Kertas itu masih bergetar di tangan Aruna. Tulisan hitam yang tercetak di atasnya seperti api yang membakar matanya
‘Kau tidak akan aman, bahkan di markas sekalipun Aruna.’
Ia memandanginya lama, jemarinya gemetar, napasnya pendek. Kata-kata itu menusuk, membuat tubuhnya dingin seolah darah berhenti mengalir. Ia tidak tahu siapa yang menaruhnya di kamarnya, apalagi bagaimana bisa lolos dari penjagaan ketat. Yang jelas, ini bukan sekadar ancaman biasa.
Pintu kamar terbuka tiba-tiba. Aruna refleks menyembunyikan kertas itu di belakang punggung, tapi terlambat.
“Aruna?” Suara Jenderal Wiratmaja berat dan penuh wibawa. Tatapannya yang tajam segera menangkap secarik kertas di tangan cucunya. Sekali sentakan, kertas itu berpindah ke tangannya.
Aruna tercekat. “Kakek, itu...”
Wiratmaja membaca cepat, wajahnya mengeras. Rahangnya mengatup rapat, kerutan di dahinya semakin dalam.
“Raka!” panggilnya lantang.
Ajudan itu masuk seketika, langkahnya tegas, mata langsung menyapu situasi. “Siap, Jenderal.”
Wiratmaja menyerahkan kertas itu padanya. “Ini bukan main-main. Lacak dari mana pesan ini bisa masuk. Perketat pengawasan. Tidak ada celah sedikit pun.”
Raka menatap sekilas tulisan di kertas, ekspresinya tetap dingin, tapi sorot matanya mengeras. “Baik, Jenderal.”
Aruna menggenggam sprei erat-erat. “Kakek… ini sudah keterlaluan. A-aku tidak tahan lagi!” suaranya pecah, penuh emosi yang ia pendam sejak awal. “Aku bukan tawanan! Aku dokter, aku punya pasien, hidupku bukan hanya duduk terkurung dan menunggu ancaman datang!”
Wiratmaja menoleh padanya, sorot matanya berubah sedikit lebih lembut, meski tetap keras. “Aruna, kau harus mengerti. Ancaman ini bukan mainan. Kalau mereka bisa menembus penjagaan sampai masuk ke kamarmu, itu artinya mereka jauh lebih berbahaya dari yang kau kira.”
Aruna menggeleng keras, air matanya menetes. “Lalu apa? Selamanya aku dikurung? Apa bedanya aku dengan burung di sangkar emas itu?!”
Ruangan hening sesaat. Wiratmaja menatap cucunya lama, seperti ingin menenangkan tapi tak bisa. Ia lalu memberi isyarat pada Raka untuk tetap berjaga, sebelum akhirnya keluar meninggalkan kamar.
Pintu menutup. Hanya ada Aruna dan Raka.
Keheningan terasa menyesakkan. Aruna berdiri membelakangi Raka, pundaknya naik turun menahan tangis. “Kau lihat sendiri, kan? Hidupku sekarang bahkan bukan milikku lagi…”
Raka tidak langsung menjawab. Suaranya akhirnya terdengar, datar tapi berat. “Lebih baik kehilangan kebebasan sebentar, daripada kehilangan nyawa selamanya.”
Aruna berbalik, matanya merah. “Kau bicara seakan nyawaku Cuma sekadar misi bagimu!”
Tatapan Raka menusuk, tapi ada kilatan yang sulit diartikan. “Karena memang begitu tugasku.”
Jawaban itu membuat d**a Aruna semakin sesak. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia hanya bisa duduk di ranjang, menutup wajah dengan kedua tangan.
Malam itu berjalan lambat. Hening, tapi penuh kegelisahan. Aruna berulang kali memandang langit-langit, matanya tak bisa terpejam. Pikiran tentang kertas ancaman, tatapan dingin Raka, dan sikap kakeknya bercampur menjadi simpul yang tak bisa diurai.
Ia akhirnya bangkit, hendak mencari air. Langkahnya terhenti ketika samar-samar terdengar suara rendah dari luar kamar.
Aruna menahan napas, mendekat ke celah pintu yang sedikit terbuka. Ia mengenali suara itu. Raka.
Bukan suara komando, bukan pula nada dingin yang biasa ia dengar. Suara itu rendah, berat, seperti gumaman yang pecah dari celah yang seharusnya rapat terkunci.
“Ya Allah…” hening sesaat, terdengar helaan napas panjang. “Ampuni aku… jangan biarkan kesalahan lama mengulang.”
Aruna membeku. Kata-kata itu pendek, patah-patah, seakan dipaksa keluar dari mulut yang enggan berbicara.
Lalu, lirih sekali, hampir tidak terdengar.
“Ayah...”
Aruna menutup mulutnya, jantungnya berdentum keras. Kata itu membuat dadanya ikut sesak, meski ia tidak mengerti sepenuhnya.
Raka tidak melanjutkan. Hanya ada hening. Kemudian suara langkah menjauh, tenang, seolah tidak pernah ada doa itu.
Aruna mundur ke ranjang dengan hati kacau. Ia tidak tahu harus merasa apa. Kaget? Bingung? Atau… iba? Yang jelas, sosok Raka yang ia kira hanya dinding baja ternyata punya celah retak. Celah yang membuatnya semakin sulit memahami siapa pria itu sebenarnya.
Malam itu, ia tak bisa tidur. Suara lirih itu terus menggema di kepalanya, bersama bayangan kertas ancaman yang masih terasa panas di tangannya.