BAB 23

2124 Words

Suara hujan belum benar-benar berhenti ketika pagi datang. Langit masih kelabu, udara di kompleks militer itu lembab, dan aroma tanah basah bercampur dengan wangi kopi dari dapur belakang. Tapi suasana rumah Jenderal Wiratmaja jauh dari tenang. Aruna duduk di meja makan sendirian. Tatapannya kosong pada cangkir teh yang uapnya sudah lama hilang. Sejak semalam ia belum bicara banyak. Ia masih memikirkan lencana itu—lencana dengan inisial ayahnya yang entah kenapa ada di saku Raka. Semakin ia berpikir, semakin hatinya sesak. Rasa curiga, marah, takut, dan kehilangan bercampur jadi satu, membentuk kekacauan yang sulit ia uraikan. Langkah sepatu berat terdengar di koridor. Raka muncul dengan wajah kaku, seragamnya rapi seperti biasa. Tapi sorot matanya redup, seperti seseorang yang tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD