2. Kabar dari HRD

1309 Words
Setelah hari di mana ia melamar pekerjaan di pabrik, Vania selalu menunggu pesan masuk di ponselnya. Ia tidak sabar menunggu keputusan HRD dan berharap agar kabar dari HRD benar-benar datang. Karena jika ia tidak mendapatkan pesan itu, kemungkinan besar ia tidak diterima bekerja di sana. Vania hanya bisa pasrah dengan semua kemungkinan. "Van, gimana udah ada kabar kamu diterima belum?" tanya sang ayah pada Vania. "Belum Yah. Vania jadi takut jika tidak diterima. Bingung juga mau daftar kerja ke mana lagi. Belum ada informasi lowongan pekerjaan lain." Jawab Vania gelisah. "Sabar nak, Ayah doakan semoga kamu diterima kerja di sana. Insya Allah ayah yakin kamu pasti diterima." Ucap ayah Vania memberikan semangat pada putrinya. "Terima kasih Yah. Oh ya, popok ibu udah mau habis Yah, tadi Vania periksa masih sisa 2 pcs aja." Lapor Vania pada sang ayah. "Iya nak, nanti ayah belikan. Uang ayah udah habis buat beli obat ibu. Besok baru dapat uang dari gaji mingguan." Ucap ayah Vania sedih. "emm, terus gimana nanti kalo ibu pipis Yah. Nggak cukup buat sampe besok. Bentar Yah." Ujar Vania. Vania menuju kamarnya, ia ingat masih menyimpan uang yang selalu ayahnya berikan untuk kebutuhan dapur dan kebutuhan pribadi Vania. "Alhamdulillah masih ada sisa uang." Vania tersenyum melihat isi dompetnya yang masih menyisakan dua lembar uang merah. "Nih Yah, uang sisa kebutuhan dapur. Pake uang ini dulu aja." Ucap Vania memberikan uang dua ratus ribu itu. "Ya Allah kok masih ada sih nak. Bukannya ayah kasih uang ke kamu pas-pasan ya buat kebutuhan dapur, sama kebutuhan kamu?" Tanya sang ayah heran. "Vania nggak pake uang yang ayah kasih untuk kebutuhan Vania sendiri Yah. Alhamdulillah semua kebutuhan Vania masih ada. Nggak perlu beli lagi. Lagian Vania kan di rumah terus. Jajan juga jarang." Ucap Vania tersenyum. "Alhamdulillah kalo masih tersisa. Kamu pergi ke minimarket belikan satu bungkus besar aja. Biar masih ada sisa uangnya buat pegangan kamu. Besok ayah terima uang upah mingguan. Nanti ayah tambah buat kebutuhan dapur satu Minggu ke depan." Ujar sang ayah. "baik Yah. Vania ke minimarket dulu ya." Vania mengeluarkan motornya yang sejak tadi masih di dalam rumah. Karena memang ia belum pergi dari pagi. Vania lebih memilih berdiam di rumah sambil menunggu kabar baik dari HRD tempatnya melamar pekerjaan kemarin. "Hati-hati nak. Jangan ngebut." Ingat ayahnya pada Vania. "iya Yah." Jawab Vania. Vania segera menstater motornya. Jarak minimarket lumayan dekat dari rumahnya. Hanya butuh waktu lima sepuluh menit untuk sampai di sana. Selesai membeli popok untuk ibunya, Vania langsung pulang. Karena waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, waktu istirahat ayahnya sudah habis, Vania buru-buru untuk cepat sampai di rumah. Pasti ayahnya sudah menunggu untuk bergantian menjaga ibu Vania. Benar saja, sang ayah sudah menunggunya. Sedangkan adiknya belum pulang dari sekolah. "Ayah berangkat kerja lagi ya nak. Titip ibu." Pamit sang ayah pada Vania. "iya Yah." Vania langsung masuk ke dalam, tak lupa ia menutup pintu depan. Vania menuju kamar orang tuanya. Di sana ibunya masih tidur. Karena belum makan siang, Vania terpaksa membangunkan ibunya agar mau makan. "Bu, bangun dulu ya. Makan siang dulu. Ibu belum makan kan?" ucap Vania lembut. "ehmmm, ibu mau pipis Van. Siapin air sama popoknya." Pinta ibunya pada Vania. "iya Bu. sebentar Vania ambilkan airnya dulu. Ini popoknya udah Vania siapkan. Sini Vania bantu." Vania membantu ibunya memasang popok di bawah p****t ibunya. Popok hanya ibunya pakai saat buang air kecil dan buang air besar. Setelah membantu ibunya untuk buang air kecil, Vania lanjut mengambilkan makan siang untuk sang ibu. Beruntung ibunya masih bisa makan sendiri, jadi Vania dan ayahnya tidak terlalu berat melayani ibunya. Hanya saja, memang kalau buang air kecil butuh bantuan mereka. "Bu, Vania tinggal dulu ya. Nanti kalo butuh bantuan Vania, panggil aja Bu." Ujar Vania pada ibunya. Ibunya pun mengangguk, tanda mengerti. Vania menuju ruang tamu depan. Ia mengambil ponselnya di atas meja makan. Sambil menunggu adiknya pulang sekolah, Vania membuka ponselnya. Betapa senangnya ada notifikasi pesan masuk sejak lima belas menit yang lalu. [Selamat Siang Saudara Vania Anggraini, perkenalkan kami dari HRD PT.Jaya Makmur ingin memberitahukan bahwa saudara Vania lolos wawancara kerja di PT kami. Diharapkan kehadirannya besok pukul 08.00 untuk mengikuti tes selanjutnya.] "Alhamdulillah Ya Allah. Semoga besok lolos tes nya. Aamiin." Vania tampak bersujud di lantai. "Assalamualaikum," ucap salam adik Vania yang baru pulang dari sekolah. "Waalaikumsalam," Vania buru-buru bangun dari posisi sujudnya. "kak Vania ngapain sujud di lantai. Kalo mau sholat di musholla belakang kan bisa." Tegur sang adik. "Hehe kakak baru sujud syukur dek. Tau nggak kenapa kakak sujud?" Sang adik menggelengkan kepala. "Kakak lolos tes wawancara kerja." Ucap Vania dengan sangat senang. "Alhamdulillah, Doni ikut seneng kak dengernya. Semoga kakak bisa diterima kerja ya. Doni doakan semoga kakak bisa sukses nanti. Kalo udah sukses, jangan lupain Doni ya kak." Ucap Doni menggenggam tangan sang kakak. "aamiin. Makasih doanya dek. Kakak nggak akan lupa sama Doni. Kakak janji, kalo kakak sudah bisa menghasilkan uang sendiri, orang pertama yang bakal kakak jajanin itu kamu." Ucap Vania menyentil hidung mungil adiknya. "Yee,, makasih kak Vania." "Sana masuk ganti baju. Langsung makan, itu di meja udah kakak siapkan makanan untuk kamu. Oh ya, sholat dhuhur dulu sebelum makan." Perintah Vania pada Doni adiknya. "Siap kak." Jawab Doni dengan tangan hormat. Vania benar-benar sangat bersyukur. Kini tinggal selangkah lagi tes yang dia harus jalani untuk bisa mulai bekerja. Vania menghampiri ibunya di kamar. Ia menceritakan kabar gembira itu pada sang ibu. "Alhamdulillah kalo kamu mau kerja. Ibu ikut seneng dengernya. Kapan tes nya lagi Van?" tanya ibunya. "besok Bu, doakan Vania ya." "Ibu akan selalu doakan yang terbaik untuk anak ibu." Jawab ibu Vania sambil tersenyum. "Makasih Bu, Vania sayang ibu." Vania memeluk tubuh ibunya. Vania segera membereskan bekas makan ibunya tadi. Lalu, Vania bergegas mencuci semua piring kotor yang tergeletak di wastafel. Sudah jadi rutinitas Vania dalam urusan membersihkan rumah. Bahkan Vania sudah bisa memasak di usia nya yang masih muda itu. Dia sudah belajar mandiri sejak kecil. Karena keterbatasan ekonomi, membuat Vania harus belajar untuk menjadi anak yang bisa apa-apa sendiri. Tak terkecuali bisa mengurus rumah sendirian. ***** Keesokan harinya, Vania berangkat menuju pabrik. Seperti biasa, ia mengendarai sepeda motor miliknya hadiah dari ayahnya waktu ulang tahun 3 tahun yang lalu. Ayahnya khusus membelikan untuk Vania yang sudah mulai memasuki SMA. Walaupun motor bekas, namun Vania sangat senang bisa memiliki kendaraan sendiri. Apalagi hadiah dari ayahnya. "Vania berangkat dulu ya Yah, assalamualaikum." Pamit Vania pada ayahnya. "Waalaikumsalam, hati-hati nak. Jangan ngebut-ngebut." Sesampainya di pabrik, Vania langsung diarahkan satpam untuk menuju ruang HRD. Setelahnya, Vania diantar kepala HRD menuju tempat kerja. Di sana Vania ditanya apakah bisa menjalankan mesin jahit atau tidak. Jelas Vania sangat bisa, bahkan bisa dibilang mahir dalam menggunakan mesin jahit. Dulu, di sekolah juga ada pelajaran tata busana, yang mengharuskan para siswa bisa menggunakan alat pembuat pakaian itu. Vania dibiarkan menjahit bahan kosong yang disediakan. Mulai dari menjahit lurus, sampai menjahit sesuai pola pada kain. "Baik, sudah cukup. Besok kamu bisa langsung bekerja ya. Tapi masih dalam proses training. Kamu besok datang ke line ini lagi ya. Nanti supervisor kamu yang akan mengarahkan di mana posisi tempat kamu bekerja. Sekarang kamu boleh pulang." Ucap kepala HRD setelah dua jam Vania menjalankan tugas dari supervisor. "baik Bu, terimakasih. Besok mulai kerja jam berapa Bu?" tanya Vania sopan. "Jam 8 harus sudah standby di line. Jadi perhitungkan sendiri kamu berangkat dari rumah jam berapa." "Baik terimakasih Bu." "sama-sama." Vania pun segera berlalu meninggalkan tempat kerja itu. Ia menuju parkiran untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Vania tak henti-hentinya mengucap syukur. Akhirnya dia bisa mulai bekerja besok. Namun, sesampainya di rumah, Vania baru terpikirkan tentang ibunya. "Loh, siapa yang akan jagain ibu kalo aku kerja? ayah kan berangkat kerja juga. Doni sekolah, pulang habis dhuhur. Duh, kenapa baru terpikir sekarang. Arrrghhh" Vania baru menyadari itu. Sekarang Ia bingung harus bagaimana. Apa yang harus dia lakukan? "Ya Allah, ada-ada saja kendalanya." Ucap Vania lemas mendadak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD