BAB 6

2000 Words
Hujan malam turun tipis di atap markas militer, ritmenya konstan seperti genderang samar yang tak pernah berhenti. Aruna, yang baru saja selesai mengecek kembali catatan pasien sore tadi, mendapati tubuhnya masih tegang. Dua malam berturut-turut ia tak bisa tidur dengan tenang sejak surat teror ditemukan di kamarnya. Kata-kata itu masih melekat seperti duri yang menolak dicabut: “Kau tidak akan selamat, seperti ayahmu.” Ia mencoba mengusir bayangan itu dengan sibuk menulis laporan medis, menata lemari obat. Namun keheningan malam markas lebih kuat. Belum genap lima menit ia merebahkan tubuh di ranjang tipis barak medis, telepon darurat berdering nyaring. Aruna tersentak, langsung meraih gagangnya. “Dokter Aruna?” suara seorang perwira jaga terdengar tergesa. “Ya, saya sendiri.” “Kami butuh Anda di ruang operasi sekarang. Ada pasien kritis.” Jantung Aruna berdegup cepat. “Siapa pasiennya?” “Tidak bisa dijelaskan lewat telepon. Segera turun.” Sambungan terputus begitu saja. Aruna buru-buru mengenakan jas putih, menenteng tas medis daruratnya, lalu melangkah keluar barak. Udara malam menusuk, aroma besi yang lembab karena hujan. Dan seperti sudah diduga, Raka sudah menunggu di depan pintu. Tubuh tegaknya bersandar pada tiang, senjata tersampir di bahu. Begitu melihat Aruna, ia menegakkan tubuh. “Kau dipanggil?” suaranya datar. Aruna menahan desah. “Ya, operasi darurat. Apa kau harus selalu muncul setiap kali aku melangkah?” “Ya,” jawabnya singkat tanpa keraguan. Aruna menghela napas, lalu berjalan cepat menyusuri lorong menuju ruang operasi. Raka mengikuti setengah langkah di belakangnya. Ruang operasi darurat penuh ketegangan. Lampu neon terang benderang menyilaukan, bau antiseptik menusuk bercampur aroma logam darah. Di atas meja operasi, seorang pria berseragam perwira dengan pangkat mayor terbaring pucat. Tubuhnya berlumuran darah, luka tembak di perutnya masih mengucur. “Tekanan darah turun drastis!” perawat melapor. “Segera siapkan transfusi, O positif!” Aruna memeriksa cepat, jemarinya cekatan meski jantungnya berpacu. “Saya butuh suction, cepat!” Beberapa dokter muda di sampingnya terlihat panik, tapi Aruna mengambil alih dengan tenang terlatih. Tatapannya fokus pada luka. Butiran keringat menetes di pelipis meski ruangan dingin. Di sudut ruangan, Raka berdiri tegak, pistol di pinggang. Sorot matanya menyapu setiap perawat, setiap celah pintu. Ia bukan bagian dari tim medis, tapi atmosfernya seakan menjadi pagar tak terlihat di ruangan itu. Aruna sempat melirik sekilas. Kehadiran Raka membuatnya merasa diawasi, tapi entah kenapa juga sedikit lebih tenang. Aku benci mengakuinya, batinnya. Pisau bedah bergerak, darah mengalir deras. “Kompres! Cepat, saya butuh visibilitas!” seru Aruna. Perawat sigap menekan luka. Baru saja ia hendak melanjutkan, mendadak seluruh ruangan berguncang kecil. Suara dentuman samar terdengar dari arah luar gedung. Lampu neon di langit-langit berkelip. Semua menoleh. “Apa itu?” seorang dokter muda berbisik. Dentuman kedua lebih keras, disertai getaran yang membuat baki instrumen jatuh berdering. Lalu—gelap. Listrik padam. Hanya suara monitor jantung yang tersisa, berdering panik di kegelapan. “Astaga… mati lampu?!” perawat menjerit kecil. “Tenang!” Aruna menahan napas, mencari-cari. “Generator cadangan?!” “Seharusnya aktif otomatis!” sahut teknisi. Tapi