BAB 8

2082 Words
Pagi itu, rumah besar milik Jenderal Wiratmaja terasa lebih lengang dari biasanya. Setelah malam penuh letupan emosi, Aruna bangun dengan kepala berat. Udara pagi yang seharusnya segar justru terasa menyesakkan. Bayangan wajah Raka yang tegang semalam masih jelas terpatri di benaknya—mata yang tajam, rahang yang mengeras, nada suara yang dingin tapi penuh amarah. Aruna duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela yang tirainya setengah terbuka. Sinar matahari menyusup masuk, memantulkan cahaya hangat di lantai kayu, tapi entah mengapa tidak berhasil mengusir rasa dingin yang masih melekat di dadanya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gejolak hatinya, namun suara Raka semalam seolah terus terngiang. "Kamu nggak sadar apa, nyawamu jelas jadi target!" Aruna mengusap wajahnya. Kata-kata itu bukan sekadar teguran, melainkan semacam benteng yang Raka bangun di sekelilingnya. Namun, di sisi lain, benteng itu membuatnya merasa terkurung. Ia seorang dokter, terbiasa berdiri di garis depan menghadapi ketidakpastian, tapi sekarang ia diperlakukan seperti kaca rapuh yang bisa pecah kapan saja. Tangannya meremas seprai. Hatinya terbelah—antara ingin marah, ingin menjauh, atau justru ingin mengerti kenapa Raka begitu keras kepala. Langkah-langkah terdengar di luar kamar. Aruna refleks menoleh. Pintu kamar tidak terkunci, dan suara sepatu yang khas—ritmis, tegas, berat—hanya bisa berasal dari satu orang. Raka. Aruna buru-buru bangkit, berdiri kaku di samping ranjang. Pintu berderit pelan saat dibuka, memperlihatkan sosok pria itu. Rambutnya sedikit berantakan, seragam dinas lapangan sudah terpakai rapi, dan wajahnya masih menyisakan ketegangan yang sama. “Pagi,” ucapnya datar, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi. Aruna tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, mencoba membaca ekspresi yang nyaris tak terbaca. “Aku harus lapor ke Jenderal sebentar. Kamu jangan ke mana-mana dulu,” lanjut Raka, suaranya tenang tapi terdengar seperti perintah. Aruna menggigit bibir bawahnya. Ada bagian dari dirinya yang ingin membalas ketus, tapi ada juga bagian yang menahan. Ia hanya mengangguk pelan, meski dadanya terasa semakin sesak. Raka menatapnya sebentar, lalu berbalik meninggalkan kamar. Suara langkah sepatunya perlahan menjauh di sepanjang koridor. Aruna berdiri diam, lalu mengembuskan napas panjang. Beberapa jam kemudian, suasana rumah benar-benar sepi. Para pengawal tampak sibuk di luar, sementara di dalam hanya ada keheningan yang mencekam. Aruna turun dari kamar menuju ruang kerja Raka. Ia sebenarnya tidak berniat apa-apa, hanya butuh ruang untuk menenangkan diri. Ruang kerja itu terletak di ujung koridor, pintunya setengah terbuka. Begitu melangkah masuk, Aruna merasakan aroma khas kertas dan tinta. Di dalamnya ada rak penuh map, tumpukan berkas di meja, dan sebuah lampu meja yang masih menyala redup. Ia melangkah pelan, matanya menyapu ruangan. Teratur, tapi juga menyimpan kesan sibuk. Di meja kerja, beberapa dokumen terbuka, seakan Raka baru saja membacanya sebelum keluar. Aruna mendekat. Pandangannya tanpa sengaja jatuh pada sebuah map berwarna cokelat, terbuka lebar. Di halaman paling atas, tertera data medis dengan kop resmi rumah sakit militer. Jantungnya berdegup cepat. Nama itu tidak asing baginya tertera jelas di sana: Dr. Arya Prasetya. Ayahnya. Aruna terdiam. Matanya membesar, dadanya berdesir keras. Ia meraih berkas itu dengan tangan bergetar, membaca baris demi baris. Laporan medis yang tercatat bukanlah laporan biasa: catatan lama, dengan keterangan luka serius, pembedahan, dan tanggal-tanggal yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Keningnya berkerut. Seingatnya, ayahnya meninggal karena kecelakaan. Setidaknya, itu yang selalu diceritakan keluarga kepadanya. Tapi mengapa ada rekam medis dengan catatan yang berbeda? Mengapa ada keterangan luka tembak di bagian perut? Aruna menelan ludah. Dadanya seakan diremas dari dalam. Matanya beralih ke bagian bawah dokumen, dan ia menemukan catatan tambahan dengan tinta hitam: “Rahasia Militer – akses terbatas. Pengawasan khusus: Raka Pradipta.” Tangannya semakin bergetar. Nama Raka tertulis jelas di sana. Suara pintu berderit membuat Aruna tersentak. Ia buru-buru menutup map itu, tapi terlambat. Raka sudah berdiri di ambang pintu, tatapannya tajam, wajahnya dingin. “Apa yang kamu lakukan?” suaranya rendah, tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri. Aruna menahan napas, matanya beradu dengan mata Raka. Ada campuran ketakutan, marah, dan rasa ingin tahu yang membuncah. “Aku… aku cuma lihat,” jawabnya gugup tapi berusaha tegas. “Kenapa ada nama Ayahku di dokumen medis itu, Raka?!” Raka melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Tatapannya menusuk, rahangnya mengeras. “Aku tanya sekali lagi, apa yang kamu lihat?” Aruna mendongak, matanya berkaca-kaca. “Jangan alihkan! Jawab aku! Kenapa nama Ayahku ada di sana? Selama ini kamu tahu sesuatu, ya? Tentang kematian Ayahku?” Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Namun sorot matanya jelas ada sesuatu yang bergejolak di balik dinginnya tatapan itu. Aruna melangkah maju, suaranya meninggi. “Kamu sengaja sembunyikan ini dariku? Kenapa, Raka?! Aku punya hak untuk tahu!” Raka akhirnya membuka suara, pelan tapi tegas. “Itu bukan urusanmu, Aruna.” Seperti tamparan keras di wajah, kata-kata itu membuat Aruna terdiam sejenak, lalu dadanya bergemuruh oleh amarah. “Bukan urusanku? Itu Ayahku, Raka! Ayahku! Kamu pikir aku bisa diam begitu saja setelah tahu ada yang disembunyikan?!” Napas Raka memburu, tapi ia berusaha menahan diri. “Dengar, Aruna. Ada hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.” Aruna melangkah makin dekat, air matanya mulai menggenang. “Kamu nggak bisa seenaknya memutuskan itu untukku. Kamu bukan siapa-siapa, Raka. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil yang harus dijauhkan dari kebenaran.” Raka memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras, lalu membuka mata kembali. “Kebenaran kadang bisa lebih menyakitkan.” Aruna menatapnya dengan sorot terluka. “Lebih menyakitkan dari dihianati orang yang seharusnya bisa aku percaya?” Suasana ruangan mendadak begitu berat. Raka menatap Aruna lama, seakan ada ribuan kata yang ingin ia ucapkan tapi ia tahan. Aruna berdiri di hadapannya dengan d**a bergetar, perasaan campur aduk antara marah, bingung, dan sakit hati. Aruna meletakkan berkas itu dengan kasar di atas meja, lalu mundur selangkah. Air matanya akhirnya jatuh, bukan hanya karena dokumen itu, tapi juga karena sikap Raka. “Aku pikir… kamu orang yang bisa aku percaya,” suaranya parau, bergetar. “Ternyata kamu sama saja. Menyembunyikan sesuatu dariku, seolah aku nggak punya hak untuk tahu tentang keluargaku sendiri.” Raka terdiam, tangannya mengepal di sisi tubuh. Aruna berbalik, melangkah menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, tapi ia tahu kalau ia tetap tinggal, ia hanya akan semakin hancur. Di belakangnya, suara Raka akhirnya terdengar lagi. Rendah, hampir berbisik. “Aku lakukan ini untuk melindungimu, Aruna…” Langkah Aruna terhenti sejenak. Air matanya jatuh semakin deras. Ia menoleh sedikit, menatap Raka dengan sorot tajam yang penuh luka. “Kalau melindungi berarti menghancurkan kepercayaanku… aku nggak butuh perlindunganmu.” Ia pun membuka pintu dengan kasar, meninggalkan Raka sendirian di ruangan itu, tenggelam dalam hening yang menyesakkan. Koridor panjang rumah Jenderal Wiratmaja terasa dingin saat Aruna melangkah cepat, air mata masih membasahi pipinya. Ia ingin menahan, tapi semakin ia mencoba, semakin deras tangis itu mengalir. Di setiap langkahnya, bayangan wajah Raka kembali muncul—tatapan dingin, kata-kata yang menolak, dan diam yang membunuh lebih dari seribu pisau. Aruna berhenti di dekat jendela besar yang terbuka setengah, menatap keluar dengan pandangan kosong. Taman di halaman belakang terlihat hijau segar, burung-burung kecil beterbangan, seolah dunia berjalan biasa saja. Kontras dengan kekacauan di dalam dadanya. Tangannya menggenggam kusen jendela. “Ayah…” bisiknya lirih. “Apa sebenarnya yang terjadi sama Ayah? Kenapa semua orang menyembunyikan dariku?” Suara langkah mendekat membuatnya buru-buru menyeka air mata. Seorang prajurit jaga muncul di ujung koridor, menunduk hormat ketika melihatnya, lalu berlalu tanpa berkata-kata. Aruna menegakkan tubuhnya, mencoba menyembunyikan rapuhnya, meski hatinya masih bergetar. Sementara itu, di ruang kerja, Raka berdiri membatu. Tangannya masih mengepal, urat di lengannya menonjol jelas. Ia menatap map cokelat di meja, yang kini kembali tertutup, seolah menyembunyikan rahasia yang baru saja terkuak setengah. Napasnya berat, wajahnya keras, tapi ada sesuatu di balik tatapannya perasaan yang tidak bisa ia tunjukkan. “Kenapa harus kamu yang lihat, Aruna…” gumamnya pelan, suaranya serak. Ia berjalan pelan ke arah jendela ruang kerja, menyingkap tirai sedikit. Dari jauh, ia melihat siluet Aruna berdiri di koridor, menatap keluar dengan bahu bergetar. Hatinya berdesir, tapi ia tetap diam. Ada ribuan alasan kenapa ia tidak bisa membuka semua kebenaran, dan salah satunya adalah perintah langsung dari Jenderal Wiratmaja. Namun alasan terbesar, ia tahu, adalah dirinya sendiri. Raka takut bukan pada rahasia itu, tapi pada luka yang mungkin akan menghancurkan Aruna jika kebenaran terbongkar terlalu cepat. --- Hari beranjak siang. Aruna memutuskan mengurung diri di kamar. Ia tak ingin bertemu siapa pun, terutama Raka. Duduk di tepi ranjang, ia membuka kembali buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Buku itu berisi coretan, kenangan masa kecil, dan beberapa tulisan tentang Ayahnya. Ia menatap halaman kosong, lalu mulai menulis dengan tangan bergetar. Ayah, hari ini aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kucurigai sebelumnya. Katanya Ayah meninggal karena kecelakaan. Tapi kenapa di dokumen itu tertulis luka tembak? Kenapa nama Ayah ada dalam berkas militer rahasia? Dan Raka? Air mata jatuh menodai kertas. Ia buru-buru menyeka, tapi noda itu tetap tertinggal. Menjelang sore, pintu kamarnya diketuk pelan. “Aruna,” suara kakeknya, Jenderal Wiratmaja, terdengar dari luar. Aruna tertegun. Ia buru-buru menutup bukunya dan menyeka sisa air mata sebelum menjawab. “Iya, Kek.” Pintu terbuka. Sosok tua itu masuk dengan langkah mantap. Meski usianya sudah senja, sorot matanya masih tajam, dan wibawa militernya begitu terasa. Ia menatap cucunya sejenak, lalu duduk di kursi dekat ranjang. “Aku dengar kamu marah sama Raka,” ucapnya tenang. Aruna menggigit bibir, menunduk. “Aku nggak marah… aku cuma… kecewa.” “Kamu tahu, Raka itu cuma