa 2 hari lagi, ujar si Erika dengan senyam senyum. Jadi dong, kan yang pengen pulang bareng kamu itu aku, sahut Keenly sambil menunjukkan jarinya ke arah dirinya sendiri. Eitssss.....ka tunggu dulu, panggil si Anita sambil berlari kecil menuju mereka berdua. Ada apa Anita kayaknya penting sampe kamu lari-lari begitu, sahut Erika. Kamu lupa ya, kalau kamu mau cerita sesuatukan sama aku?? Aku penasaran sekali Erika kayaknya itu penting sekali sampe kamu dobrak pintu segala dan tidak menyadari kalau Pak David lagi ada di dalam, sahut Anita panjang lebar. Seketika mengingatkan Erika pada kejadian tadi pagi saat Keenly menikmati bibirnya dengan penuh gairah. Sebenarnya Erika mau menceritakan ke Anita sahabatnya kalau Keenly dan dia sudah berciuman. Mending jangan aja deh, apalagi Keenly ada di sini lagi, suara hati Erika. Lain kali aja deh, Anita. Lagian tidak penting-penting amat sih, sambil mengedipkan matanya ke Anita. Ya udah kalau itu tidak penting mending kita pulang aja yuk, ajak Keenly sambil menarik tangan Erika. Kita duluan ya, Anita, ujar Erika dan Keenly serempak. Erika tugasnya kita kerja di kosmu?, tanya Keenly begitu sampai di depan kos Erika. Nggaklah Ken, nanti orang anggapnya bagaimana. Kita kerjanya di cafe depan ya, tapi aku ganti baju dulu, sahut Erika. Ok deh, minta air putihnya ya ka, pinta Keenly pada sahabatnya itu. Kamu ambil sendiri aja Ken, air putihnya di dapur ya, jawab Erika. Begitu Erika selesai ganti baju tiba-tiba hujan turun begitu deras, sehingga membuat Keenly dan Erika gagal pergi ke kafe buat kerja tugas. Aduh, Ken bagaimana nih hujannya deras sekali mana tidak ada payung lagi, sahut Erika dengan kecewa. Ya udah kita tunggu ujan nya reda aja baru pergi, jawab Keenly.