Malam yang harusnya berakhir dengan tenang justru menyisakan bara.
Ruang operasi sudah kembali sepi, hanya menyisakan bau alkohol dan getah antiseptik yang menusuk. Lampu-lampu darurat masih berkedip, seolah mengingatkan bahwa apa yang barusan terjadi bukan sekadar mimpi buruk singkat.
Aruna melangkah keluar dengan langkah gontai. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya lebih letih lagi. Operasi darurat tadi berhasil—perwira misterius itu selamat—tapi ketegangan yang menyertainya belum mau pergi. Bayangan suara langkah asing di koridor gelap, kilatan cahaya peluru, dan dengung generator cadangan yang terlambat menyala, semua itu masih terpatri jelas.
Tangannya gemetar ringan saat ia merapikan masker di saku jas putih. Ia menghela napas panjang, berharap udara dingin malam rumah sakit bisa menenangkan d**a yang masih berdegup kencang.
Tapi ketenangan tak kunjung datang.
“Kenapa kau keluar sendirian?”
Suara itu berat, dingin, penuh kontrol. Aruna mendongak, menemukan Raka berdiri di ujung lorong. Masih dengan seragam loreng, bayangan tubuhnya memanjang di bawah lampu darurat yang temaram. Tangan kanannya memegang pistol, jarinya nyaris kaku, seolah enggan melepaskannya.
Aruna berusaha menahan dengusan. “Aku butuh udara segar, Raka. Jangan menatapku seperti itu.”
“Udara segar?” Nada suaranya naik sedikit. “Kau sadar tidak, apa yang baru saja terjadi? Listrik padam, suara asing di lorong, peluru hampir menembus kaca ruang operasi. Dan kau… kau keluar sendirian seolah tak ada apa-apa.”
Aruna menghentikan langkah, menoleh penuh. Wajahnya masih pucat karena lelah, tapi sorot matanya menyala. “Lalu apa? Aku harus menunggu izinmu bahkan untuk berjalan keluar pintu? Apa aku ini pasien, tahanan, atau anak kecil?”
“Kalau perlu, ya!”
Suara itu menggema di lorong kosong, membentur dinding putih dan kembali menusuk telinga Aruna. Sesaat, ia terdiam. Nafasnya tercekat di tenggorokan.
Lalu matanya menyipit. “Aku seorang dokter, Raka. Tugasku menolong orang, siapa pun dia. Kalau setiap langkahku harus tunduk pada perintahmu, apa gunanya aku ada di sini?”
Raka maju selangkah. Sepatunya berdecit di lantai licin, mengisi ruang sempit itu dengan ketegangan. Sorot matanya menusuk, dingin, tapi di baliknya ada sesuatu yang lebih pekat—sebuah kegelisahan yang nyaris tak pernah ia biarkan keluar.
“Dan tugasku,” katanya berat, “memastikan kau tidak mati sebelum waktumu. Kau lupa, Aruna? Orang-orang itu bisa saja datang untukmu.”
Kata-kata itu menghantam keras. Aruna tersentak, kilatan peristiwa tadi kembali menyerbu: suara langkah-langkah asing yang mendekat, kaca yang pecah, tubuh Raka berdiri tegak di depannya, menahan ancaman tanpa ragu.
Namun, rasa marah lebih kuat menutupinya.
“Jadi aku harus hidup dalam ketakutan? Bersembunyi di balik punggungmu selamanya?” Suaranya bergetar, tapi bukan karena takut—karena harga dirinya diinjak.
“Kalau itu membuatmu selamat, ya, Aruna!” Bentakan Raka tajam, bagai cambuk. “Aku lebih rela kau membenciku seumur hidup daripada melihatmu terbaring tak bernyawa.”
Keheningan menggantung. Nafas keduanya memburu, memenuhi lorong dengan ritme tak teratur. Aruna merasakan jantungnya menghantam keras di d**a, bukan hanya karena marah… tapi juga karena sesuatu yang lain.
Ia mengalihkan pandangan, menekan d**a dengan tangan yang sedikit bergetar. “Kau… kau tidak bisa terus mengaturku seperti ini.”
“Kalau kau mati,” Raka mendekat lagi, suaranya lebih rendah tapi tetap tegas, “bagaimana aku bisa menjawab pada Jenderal Wiratmaja? Bagaimana aku bisa menjawab… pada diriku sendiri?”
Aruna menelan ludah, mencoba mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup. Ia ingin tetap marah, ingin membentak Raka lagi, tapi kata-kata pria itu terus terngiang: “Bagaimana aku bisa menjawab… pada diriku sendiri?”
Ia tahu, Raka bukan tipe orang yang bicara sembarangan. Kalimat itu bukan sekadar formalitas tugas. Ada sesuatu yang lebih pribadi. Sesuatu yang membuat d**a Aruna semakin sesak.
“Kenapa kau selalu bicara seakan-akan seluruh dunia ini di punggungmu sendiri?” Aruna akhirnya bersuara lagi, kali ini lebih lirih tapi penuh emosi. “Apa kau pikir aku tidak tahu rasanya takut? Apa kau pikir aku tidak bisa menjaga diriku?”
Raka menatapnya lekat-lekat. Pandangan itu membuat Aruna ingin mundur, tapi kakinya terpaku di tempat. “Aku tahu kau berani,” ucapnya, nadanya kini lebih tenang, meski tetap keras. “Terlalu berani, Aruna. Sampai-sampai kau tidak peduli nyawamu sendiri.”
Aruna terdiam. Ucapan itu menohoknya. Ia tahu benar, dalam dirinya ada sifat nekat yang sering membuatnya lupa pada risiko. Demi pasien, demi sumpahnya sebagai dokter, ia kerap menempatkan dirinya di ujung bahaya.
Tapi mendengar itu dari mulut Raka… rasanya berbeda.
“Aku tidak bisa hidup seperti itu,” katanya akhirnya, menahan getar di suaranya. “Aku tidak bisa menjalani hari hanya dengan rasa takut. Kalau aku berhenti melakukan apa yang menurutku benar, apa bedanya aku dengan orang-orang yang hanya diam melihat penderitaan?”
Raka mengatupkan rahang, jelas menahan sesuatu. Tangannya yang masih memegang pistol mengepal kuat. “Dan aku tidak bisa diam melihatmu menyerahkan dirimu pada bahaya. Itu bukan keberanian, Aruna. Itu… bunuh diri.”
Tatapan keduanya bertaut, tajam, tapi juga rapuh.
Aruna merasakan matanya panas, entah karena lelah atau karena amarah yang mulai bercampur dengan sesuatu lain. Ia ingin membalas dengan kata-kata lebih keras, tapi lidahnya kelu. Nafasnya memburu, dadanya naik-turun tak teratur.
Raka akhirnya menghela napas panjang, menurunkan pistolnya perlahan. Ia menyelipkannya kembali ke sarung di pinggang, lalu menundukkan kepala sebentar. “Aku… aku hanya ingin kau selamat. Itu saja.”
Aruna terdiam. Kata-kata sederhana itu, yang seharusnya biasa saja, justru mengguncang hatinya lebih keras daripada bentakan apa pun.
Lorong rumah sakit itu mendadak terasa terlalu sempit. Udara seakan menekan d**a Aruna. Ia melangkah mundur setapak, mencoba menciptakan jarak. Tapi matanya masih terpaku pada Raka, dan di sana ia melihat sesuatu yang jarang sekali pria itu biarkan keluar—ketakutan.
Bukan ketakutan pada musuh, bukan pada peluru, tapi pada kemungkinan kehilangan.
Aruna merasa lututnya lemas. Tangannya mencengkeram jas putih di dadanya, seakan bisa menahan debar yang semakin tak terkendali.
“Kenapa… kenapa kau harus membuat semuanya jadi serumit ini, Raka?” bisiknya, hampir tak terdengar.
Raka menoleh, menatapnya lama, seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih dalam, tapi menahannya. Hanya ada diam, dan dalam diam itu, ribuan kata yang tak terucap menggantung di udara.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Akhirnya, Raka melangkah mundur, memberi ruang. “Kau harus kembali ke kamar, Aruna. Malam ini belum aman.” Suaranya datar lagi, dingin, tapi Aruna tahu betul—itu hanya tameng.
Aruna menunduk, berusaha menstabilkan napasnya. Ia ingin marah lagi, ingin menyalahkan, tapi justru dirinya sendiri yang bingung. Kenapa hatinya berdebar begitu kencang setiap kali Raka menatapnya seperti itu?
Dengan langkah berat, ia kembali ke arah ruang perawatan. Raka mengikuti di belakang, tak lagi banyak bicara. Hanya suara langkah kaki mereka yang mengisi lorong.
Sesampainya di depan kamar, Aruna berhenti. Tangannya sudah di gagang pintu, tapi ia tak segera membukanya. Ia menoleh sedikit, menatap Raka dari sudut mata.
“Raka.”
Pria itu mengangkat kepalanya.
“Aku masih marah padamu.” Suara Aruna tegas, tapi bergetar. “Tapi… aku juga… aku tidak tahu lagi apa yang harus aku rasakan sekarang.”
Raka terdiam. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, tapi hanya sebentar. Lalu ia mengangguk pelan. “Marahlah. Kalau itu membuatmu lega. Selama kau tetap hidup, aku bisa menerima itu.”
Aruna memejamkan mata sejenak, lalu masuk ke dalam kamar. Pintu tertutup perlahan, menyisakan Raka berdiri sendirian di lorong.
Ia mendongak sebentar ke langit-langit, menghembuskan napas berat yang sejak tadi ditahannya. Tangannya yang mengepal akhirnya terbuka, dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi dinginnya retak.