Beberapa mobil terparkir di halaman depan rumah. Suasana ruang tamu pun begitu ramai. Terdengar obrolan-obrolan ringan dari beberapa wanita di dalamnya. Sesekali mereka pun tertawa bersama.
Arga mengernyitkan dahinya ketika baru saja melewati turun dari mobilnya. Dia tidak mengerti ada acara apa sehingga ada banyak orang di rumahnya.
Baru saja berada di ambang pintu, tiba-tiba Tisha memeluk dan menciumnya. Arga terkesiap dengan tindakan Tisha tersebut. Pasalnya Tisha tak pernah seperti itu sebelumnya. Apa lagi kini di hadapan mereka sedang berkumpul para wanita yang entah siapa.
"Mas, mau makan siang di rumah kan?" Tanya Tisha sambil tangannya ia kaitkan di lengan Arga. Arga hanya mengangguk.
"Duh so sweet banget si Sha." Celetuk salah satu wanita yang ada di sana. Tisha pun tersenyum menanggapinya.
"Tunggu sebentar ya, aku mau siapkan makan siang buat suamiku ya." Ucap Tisha pada teman-temannya.
"Ok." Sahut teman-temannya kompak.
???
"Kamu ikut arisan?" Tanya Arga saat Tisha menyajikan makanan di piringnya.
"Tidak, cuma kangen aja sama mereka. Jadi aku undang mereka ke sini. Sekalian mau promosikan lagi butik ku ke mereka." Jawab Tisha kemudian duduk di samping Arga.
"Butik? Memangnya sekarang kau akan kembali mengurus butik?" Tanya Arga lagi.
"Cuma promosi saja kok. Sita bilang penjualan bulan ini agak menurun." Tisha menjawab sembari memandangi suaminya yang sedang menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Oh ya Mas, apa belakangan ini Mas suka pergi ke butik?" Arga tersedak dengan pertanyaan Tisha.
Tisha segera menyodorkan air putih untuk Arga. Arga pun meminumnya dan Tisha menepuk-nepuk punggung Arga.
"Aku hanya sesekali mampir, kenapa memangnya?" Arga sedikit tergagap.
"Tidak apa-apa, mungkin saja kamu tau sesuatu tentang Sita. Kata beberapa karyawan, belakangan ini Sita sering terlambat datang atau pulang sebelum butik tutup." Ujar Tisha.
"Mungkin dia ada urusan keluarga atau ada keperluan lain."
"Entahlah, mungkin saja begitu. Hanya saja aku berharap dia terbuka padaku kalau seandainya dia ada masalah. Aku kan sangat percaya padanya makanya aku serahkan semua urusan butik padanya. Aku harap dia mau berkata jujur padaku." Tisha menyangga dagunya dengan tangannya.
"Kau tidak usah berpikir macam-macam tentang Sita. Nanti aku coba tanyakan padanya kenapa dia sering terlambat." Arga kembali menyantap makan siangnya dengan lahap.
Tisha mengernyit menatap Arga heran, apa Arga sedekat itu dengan Sita? Sampai mau menanyakan masalahnya.
"Mas, kamu habiskan makannya ya, aku mau ke depan lagi menemui teman-temanku." Arga mengangguki ucapan Tisha.
???
"Sha aku pulang duluan ya." Ucap Selly sahabat Tisha saat Tisha tiba di ruang tamu.
"Kok buru-buru sih?" Sahut Tisha.
"Em.. aku ada urusan penting." Kata Selly lagi.
"Iya ih, kita kan baru kumpul lagi masa udah mau pulang." Siska pun mencoba mencegah Selly.
"Lain kali aja kita kumpul lagi. Aku benar-benar harus pulang nih."
"Ya udah deh gak apa-apa, tapi lain kali kita kumpul lagi ya." Tisha mengantar Selly sampai ke teras rumahnya.
"Kamu bawa mobil kan? Tanya Tisha.
"Tadi aku diantar adikku sekalian dia pergi kuliah." Jawab Selly.
"Terus pulangnya gimana?"
"Aku naik taksi aja." Ucap Selly.
"Biar aku yang antar Selly." Suara Arga tiba-tiba menginterupsi.
"Tidak usah Mas, saya bisa naik taksi." Tolak Selly.
"Sayang, tidak apa kan kalau aku antar Selly pulang? Lagi pula searah dengan kantorku." Arga menatap Tisha. Tisha pun hanya mengangguk saja.
Selly tersenyum canggung pada Tisha saat ia masuk ke dalam mobil Arga.
Tisha kembali masuk setelah Arga dan Selly lenyap dari pandangannya.
"Selly udah pulang?" Tanya Siska sesaat setelah Tisha masuk.
"Aneh banget deh si Selly tiba-tiba jadi gelisah gitu terus pengen pulang." Celetuk Nurma.
"Denger-denger si Selly itu lagi deket sama pengusaha kaya katanya." Sofia pun mulai bergosip.
"Kamu jangan asal kalau bicara, nanti jadi fitnah." Sahut Tisha.
"Fitnah gimana sih? Kan aku bilang katanya. Aku juga kata orang lain." Sofia menegaskan kembali.
"Tapi bisa jadi benar juga, lihat saja dia sampai sekarang belum menikah. Aku saja sudah punya anak gadis." Timpal Nurma.
"Aku juga pernah dengar sih dari Selly sendiri katanya dia itu takut untuk berkomitmen." Siska pun turut menimpali.
Teman-teman Tisha terus berceloteh membicarakan Selly. Tisha sendiri sudah tidak fokus lagi dengan obrolan teman-temannya. Pikirannya melayang memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.
Dia ingat betul ucapan Zack yang mengatakan bahwa selingkuhan Arga adalah wanita yang cerdas. Tisha berpikir tentang kemungkinan salah satu dari dua orang yang ia kenal adalah selingkuhan Arga. Dua nama yang sudah ia tandai saat ini, Sita dan Selly.
???