menjalankan tugasnya.” Aruna mengangkat kepala, menatap kakeknya. “Tugas? Tugas untuk menyembunyikan kebenaran tentang Ayah dariku?” Suasana mendadak hening. Sorot mata Jenderal sedikit berubah, ada kilatan sesuatu yang sulit ditebak. “Ayahku meninggal karena kecelakaan, begitu yang selalu aku dengar. Tapi dokumen itu… jelas-jelas mencatat luka tembak. Kenapa aku nggak pernah tahu, Kek? Kenapa semua orang diam?” Suara Aruna bergetar, penuh tuntutan. Jenderal Wiratmaja menarik napas panjang, lalu menghela perlahan. “Ada hal-hal, Nduk, yang lebih baik tidak kamu ketahui sekarang.” Aruna berdiri, matanya berkaca-kaca lagi. “Kenapa semua orang selalu bilang begitu?! Aku bukan anak kecil lagi, Kek. Aku berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi!” Wajah Jenderal tetap tenang, tapi ada sorot berat di matanya. Ia bangkit, lalu menepuk pundak cucunya dengan tangan kasar yang penuh bekas luka masa lalu. “Percayalah… semua ini demi kebaikanmu.” Aruna terdiam, pundaknya bergetar. Sentuhan itu hangat, tapi kata-kata kakeknya justru menambah luka. Ia ingin percaya, tapi bagaimana mungkin jika semua orang yang ia sayangi justru menyembunyikan sesuatu? Malam menjelang. Lampu-lampu di rumah menyala, memberi cahaya kuning temaram. Aruna keluar kamar, berjalan ke arah dapur untuk sekadar mengambil air. Di ruang tamu, ia mendengar suara Raka dan kakeknya berbicara pelan. Aruna berhenti di balik dinding, tanpa sengaja mendengar percakapan itu. “Dia sudah lihat berkasnya,” suara Raka rendah, penuh penekanan. “Seharusnya kamu lebih hati-hati,” balas sang Jenderal, nada suaranya dingin. “Aku sudah bilang berkali-kali, kita nggak bisa terus-menerus sembunyikan ini. Cepat atau lambat, Aruna pasti tahu.” Aruna membeku di tempat. Dadanya berdegup kencang, telinganya semakin tajam menangkap setiap kata. Jenderal Wiratmaja menghela napas panjang. “Kamu pikir aku nggak tahu? Tapi kebenaran itu terlalu berbahaya, bukan cuma buat Aruna, tapi buat semua orang. Kalau dia tahu sekarang… dia nggak akan siap.” “Apa itu berarti kita biarkan dia terus hidup dalam kebohongan?” suara Raka meninggi sedikit, meski tetap terkendali. Aruna menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya kembali jatuh. Kini bukan hanya karena rasa dikhianati, tapi juga karena sadar ada sesuatu yang besar yang disembunyikan darinya. Aruna kembali ke kamarnya dengan langkah goyah. Ia merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Suara Raka, suara kakeknya, semuanya berputar di kepalanya. “Kalau melindungi berarti menghancurkan kepercayaanku… aku nggak butuh perlindunganmu.” Kata-katanya sendiri siang tadi kembali terngiang, dan kali ini terasa semakin menyakitkan. Ia tahu, perasaan kecewa itu bercampur dengan sesuatu yang lain perasaan yang tidak mau ia akui. Sebab meski marah, meski sakit hati, di lubuk terdalam hatinya ia masih ingin percaya pada Raka. Tapi bagaimana mungkin, jika Raka sendiri yang menutup pintu itu? Aruna menutup mata, air matanya jatuh lagi. Malam itu, ia tertidur dengan hati yang penuh pertanyaan, luka, dan rasa kehilangan yang semakin dalam. Di ruang kerja, Raka kembali berdiri di depan map cokelat itu. Tangannya menyusuri sampulnya dengan gemetar. Wajahnya tampak lelah, sorot matanya meredup. Ia tahu, cepat atau lambat, rahasia ini tidak bisa terus dikubur. Tapi ia juga tahu, saat kebenaran itu keluar, dunia Aruna tidak akan pernah sama lagi. Raka mengepalkan tangannya. “Maafkan aku, Aruna…” Suara itu hanya berbisik, tenggelam dalam keheningan malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD