Arga segera menoleh ketika mendengar teriakan Tisha. Segera pula ia berlari merengkuh tubuh sang istri. Tangisnya pecah seakan menyesali segala perbuatannya.
Keadaan kamar begitu kacau, semua barang-barang di kamar itu berhamburan. Bahkan cermin meja rias Tisha pun pecah tak berbentuk lagi.
Sebelumya ART nya mengatakan kalau Arga mengamuk membanting apapun yang ada di dekatnya. Tak ada yang berani mendekat ataupun menghentikannya, karena semua yang mendekat pasti akan ia maki.
Tisha hanya diam saat Arga memeluknya begitu erat. Dia tak menyangka kalau Arga bisa sekacau ini padahal baru semalam saja ia tinggalkan.
Arga luruh dan memeluk kedua kaki Tisha.
"Aku mohon maafkan aku. Aku tau aku salah. Setidaknya berilah aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Arga berucap dengan diiringi tangis yang meraung-raung.
Sulit dipercaya memang, tapi melihat keadaan Arga sekacau itu membuat sisi lembut Tisha terusik. Hatinya yang membeku seakan mencair kembali. Dengan berurai air mata, Tisha berjongkok menyetarakan diri dengan posisi Arga.
"Bangunlah Mas, kau tak pantas berlutut di kakiku. Kalau kau memang menyesali perbuatanmu, maka minta ampunlah pada Tuhan atas dosa-dosa mu." Bibir Tisha bergetar saat mengatakanya.
"Setelah kau memaafkanku dan kembali ke rumah ini lagi, berkumpul bersama lagi, maka aku akan meminta ampunan kepada Tuhan." Arga masih terisak.
"Baiklah Mas, aku akan memberimu satu kesempatan dan aku memaafkanmu. Jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." Tegas Tisha.
"Sungguh kau memaafkanku sayang?" Tanya Arga memastikan. Tisha pun mengangguk.
Arga kembali memeluk Tisha dan dengan bodohnya Tisha membalas pelukan Arga. Ternyata yang membuat bodoh itu cinta bukan micin.
Arga tak henti-hentinya mengucapkan kata terima kasih pada Tisha seraya menciumi seluruh wajah Tisha. Perlakuan Arga yang manis itu membuat Tisha merasa suaminya memang telah kembali.
"Sudah sudah Mas, berhenti menciumku." Ucap Tisha dengan wajah meronanya.
"Aku kangen sama kamu sayang. Aku bisa gila kalau kau benar-benar pergi." Arga menatap lekat pada Tisha. Tisha pun tersenyum.
"Mas, Alyta dan Hasna di rumah Papa, kita jemput mereka sekarang yuk?" Ajak Tisha.
"Ah anak itu, hampir aku lupa kalau kita punya buntut. Aku merasa sekarang kita seperti pengantin baru."
Tisha terkekeh mendengar ucapan Arga yang absurd.
"Mas ini ada-ada saja." Tisha menggelengkan kepalanya.
"Sepuluh tahun lalu kita ini memang pengantin baru." Tambahnya lagi.
"Apa? Sepuluh tahun lalu? Maksudmu hari ini-" Arga menghentikan ucapannya saat menatap Tisha yang menganggukan kepalanya.
Arga kembali medekap Tisha.
"Maafkan aku sekali lagi. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri sampai melupakan hari istimewa kita."
"Iya Mas, sekarang kita kerumah Mama. Mama bilang ingin memberi kado untuk kita."
"Kado? Kado apa?" Arga mengendurkan pelukannya dan menatap dalam mata Tisha. Tisha mengedikan bahunya.
???
Arga memarkir mobilnya di samping mobil Papanya Tisha. Tak jauh dari tempatnya parkir juga ada deretan mobil-mobil mewah koleksi Papanya Tisha. Karena selain menjadi pejabat, Papanya Tisha juga memiliki usaha properti. Sudah bisa di pastikan seberapa banyak harta yang mereka miliki.
Arga membukakan pintu mobil untuk Tisha dan meraih tangan Sang Istri untuk di gandengnya. Belum juga masuk ke dalam, rupanya Alyta sudah menyambut mereka di teras di ikuti Hasna di belakangnya yang menyunggingkan senyum.
Arga langsung meraih tubuh kecil sang putri kemudian membawanya berputar-putar.
"Sayang Papa kangen banget sama kamu." Ucap Arga sambil memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi chuby Alyta.
Hasna melirik Tisha seolah bertanya apa yang telah terjadi? Tisha pun mengerti arti tatapan Hasna namun ia hanya menjawab dengan senyuman. Hasna pun mengacungkan jempolnya.
Sesaat kemudian mereka memasuki rumah mewah milik orang tua Tisha. Papa dan Mamanya pun menyambut hangat kedatangan putri dan menantu mereka satu-satunya itu.
Tisha yang memang anak tunggal pun terlihat begitu manja pada Papanya. Terbukti dengan ia yang duduk di samping sang Papa sambil menggelayuti tangan Papanya.
"Kau ini sudah dewasa sudah punya anak, masih saja manja." Ujar Papanya.
"Tisha kan jarang ketemu Papa. Papa sama Mas Arga itu sama saja selalu sibuk mengurus pekerjaan." Sahut Tisha semakin manja.
"Lihat saja, kau dan Alyta sama saja. Padahal Alyta itu anakmu tapi kelakuan kalian sama." Ejek sang Mama.
Tisha acuh saja dengan ucapan Mamanya.
"Ini untuk kalian berdua." Mama Tisha menyodorkan sebuah kotak yang di ikat dengan pita warna merah.
Tisha melepaskan diri dari pelukan Papanya dan beralih menerima kotak yang diberikan Mamanya.
Tisha menggeser duduknya merapat dengan Arga yang sedang memangku Alyta. Ia kemudian membuka kotak tersebut. Ternyata isinya tiket bulan madu ke Lombok. Sebenarnya Tisha sudah tau isi hadiah dari Mamanya, hanya saja ia belum tau ke mana tujuannya.
"Mama tidak usah repot-repot begini." Arga merasa sungkan.
"Mama tau kalian juga mampu membeli tiket itu dengan uang kalian sendiri. Tapi Mama yakin kalau kalian pasti tak pernah memikirkan hal itu kan?" Ucap Mama Tisha.
Arga menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari tersenyum.
"Malam ini biar Alyta tinggal di sini sampai kalian kembali. Lagi pula besok kan weekend, Mama akan ajak Alyta jalan-jalan." Tambahnya lagi.
"Benarkah itu Oma? Besok Oma mau ajak Alyta jalan-jalan?" Alyta sumringah.
"Tentu saja." Alyta pun turun dari pangkuan Arga dan bersorak gembira kemudian memeluk Omanya.
Semua orang nampak senang hari itu. Senyum pun tak pudar dari bibir Tisha.
???
Hari ketiga di Lombok, Ponsel Arga berdering berkali-kali. Entah sudah dering keberapa Arga baru mendengarnya. Dia tidur sangat lelap. Begitupun dengan Tisha yang berada dalam pelukannya dan hanya berbalut selimut. Mereka kelelahan setelah menghabiskan malam panas berdua.
Dengan mata setengah terpejam Arga meraba ponselnya di atas nakas. Setelah menemukannya ia pun meraihnya tanpa melepas pelukannya dengan Tisha.
Merasa ada pergerakan tangan Arga, Tisha pun mengerjapkan matanya, Ia mulai terusik. Arga menekan icon menerima panggilan.
"Hallo." Sapa Arga dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Selamat siang Pak! Maaf kalau saya menggangu, tapi ini penting." Sahut suara di sebrang telpon. Tisha pun dapat mendengar suara itu. Suara Asisten nya Arga. Tisha sudah bisa menebak pasti ada urusan pekerjaan.
Arga bangun dan berpindah duduk di balkon. Dia terlibat pembicaraan serius dengan Asisten nya. Entah ada masalah apa yang terjadi di perusahaannya. Tisha membiarkan Arga yang tengah membahas pekerjaan dengan orang kepercayaannya tersebut.
Omong-omong soal pekerjaan, Tisha jadi ingat dengan Zack. Zack belum melaporkan hasil kerjanya untuk membereskan selingkuhan Arga. Tidak biasanya Zack bekerja lamban begitu.
Karena terlena dengan kebahagiaannya saat ini membuat Tisha lupa menyelesaikan urusannya yang satu itu. Tisha melirik suaminya, sepertinya Arga masih lama berdebat dengan Asistennya tersebut. Tisha pun meraih ponselnya dan mendial nomor Zack. Tak butuh waktu lama Zack sudah menjawab panggilannya.
"Hallo, bagaimana hasil kerjamu? Kenapa kau belum mengatakan apa pun padaku." Tisha setengah berbisik, khawatir Arga mendengar obrolannya dengan Zack.
"Tisha, sepertinya yang kau hadapi bukan perempuan biasa tapi perempuan berbisa." Sahut Zack.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." Tisha masih celingukan seperti seekor kucing yang mencuri ikan.
"Dengarkan aku baik-baik ya."
"Iya aku tak akan memotong ucapan mu"
"Model yang kemarin itu bukan selingkuhan Arga. Aku mengikutinya dan aku baru tau kalau ponsel miliknya itu baru ia dapatkan sesaat sebelum kau menghubungiku. Dan setelah aku selidiki lagi ternyata memang benar dia tak memiliki hubungan apa pun dengan suamimu.
Bahkan ia pun tak tau sama sekali wajah suamimu meskipun ia tengah menjadi model iklan produk baru perusahaan suamimu.
Dan wanita yang menjadi selingkuhan suamimu itu benar-benar cerdas dan licik. Dia sudah mengantisipasi semuanya dengan teliti. Aku yakin hubungan mereka bukan soal wanita itu butuh uang, melainkan lebih spesial dari sekedar uang.
Dia seperti ular berbisa yang berjalan mengendap-ngendap kemudian menggigit mangsanya. Aku masih berusaha mencari tau tentangnya. Yang pasti saat ini hubungan mereka belum berakhir.
Aku sarankan pada mu untuk berhati-hati. Jangan kau terlalu percaya dengan suamimu. Bisa saja sikap baiknya saat ini hanya pura-pura."
Panjang lebar Zack menjelaskan. Ingin rasanya Tisha tak percaya pada Zack. Tapi Zack juga tak mungkin berbicara sembarangan. Tisha melirik lagi ke arah balkon di mana suaminya sedang berbicara di telpon.
"Baiklah Zack aku akan berhati-hati. Kau segera cari tau tentang wanita itu. Aku ingin dengar berita bagus secepatnya." Tisha memutuskan panggilannya.
Rupanya Tisha salah besar jika mengira suaminya telah menyadari kesalahannya. Tisha merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh telah mempercayai segala ucapan Arga.
Tisha terus mengingat-ingat siapa saja wanita yang ia dan Arga kenal yang kemungkinan menjadi selingkuhan Arga. Siapa sebenarnya wanita itu?
???