Raka duduk di kursi logam, tubuhnya masih terasa nyeri dari tembakan yang kemarin. Aruna duduk di sebelahnya, tangannya tak lepas dari lengan Raka, meski ia sadar lelaki itu hampir selalu menolak bantuan yang terlalu personal. “Ini nggak biasa,” Raka akhirnya bicara, suaranya berat, hampir serak. “Serangan malam itu… ada yang kasih tahu mereka. Orang dalam.” Aruna mengangkat alis, matanya menatap lurus ke mata Raka. “Orang dalam? Maksudmu… salah satu dari pasukan Jenderal?” Raka menatap ke depan, menahan amarah yang bergejolak. “Ya. Aku nggak mau percaya, tapi fakta nggak bisa bohong. Mereka tahu posisi kita… tahu luka di lenganku… dan mereka datang tepat waktu.” Aruna menelan ludah. Hatinya berdegup kencang. Selama ini, ia tahu dunia militer berbahaya, tapi mendengar kata-kata itu dar