detik demi detik berlalu, dan ruangan tetap hitam. Dalam gelap itu, satu-satunya cahaya berasal dari lampu senter kecil yang dibawa Raka. Ia menyalakannya cepat, sorot putih menyapu ruangan. Pistolnya langsung terhunus di tangan lain. “Jangan panik.” Suaranya rendah tapi tegas, cukup untuk menenangkan semua. “Tetap lanjutkan operasi. Aku berjaga di sini.” Aruna merasakan bulu kuduknya berdiri. Bayangan wajah Raka diterangi cahaya senter, rahangnya tegang, matanya tajam menyapu setiap sudut gelap. “Perawat, pegang senter, arahkan ke meja operasi!” seru Aruna. “Pasien ini tidak bisa menunggu!” Senter lain dinyalakan. Cahaya seadanya menyorot luka terbuka di perut sang mayor. Aruna menghela napas, memaksa tangannya stabil. Jarum bergerak, darah memancar. Di tengah kesunyian tegang, suara langkah asing terdengar di lorong luar. Berat, teratur, bukan suara prajurit jaga yang ia kenal. Raka menegakkan tubuh, telinganya tajam menangkap ritme itu. Ia memberi isyarat dengan tangan agar semua tetap diam. Pistolnya terarah ke pintu. “Teruskan,” bisiknya pada Aruna tanpa menoleh. “Jangan berhenti.” Aruna menelan ludah. Tangannya bergetar sesaat, tapi ia kembali fokus menjahit pembuluh darah. Pasien itu antara hidup dan mati. Langkah-langkah di luar makin dekat, lalu berhenti tepat di depan pintu operasi. Sunyi. Tiba-tiba—Brak! Pintu didobrak. Sinar senter dari luar menyorot tajam. “Siapa di sana?!” Raka mengangkat pistol, suaranya meledak lantang. Tiga sosok berpakaian hitam masuk cepat, wajah tertutup masker, bersenjata api. Perawat menjerit. Seorang dokter muda hampir menjatuhkan instrumen. Dor! Dor! Suara tembakan meledak. Kaca di lemari pecah. Semua orang tiarap spontan. Raka bergerak cepat, menembak balasan sambil berlindung di balik meja instrumen. Cahaya tembakan berkedip di kegelapan, membuat suasana seperti film perang. Aruna menunduk, tubuh pasien setengah menutupinya. Tapi tangannya tetap bekerja, meski darah dingin merayap di punggungnya. Aku dokter… tugasku menyelamatkan nyawa, bukan lari… “Aruna! Tiap detik kau harus cepat!” suara Raka terdengar di sela tembakan. “Aku tahan mereka!” Keringat bercampur darah di tangan Aruna. Jahitan terakhir hampir selesai. Monitor jantung pasien berdetak lemah, tapi stabil sedikit demi sedikit. Raka menembak satu lawan, sosok itu jatuh berteriak. Dua lainnya berlindung di balik pintu, menembak membabi buta. Percikan peluru menghantam dinding, serpihan marmer beterbangan. “Keluar lewat jendela belakang!” teriak salah satu penyerang. “Ambil targetnya, perempuan itu!” Aruna tersentak. Dadanya sesak. Aku targetnya lagi?! Raka menoleh sekilas, sorot matanya dingin menusuk. “Jangan dengarkan mereka!” Dor! Dor! Pertempuran terus berlanjut. Sementara itu, Aruna berhasil menghentikan pendarahan mayor, lalu menutup luka. Ia menahan gemetar, napasnya tersengal. “Operasi selesai!” katanya, meski suaranya hampir pecah. “Bagus.” Raka bergeser, menembak lagi, lalu berteriak ke perawat. “Lindungi pasien! Jangan biarkan mereka dekat!” Suara sirene akhirnya meraung dari luar gedung—tanda pasukan pengamanan markas mulai bergerak. Para penyerang sadar waktu mereka sempit. Mereka menembakkan peluru terakhir, lalu melarikan diri melalui lorong. Raka berlari menyusul, tapi berhenti di ambang pintu. Ia menatap Aruna, yang masih berdiri dengan sarung tangan berlumur darah, tubuh gemetar, wajahnya pucat pasi. “Kau baik-baik saja?” suaranya parau, napasnya berat. Aruna menoleh, mata berkaca. “Aku… aku hampir kehilangan pasien ini. Dan hampir kehilangan nyawaku juga.” Untuk sesaat, hanya detak jantung masing-masing yang terdengar. Lalu lampu generator akhirnya menyala, menerangi ruangan yang berantakan: kaca pecah, darah tercecer, instrumen berserakan. Aruna terduduk di kursi, menutup wajah dengan tangan. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena sadar betapa tipis batas hidup dan mati malam ini. Raka menurunkan pistol, lalu berjalan mendekat. Diam, tapi tatapannya tak pernah lepas dari dirinya. Suasana ruang operasi yang baru saja kembali terang tak lantas membawa kelegaan. Aruna masih duduk di kursi, sarung tangan meneteskan darah pasien bercampur keringatnya sendiri. Raka berdiri hanya satu meter darinya, tubuhnya tegap dengan napas berat, pistol masih tergenggam seakan sewaktu-waktu siap ditembakkan lagi. Sorot matanya meneliti setiap detail tubuh Aruna, seolah memastikan tak ada setitik pun darah. “Kau terluka?” suaranya pelan tapi tajam, seperti pisau yang menusuk sunyi. Aruna menggeleng cepat, meski tangannya masih gemetar. “Bukan darahku. Semua ini… pasien.” Untuk pertama kalinya malam itu, Raka menarik napas lega. Bahunya sedikit merosot, tapi ketegangannya tak hilang sepenuhnya. “Perawat, rawat luka Mayor sampai stabil. Jangan biarkan siapapun masuk selain tim medis,” tegas Raka. Para perawat mengangguk cepat, sebagian masih pucat oleh kejadian barusan. Aruna melepas sarung tangan dengan gerakan lambat, lalu bangkit. Kakinya lemas, hampir tak sanggup menopang tubuh. Ia menahan meja instrumen agar tak jatuh. Raka sigap meraih lengannya. “Aku antar keluar.” Aruna menepis refleks. “Aku bisa jalan sendiri.” “Kau gemetar.” “Aku dokter, bukan pasien.” Kata-kata itu lebih untuk meneguhkan dirinya sendiri. Namun Raka hanya menatapnya, tanpa bantahan, lalu berjalan setengah langkah di sampingnya saat ia melangkah ke lorong. Lorong markas penuh suara sirene, langkah kaki prajurit, dan radio komunikasi yang bercampur dalam hiruk pikuk. Aroma mesiu masih terasa samar di udara. “Penyerang lolos lewat sisi timur, Komandan!” teriak seorang prajurit pada atasannya. “Segera kepung area hutan! Jangan biarkan mereka keluar radius markas!” balas sang komandan. Aruna memperhatikan sekilas, dadanya sesak. Raka seolah membaca pikirannya. “Mereka tidak menyerang sembarangan. Kau memang targetnya.” Aruna berhenti melangkah, menatapnya dengan wajah pucat. “Kenapa mereka mengincar aku?” “Entah,” jawab Raka tegas. “Tapi jelas ada yang menginginkan kau lenyap. Dan tugasku memastikan itu tidak terjadi.” Aruna terdiam, dadanya naik turun cepat. Ia ingin marah, ingin menuntut jawaban, tapi yang keluar justru suara parau: “Aku tidak minta dilindungi. Aku hanya ingin menjalani tugasku.” “Kau bisa menjalani tugasmu hanya kalau masih hidup,” balas Raka tanpa ragu. Aruna terdiam. Ada sesuatu dalam nada suaranya—dingin tapi juga peduli yang membuatnya sulit melawan. Mereka tiba di ruang medis kecil di sisi barak, lebih tenang dibanding hiruk pikuk lorong utama. Raka menutup pintu, lalu berdiri di ambang seakan menjadi penjaga pribadi. Aruna duduk di kursi, menatap tangannya yang masih bergetar. Untuk pertama kalinya sejak operasi, ia merasa benar-benar lelah. Tubuhnya berteriak ingin beristirahat, tapi