Part 6 Sandiwara

1099 Words
Entah sandiwara apa yang sedang diperankan suaminya. Kini Tisha menatap nanar pada Arga yang masih sibuk dengan ponselnya. Tisha menyesal karena telah menanggalkan kontrasepsinya sebelum ia berangkat ke Lombok. Tiga malam mereka menghabiskan waktu layaknya pengantin baru. Mereka memang suami istri dan wajar saja kalau mereka melakukannya. Kalaupun ada benih yang tumbuh, tentu itu merupakan anugrah dari Yang Kuasa. Tapi mendengar kenyataan itu membuat Tisha takut seandainya benih Arga kembali tumbuh di rahimnya. Bayangan perpisahan itu begitu nyata di depan matanya. Entah masa depan seperti apa yang akan ia berikan pada anaknya kelak kalau sampai mereka benar-benar berpisah. Ini bukan tentang materi tapi tentang kasih sayang yang utuh yang diinginkan setiap anak dari orang tuanya. Terlepas dari semua itu, Tisha pun tak sanggup bila setiap saat ia harus dihantui dengan bayangan sang suami yang memadu kasih dengan wanita lain. "Sayang, kau habis telpon siapa?" Arga sudah ada disampingnya merangkul pundak Tisha dengan mesra. Pertanyaan Arga membuyarkan lamunan Tisha. Dia tak menyadari ketika Arga berjalan mendekat padanya. Tisha seakan tak mampu melihat apapun selain bayangan masa depan suram baginya dan anak-anaknya kelak. Tisha segera tersadar dan mengingat kembali ucapan Zack barusan. Kalau suaminnya pandai bersandiwara di depannya maka ia pun akan mengikuti permainan drama suaminya tersebut. Tisha akan mulai bermanja pada Arga agar Arga merasa Tisha sangat membutuhkanya. Biarkan Arga merasa menang untuk saat ini. Karena setelah ini Tisha yang akan membuat Arga menangis darah di hadapannya. Karena walau bagaimanapun ada peran Tisha di balik kesuksesan Arga saat ini. Tisha menyandarkan kepalanya di d**a Arga. Tangan Arga terulur membelai surai panjang Tisha. Tak lupa kecupan pun berkali-kali ian daratkan di puncak kepala Tisha. Dalam hati Tisha mengumpat pada sang suami. Benar-benar peran yang sempurna. Tisha pun berlaga seolah sangat menikmati kemesraan yang Arga berikan padahal rasanya ingin sekali muntah membayangkan bahwa kemesraan itu pun ia berikan pada wanita lain. "Lihat saja Arga, kau akan sangat menyesali perbuatanmu ini. Karena tanpa campur tanganku dan Papa, bisnis receh mu itu tak akan sesukses sekarang. Jika kalian mengendap-ngendap maka aku akan berjalan dengan tegak dan tenang dihadapan kalian." Batin Tisha. "Kenapa Mas lama sekali telponannya?" Suara Tisha mendayu-dayu. "Biasalah kalau ada masalah harus aku sendiri yang mengatasi. Padahal hanya masalah kecil saja." Jawab Arga dengan begitu lembut. "Apa kita harus pulang? Agar Mas bisa membereskan masalah di perusahaan." Tanya Tisha. "Entahlah, tunggu saja kabar dari mereka lagi. Kalau sudah mereka atasi ya kita akan lanjutkan bulan madu kita." Ujar Arga. ??? Arga benar-benar harus pulang dan membereskan masalah perusahaannya yang katanya hanya masalah kecil. Sepanjang perjalanan pulang Tisha tak henti mengembangkan senyumnya. Tisha berkata bahwa ia sangat bahagia dengan bulan madu mereka. Padahal Tisha senang karena Zack sudah mulai bergerak. Masalah perusahaan Arga tak lain adalah hasil dari pekerjaan Zack. Sampai dirumah, Arga langsung berangkat ke perusahaannya. Dan Tisha pun langsung meminta bertemu dengan Zack. "Apa lagi yang kau dapat Zack?" Tanya Tisha saat baru tiba di hadapan pria itu. "Aku belum bisa memastikan, tapi yang jelas wanita ini cukup tau tentang seluk beluk rumah tanggamu. Karena itu, aku sarankan kau untuk tidak menceritakan masalahmu pada siapapun kecuali orang tua mu. Itupun kalau kau sudah siap mengatakannya." Zack menjawab panjang lebar. "Bisa saja salah satu teman mu yang jadi pelaku sebenarnya." Imbuh Zack lagi. "Dengar Tisha, kau tidak