BAB 22

1509 Words

Suara langkah Aruna menggema di koridor rumah besar itu. Dingin, tajam, seperti menghantam keheningan malam yang bahkan angin pun enggan mengusiknya. Wajahnya pucat, matanya masih sembab, tapi bukan karena lelah. Ada bara yang menyala di balik sorot itu. Bara yang lahir dari rasa kecewa, curiga, dan kehilangan yang tak kunjung menemukan jawaban. Di ruang kerja Jenderal Wiratmaja, lampu gantung tua masih menyala temaram. Ruangan itu penuh dengan aroma tembakau, kayu jati, dan masa lalu. Di balik meja besar yang penuh dokumen dan peta operasi, sang Jenderal duduk tegak. Tatapannya dingin, tapi sedikit gelisah ketika melihat cucunya berdiri di ambang pintu tanpa mengetuk. “Masuk,” katanya pendek. Aruna melangkah perlahan, menutup pintu di belakangnya. Suasana seolah langsung berubah. Uda

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD