Pagi datang dengan tenang—tenang yang mencurigakan. Udara lembap, kabut masih menyelimuti lembah. Hanya suara serangga dan langkah berat prajurit yang terdengar dari kejauhan. Raka berdiri di depan tenda logistik sambil mengecek laporan keamanan. Tapi pikirannya tak di situ. Sejak semalam, kalimat terakhir yang ia ucapkan ke Aruna terus berputar di kepala. "Bukan tentang siapa yang nyerang, tapi siapa yang ngasih tahu kita ada di sini." Dia tahu, ada mata-mata. Dan firasatnya berkata, sesuatu yang lebih buruk akan datang. --- “Raka, aku mau turun ke pos medis bawah,” suara Aruna dari belakang memecah pikirannya. Ia masih mengenakan seragam relawan, rambutnya diikat asal, wajahnya tampak lelah tapi teguh. “Sendirian?” tanya Raka cepat. “Ada dua anggota dari TNI Medis juga. Aku cuma

