Ruangan itu masih gelap. Hanya cahaya dari lorong yang merembes lewat celah kecil di pintu, cukup untuk menampakkan siluet tegap Jenderal Wiratmaja yang berdiri tepat di hadapan Aruna. Napas lelaki tua itu berat, bukan karena lelah, melainkan murka yang ditahan keras. “Aruna…” suaranya rendah, hampir seperti geraman. “Apa yang kau lakukan di sini?” Aruna tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya kaku, jantungnya memukul d**a seperti ingin melarikan diri lebih dulu daripada pemiliknya. Di tangannya, berkas-berkas yang tadi ia temukan terkulai. Setumpuk dokumen yang seharusnya tidak boleh disentuh siapa pun, apalagi oleh cucu satu-satunya sang jenderal. “Aku… hanya ...” “Jangan bohong.” Kalimat itu memotong cepat, tajam seperti peluru. Jenderal melangkah masuk sepenuhnya ke ruangan, menutup