pikirannya masih dipenuhi pertanyaan. “Kenapa harus aku?” gumamnya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Apa hubungannya dengan ayahku? Atau masa lalu keluargaku?” Raka menoleh sekilas. Matanya tajam, tapi kali ini ada keraguan samar. Ia tidak langsung menjawab, hanya berdiri dengan rahang mengeras. Aruna mendongak, menatapnya dengan sorot menuntut. “Kau tahu sesuatu, kan?” “Ini bukan waktunya,” balas Raka. “Kalau begitu kapan? Aku hampir mati malam ini! Kau pikir aku bisa tenang tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi?!” Suara Aruna pecah. Dadanya berguncang, matanya berkaca. Untuk sejenak, ruangan itu hanya berisi suara napas keduanya. Akhirnya, Raka mendekat. Ia menunduk sedikit, menatap Aruna dari jarak yang begitu dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di mata hitam itu. “Yang jelas, kau bukan sekadar dokter di mata mereka. Ada sesuatu yang kau warisi, sesuatu yang membuatmu berharga sekaligus berbahaya. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Tapi, aku akan pastikan kau tetap hidup sampai kau tahu seluruh kebenarannya.” Aruna tercekat. Kata-kata itu menamparnya keras, tapi juga memberi janji samar. Ia ingin menolak, ingin meneriakkan semua keraguan, tapi tenggorokannya seakan terkunci. Ketukan pintu memecah ketegangan. Seorang prajurit masuk, memberi hormat. “Mayor sudah stabil, Dokter. Tapi ia masih belum sadarkan diri.” Aruna mengangguk cepat, lalu berdiri. “Aku harus kembali mengecek pasien.” Raka menatapnya sekilas, lalu ikut berjalan. Seolah apapun yang Aruna lakukan, ia adalah bayangan yang tak bisa dilepaskan. Kali ini Aruna tidak membantah. Entah karena lelah, atau karena dalam hatinya ia sadar setelah malam ini dia tak bisa lagi sendirian. Ruang operasi kini lebih tenang, meski bekas pertempuran masih terlihat, kaca pecah berserakan, noda darah kering di lantai, bau mesiu bercampur antiseptik. Mayor yang tadi dioperasi terbaring dengan wajah pucat, tapi monitor jantung menunjukkan ritme stabil. Perawat berjaga di sisi ranjang, bergantian memeriksa cairan infus. Aruna memeriksa luka dengan hati-hati. “Kondisinya kritis tapi stabil. Selama tidak ada infeksi, ia akan pulih.” Perawat menghela napas lega. “Kalau bukan karena Anda, Dokter, mungkin ia tidak selamat.” Aruna tersenyum tipis, tapi hatinya masih penuh gejolak. Ia tahu keberhasilan operasi ini hanya sebagian kecil dari malam yang panjang. Di luar sana, masih ada ancaman yang belum terjawab. Menjelang dini hari, markas perlahan kembali tenang. Hujan berhenti, menyisakan aroma tanah basah. Namun bagi Aruna, badai sesungguhnya baru saja dimulai. Ia berdiri di balkon barak, memandang langit kelam tanpa bintang. Raka berdiri beberapa langkah di belakangnya, diam, tapi keberadaannya begitu nyata. Aruna menggenggam pagar balkon erat-erat. “Aku benci merasa seperti ini. Tidak tahu siapa musuhku. Tidak tahu kapan aku akan diserang lagi.” Raka menatapnya lama. “Kau tidak sendirian.” Aruna menoleh, sorot matanya tajam. “Aku tidak butuh penghiburan klise.” “Itu bukan penghiburan,” jawab Raka datar. “Itu fakta.” Sunyi beberapa detik, hanya angin malam yang lewat. Aruna akhirnya menarik napas panjang, mencoba meredakan gemetar di dadanya. “Besok… mungkin aku akan butuh jawaban. Entah dari siapa pun yang bersedia memberikannya,” ucapnya lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD