BAB 39

1861 Words

Malam itu, angin di halaman belakang rumah dinas terasa aneh—lebih dingin, lebih berat. Seolah udara ikut menahan napas, menunggu sesuatu pecah. Aruna berdiri membelakangi Raka. Jemarinya gemetar, masih terbayang tatapan kosong Raka setelah pertengkaran kecil mereka tadi yang berubah menjadi sesuatu yang lebih besar. Sejak kejadian di pos jaga sore tadi—di mana Jenderal memanggil Raka masuk ke ruangannya, dengan nada dingin yang tak bisa ia baca—Aruna sudah merasa ada sesuatu yang berbentuk seperti bahaya, tapi tak punya nama. Raka berjalan pelan mendekat, langkahnya teratur tapi tidak stabil. Ada sesuatu yang seperti patah di dalam lelaki itu, dan Aruna merasakannya dari jauh sebelum ia berbicara. “Run…” Suaranya serak. “Aku… harus bilang sesuatu.” Aruna menelan ludah. “Apa Jenderal b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD