Vania, seorang gadis yang bekerja sebagai buruh pabrik di kotanya. Vania hanya lulusan SMA. Dulu sewaktu lulus SMA, Vania ingin sekali bisa berkuliah di salah satu universitas di luar kota. Bahkan, Vania sudah mendaftar dan sudah diterima dengan jalur prestasi. Namun, sang ayah yang pekerjaannya hanya buruh harian lepas, melarang anaknya berkuliah. Karena yang ayahnya pikirkan waktu itu adalah masalah biaya.
Sang ayah akan kesulitan saat anaknya tinggal jauh di luar kota. Bagaimana jika dia tidak bisa mengirim uang per bulannya secara lancar, itu lah yang ayahnya pikirkan. Walaupun biaya kuliah Vania gratis, namun tetap saja butuh dana untuk hidup sehari-hari nya di kost nya Vania. Untuk saat itu, sang ayah masih fokus dengan pengobatan ibunya Vania.
"Yah, Vania udah daftar di Universitas Negeri Semarang jurusan Sastra Bahasa Indonesia." Ucap Vania pada sang ayah.
"Kamu yakin mau kuliah nak?" tanya sang ayah meyakinkan putrinya.
"Vania yakin Yah. Vania akan belajar serius. Ayah nggak usah khawatirkan biaya. Kalo nanti Vania diterima jalur prestasi itu, semua biaya gratis Yah." Ucap Vania meyakinkan ayahnya yang masih ragu.
"ya sudah." Hanya itu yang terucap dari mulut sang ayah.
Vania mendengar jawaban ayahnya pun ikut senang. Ada harapan saat ia nanti diterima. Doa Vania hanya satu. Diterima jalur prestasi agar bisa berkuliah sesuai cita-citanya.
Vania sangat mendambakan menjadi guru nanti. Maka dari itu, Vania mendaftar kuliah jurusan sastra bahasa Indonesia.
Mungkin sudah jadi takdirnya, saat hari pengumuman tiba, dengan penuh harapan Vania menanti detik-detik pengumuman melalui daring. Vania membuka situs pengumuman itu. Di sana namanya tertera dalam calon mahasiswi sastra bahasa Indonesia, dengan predikat LULUS.
"Alhamdulillah Ya Allah." Vania bersujud seketika sebagai tanda rasa syukur.
"Ayah, Ayah," panggil Vania pada ayahnya sambil berlari menuju depan rumah.
"kenapa nak? kok teriak-teriak panggil ayah?" tanya sang ayah.
"Vania keterima Yah." Ucap Vania sangat senang.
"Alhamdulillah. Tapi maaf nak, bukannya ayah nggak ngizinin kamu buat kuliah. Tapi ibu," ucapan ayah Vania terhenti.
"ibu kenapa Yah?" tanya Vania gusar.
"ibu masih butuh biaya banyak untuk saat ini. Memang biaya kuliah kamu gratis, ayah tau itu. Tapi bagaimana jika ayah tidak bisa mengirim uang untuk kamu di sana. Ayah takut kamu terlantar di kota orang. Ayah khawatir kamu tidak bisa bertahan merantau." Ucap sang ayah sedih.
Lemas sudah tubuh Vania. Semangatnya luruh seketika mendengar ucapan ayahnya. Kecewa, itu yang Vania rasakan. Di satu sisi, Vania kasihan melihat ibunya sudah tidak bisa apa-apa. Untuk turun dari ranjang pun sulit. Sudah hampir 6 bulan ini, ibunya hanya berada di atas ranjang. Benar apa kata ayahnya, ibunya masih butuh biaya banyak. Untuk makannya, yang selalu pilih-pilih. Obat-obatan dari dokter yang harus selalu dibeli ketika habis. Juga popok yang wajib untuk dibeli. Karena ibunya yang sangat bersih orangnya dulu, ketika sudah pipis, maka harus ganti popok yang baru. Satu hari saja bisa habis 5 popok. Pokoknya masih banyak kebutuhan sang ibu yang tidak bisa dijabarkan satu per satu.
Tanpa berkata sepatah kata apapun, Vania berlalu dari hadapan sang ayah. Tampak raut kekecewaan di sana. Namun Vania tidak bisa mengatakan langsung pada sang ayah. Ia anak berbakti yang tau batasan pada orang tua.
Vania memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Tak terasa air matanya jatuh seketika. Posisinya sungguh sulit. Di sisi lain ia ingin sekali berkuliah dan meraih cita-citanya. Namun, dia tidak boleh egois. Ibunya lebih penting saat ini.
"Apa aku cari kerja part time aja ya. Kerja sambil kuliah." Pikir Vania.
"nggak-nggak. Kalo kuliah sambil kerja mana bisa. Harus fokus salah satu." Pikirnya lagi.
Vania juga memikirkan apa ia akan bisa mendapatkan pekerjaan part time itu, belum tentu langsung dapat. Pokoknya Vania mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi nanti.
Singkatnya, jadwal daftar ulang 3 hari lagi. Seharusnya, Vania hari ini sudah berangkat ke kota Semarang dari kotanya saat ini. Namun, Vania memutuskan untuk tidak pergi. Ia sudah bertekad untuk tidak berkuliah di tahun ini.
Hari demi hari Vania lewati hanya di rumah. Ia kini tidak punya kegiatan apapun selain bersih-bersih rumah dan membantu memasak untuk orang rumah.
"Bosen banget ya di rumah terus. Mau pergi, nggak ada temen. Mana nggak punya uang. Kalo gini terus bisa tambah lebar nih badan. Kerjaannya makan, tidur mulu. huft." Gumam Vania sendiri.
Vania membuka ponselnya. Ia mencari-cari informasi lowongan pekerjaan di media sosial. Ia juga memposting story di w******p nya.
"Van, ada lowongan nih, pabrik pakaian." Balasan story w******p Vania dari Yuna.
"Pabrik mana Yuna?" balas Vania langsung.
Yuna mengirimkan gambar lowongan pekerjaan pabrik itu lengkap dengan alamat dan persyaratan nya.
"makasih Yun, udah kasih info." Balas Vania pada Yuna.
"sama-sama Van." balas Yuna.
Dengan modal informasi dari Yuna, Vania menyiapkan berbagai persyaratan yang tercantum di sana.
"Oke, udah selesai. Tinggal dikirim ke alamat aja. Besok deh aku ke sana. Bismillahirrahmanirrahim semoga diterima." Ucap Vania.
Keesokannya, Vania seperti biasa bangun sebelum subuh. Ia menyiapkan sarapan untuknya dan untuk sang ayah dan juga adiknya. Setelahnya, ia langsung mandi.
"Vania, kamu di kamar mandi?" tanya sang ayah yang mencoba masuk ke kamar mandi namun terkunci.
"iya Yah." Jawab Vania.
"tumben banget kamu jam segini udah mandi." Ucap ayahnya sedikit heran pada putrinya.
"Vania ada urusan Yah. makanya mandi pagi-pagi." Jawab Vania lagi.
"ya udah cepetan, ayah udah kebelet pup ini. Jangan lama-lama." Pinta ayah Vania.
"Iya-iya." Jawab Vania sambil terus mengguyur tubuhnya dengan air.
Selesai mandi, Vania langsung keluar dengan handuknya. Ia merasa sangat kedinginan. Sudah lama ia tidak mandi di pagi hari seperti ini, sejak lulus sekolah. Sudah hampir satu bulan ia mandi di siang hari. Karena tidak ada aktivitas di luar rumah.
Vania sudah berganti pakaian. Ia memakai pakaian celana hitam dan kemeja putih. Pukul tujuh pagi ia sudah siap untuk sarapan. Tepat pukul delapan, Vania bergegas mengeluarkan motornya.
"Kamu mau ke mana sih sebenernya nak? kok pakaian kamu kayak orang mau magang." Tanya ayah Vania heran sekaligus penasaran.
"Vania mau daftar kerja Yah." Jawab Vania lirih.
"Kerja di mana?" tanya ayahnya lagi.
"Di pabrik. Doakan Vania ya Yah." Ucap Vania meminta doa restu dari ayahnya.
Sang ayah kini meneteskan air mata.
"Loh ayah kok nangis sih." Ucap Vania melihat ayahnya meneteskan butiran bening itu.
"Maafin ayah ya nak. Gara-gara ayah kamu jadi gagal kuliah." Ucap sang ayah merasa kasihan melihat putrinya harus membuang jauh mimpi dan cita-citanya.
"nggak apa-apa kok Yah. Vania masih bisa kerja kalaupun gagal kuliah. Bosen juga lama-lama di rumah aja. Nggak ada kegiatan." Jawab Vania sambil tersenyum.
Vania pun pamit pada sang ayah. Dalam perjalanan menuju pabrik, Vania berdoa selalu agar langsung diterima. Ia berpikir mungkin akan menunggu lama nanti panggilan dari HRD. Namun Vania terus berdoa agar dirinya bisa langsung kerja tanpa menunggu terlalu lama. Karena ia sudah sangat merasa bosan berdiam diri di dalam rumah.
Sesampainya di pabrik, Vania menuju pos satpam. Ia menanyakan perihal lamaran pekerjaan pada satpam.
"Permisi pak, selamat pagi." Sapa Vania sopan pada satpam yang berjaga.
"Selamat pagi. Ada perlu apa dek?" Tanya Satpam.
"Saya mau melamar kerja Pak." Ucap Vania dengan tersenyum.
"Oh ya dek. Silahkan langsung masuk. Kebetulan kepala HRD sudah di ruangannya. Mari ikut saya." Ajak Satpam mempersilahkan Vania masuk.
"Baik terima kasih Pak."
"Motornya dibawa masuk sekalian ya dek. Parkir di sana."
Vania mengangguk. Ia mengikuti arahan satpam. Saat sudah sampai di depan ruangan kepala HRD, jantung Vania tiba-tiba berdegup kencang. Ia sangat merasa deg-degan saat ingin memasuki ruangan itu.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Terdengar suara wanita dari dalam.
Vania pun masuk dan mengucapkan salam. Ia ditanyai kepentingannya datang ke sana, serta ditanya seputar pengalamannya dalam bekerja.
Vania yang baru lulus Sekolah Menengah Atas itu pun menjelaskan secara detail tentang biodata dirinya, serta keinginannya melamar pekerjaan di pabrik itu.
Dugaan Vania salah, ternyata wawancara kerja tidak menakutkan. Justru sangat santai pembawaan kepala HRD dalam menanyai berbagai pertanyaan juga menanggapinya.
"Baik, CV nya bisa ditinggal di sini. Nanti akan ada panggilan w******p atau pesan di w******p jika dek Vania di terima." Ucap Kepala HRD.
"baik, terima kasih Bu, saya permisi dulu."
Vania keluar dari ruangan HRD dengan nafas lega.