boleh memperlihatkan kecurigaanmu di depannya. Yakinkan dia kalau kau sangat mempercayainya. Sampai saat dia lengah kau bisa menjatuhkannya sampai ia terperosok sangat dalam." Tegas Zack. Tisha hanya mengangguk mengiyakan kata-kata Zack. ??? Tisha pulang lebih awal sebelum Arga pulang. Keadaan rumah cukup sepi, karena putrinya yang cerewet itu masih bersama Oma nya. Satu jam kemudian terdengar suara mobil memasuki garasi. Tisha sudah bisa menebak siapa yang datang. Arga pulang dengan wajah kusutnya. Mungkin ia lelah setelah perjalanan jauh dan harus langsung menangani pekerjaannya. "Mas, kamu kok kusut banget sih?" Tisha segera menghampiri suaminya dan mengusap wajah lelah itu dengan sayang. Arga tersenyum dengan sambutan manis sang istri. Dia tidak tau kalau sebenarnya Tisha sedang mengejeknya. "Iya aku capek sekali." Jawab Arga kemudian mengecup dahi Tisha. "Ya sudah, lebih baik Mas mandi terus istirahat. Biar aku saja yang jemput Alyta." Arga pun mengangguk. ??? Keesokan harinya disebuah rumah sederhana bergaya minimalis, seorang wanita muda sedang berteriak memaki seseorang. "Mas tega lakukan ini sama aku?" Teriak gadis itu. "Kau bahkan tak sekalipun menghubungiku." Ia kembali berteriak. "Bukankah ini juga salah satu cara kita mencapai tujuan kita?" Tanya Arga. "Tapi bukan berarti kau menikmatinya dan kemudian melupakanku?" Gadis itu bahkan memukul Arga dengan keras. "Aku pria normal, dan Tisha wanita cantik yang memiliki tubuh sempurna. Pria manapun tak akan bisa menolak seguhan yang dia berikan." Jawaban Arga semakin membuat geram sang gadis. "Breng**k kamu Mas, breng**k." Teriakannya kali ini jauh lebih keras. "Kendalikan dirimu. Kau tau aku bahkan sudah hidup bersamanya selama sepuluh tahun. Aku bahkan sudah memiliki seorang anak dengannya. Kau tentu tau aku sering melakukannya dengan Tisha. Kenapa sekarang kau mempermasalahkan hal itu?" Arga mengekang tangan gadis itu di belakang tubuhnya. "Karena aku sudah muak dengan semua ini. Aku sudah lelah menyembunyikan semua ini. Aku ingin dia tau siapa aku. Hanya aku yang berhak atas diri mu bukan dia. Aku ingin memilikimu seutuhnya." Gadis itu masih berteriak namun kali ini aur matanya pun turut membasahi wajahnya. Arga mendekap erat tubuh sang gadis. Dia tau saat ini gadisnya tengan terbakar cemburu. "Katakan padanya kalau kau hanya mencintaiku. Katakan bahwa cintamu padanya hanya omong kosong." Suara gadis itu begetar karena tangisnya. "Dia sudah memiliki segalanya. Jadi biarkan aku yang memilikimu seutuhnya. Aku sudah tak menginginkan apapun lagi selain dirimu. Aku ingin kau mengatakan pada semua orang bahwa hanya aku pemilik hati mu yang sesungguhnya. Aku lelah menjadi simpanan mu Mas." Gadis itu tergugu pilu dalam tangisnya. Sekuat apapun ia mencoba untuk bertahan dengan statusnya yang hanya simpanan, nyatanya kini ia merasa tak sanggup lagi menanggung beban rindu dan cemburu yang kian hari kian menyiksa jiwanya. Arga tak mampu berkata apapun lagi. Kini gadis tangguhnya telah rapuh. Keangkuhannya seakan menguap dari jiwanya. Keadaan yang sulit bagi Arga bila ia harus memilih salah satunya. Di satu sisi dia sangat mencintai gadis itu dan tak ingin menyakiti hatinya. Di sisi lain ia ketergantungan pada Tisha dan keluarganya. Tanpa mereke bisnis dan karirnya pasti hancur berkeping-keping. Apa lagi setelah mereka mengetahui penghianatannya pada Tisha, tentu mereka tak akan membiarkan hidupnya tenang. Kekuasaan yang dimiliki keluarga Tisha sangat besar dan kokoh. Semua yang diraih Arga saat ini tak luput dari peran Papanya Tisha yang memiliki jabatan yang cukup berpengaruh di negeri ini. Dia tak ingin perusahaan yang ia bangun dari nol itu hancur begitu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD