"Ayo makan Eve, kamu pasti lapar kan? Aku sudah meminta Roussel mencarikan makanan manusia untukmu." Edmund membimbing Aphrodite ke meja makan.
Di atas meja makan ada sepotong paha hewan besar, dari ukurannya mungkin itu paha sapi. Dan beberapa sayuran. Tapi, semuanya masih dalam keadaan mentah. Aphrodite memandang Roussel dengan bingung. "Bagaimana Aku memakan makanan seperti itu? Itu kan masih mentah."
"Tentu saja dimasak dulu. Disini peralatan masaknya lengkap. Kamu tinggal pakai saja." Jawab Roussel ringan. Sekarang dahi Aphrodite berkerut dalam.
"Aku belum pernah memasak sebelumnya." Jawab Aphrodite tertunduk malu. "Oh, mereka semua vampire, pasti tidak tahu bagaimana caranya memasak. Sekarang Aku akan mati kelaparan."
Lagi-lagi Wiley tersenyum geli. "Tenanglah Eve, Roan bisa memasak. Dia yang akan memasak untukmu. Jadi jangan takut kelaparan ya cantik. Lagipula mate-mu itu pasti akan melakukan segala cara demi mendapatkan makanan untukmu. Tidak perlu khawatir." Ucap Wiley.
"Ah kamu benar. Panggil Roan kemari Wil." Perintah Edmund.
"Ed, berhentilah menyuruh terus. Kamu juga bisa memanggilnya sendiri." Wiley menggerutu sebal tapi tetap melakukan perintah kakaknya.
Aphrodite memandang Edmund tajam. "Huh, dia benar-benar diktator."
"Uh, Eve, Aku tahu arti tatapanmu itu. Mau bagaimana lagi, Aku sudah seperti ini dari dulu. Mungkin karena Ayah lebih banyak membebankan tugas padaku makanya Aku jadi lebih tegas dan diktator pada semua orang." Jelas Edmund tanpa di minta.
Wiley dan Roan berjalan beriringan dengan kecepatan manusia. Semua penghuni kastil sudah sepakat untuk tampil 'senormal' mungkin di hadapan Aphrodite.
"Jadi Eve, bagaimana ceritanya gadis sebesar dirimu bahkan belum pernah memasak sama sekali?" Roan langsung menyindir Aphrodite begitu dia sudah berada di dapur. Dapur di kastil itu menyatu dengan ruang makan, hanya dibatasi dinding rendah setinggi panggul yang menjadi sekat.
Aphrodite duduk di ruang makan menghadap ke dapur. Edmund dengan sigap langsung duduk di sebelahnya. "Dari kecil Aku biasa di layani. Aku bahkan baru kali ini melihat dapur." Jawab Aphrodite polos.
Roan langsung menghentikan kegiatannya dan memandang heran pada Aphrodite. "Aku tidak menyangka kamu semalas itu Eve." Roan geleng-geleng kepala.
"Bukannya Aku malas, tapi,,, sudah ada banyak pelayan yang melakukan semua hal untukku. Maafkan Aku, tapi Aku sudah biasa dilayani sejak kecil." Aphrodite berucap lirih. Baru kali ini dia merasa sangat malu karena tidak bisa melakukan apapun.
"Kamu pasti anak orang kaya yang selalu dimanja." Roussel menimpali.
"Ehm,, sebenarnya... Aku putri kerajaan Oriana." Aphrodite menjelaskan.
"Apa?" Roan berteriak terkejut sampai pisau yang di pegangnya terjatuh dan menimbulkan bunyi berdenting nyaring.
"Roan, kenapa Kamu seterkejut itu? Bukankah kamu juga dari Oriana, kenapa kamu tak mengenali tuan putrimu sendiri?" Edmund berkata sebal.
"Bagaimana Aku bisa mengenalinya, Aku berubah jadi vampire sudah sepuluh tahun lebih Ed, tentu saja dulu Putri Aphrodite masih sangat kecil." Sekarang giliran Roan yang merengut sebal.
Aphrodite tersenyum kecil melihat tingkah penghuni kastil yang seperti sekumpulan anak kecil bandel yang selalu meributkan hal kecil.
"Sudahlah lanjutkan masakmu Roan, kasihan Aphrodite sudah kelaparan." Timpal Roussel.
"Jadi, kamu putri penyihir itu Eve?" Tanya Wiley.
"Penyihir?" Dahi Aphrodite berkerut dalam.
"Ya, Ratu Rowena, bukankah dia penyihir." Kata Roussel.
"Ah, Ibu tiriku. Entahlah. Aku baru mengetahuinya tadi malam. Ruly memberi tahuku saat kami melarikan diri dari istana." Jawab Aphrodite. Semburat kesedihan terkembang di wajahnya.
"Jadi selama ini kamu tidak tahu kalau dia penyihir?" Wiley bertanya gemas. Seakan bicara dengan dengan anak kecil yang tidak bisa memahami hal sepele. Aphrodite menjawabnya dengan gelengan samar.
"Oh, Eve. Sebenarnya kamu terlalu polos atau sangat bodoh?" Roussel ikut-ikutan dibuat gemas oleh Aphrodite.
"Hei! Seenaknya saja mengatakan Eve-ku bodoh. Kamu akan kuhukum Rou." Kata Edmund tidak terima.
"Uh Ed!! Apa Kamu sedang berperan menjadi 'kekasih yang baik'?" Cibir Wiley.
"Jadi..." Kali ini Roussel bicara dengan nada serius, mengabaikan Edmund dan Wiley yang terus saja meributkan hal sepele. "Apa alasannya Ibumu sendiri menyuruh serigala untuk membunuhmu?"
Mata Aphrodite berair, tetapi dia berusaha keras untuk menahan air matanya. “Tidak mungkin Ibuku ingin membunuhku. Ini pasti salah paham." Kata Aphrodite lirih. Berusaha mengingkari kenyataan meski hatinya tahu kebenarannya.
"Eve, Ratu Rowena memang penyihir. Dia juga memperbudak beberapa Werewolf. Dan Rafe -Werewolf yang mengejarmu semalam- dia adalah peliharaan Ibumu. Jadi pasti Ibu tirimu itulah yang memberi perintah." Jelas Edmund sehati-hati mungkin.
Sebulir air mata menetes dari ujung matanya yang cantik. "Tidak... Ibuku tidak mungkin ingin membunuhku. Tolong jangan bicara seperti itu! Dia satu-satunya keluargaku sekarang."
Aphrodite berlari meninggalkan ruang makan. Hatinya seperti tersayat pisau yang tak terlihat. Dia merasa sendirian di dunia ini. Sebatang kara.
Edmund tidak berusaha mengejarnya. Dia paham, Aphrodite butuh waktu untuk sendirian sekarang.
“Jadi apa rencanamu selanjutnya Ed?” Tanya Roussel. “Kamu tidak mungkin membiarkan Eve terus percaya pada Rowena kan? Aku yakin penyihir itu akan berusaha mencelakai Eve lagi.”
Edmund tak langsung menjawab. Dia memegang dadanya yang terasa perih. Sepasang mate memang bisa merasakan perasaan pasangannya. Edmund menjadi sangat sedih mengetahui betapa sedihnya perasaan Aphrodite sekarang.
“Aku tidak bisa mengubah pikirannya Rou. Aku hanya bisa melindunginya. Aku tidak akan membiarkan Eve terluka lagi. Meski itu hanya seujung kuku atau sehelai rambut, Aku tak akan membiarkan Eve merasakan sakit lagi.” Jawab Edmund masih dengan menahan rasa sakit yang menyerang dadanya.
******
Edmund mengetuk pintu kamar Aphrodite pelan. "Eve, boleh Aku masuk?"
"Masuklah." Jawab Aphrodite lemah.
Edmund masuk membawa senampan makanan. Meletakannya di atas meja kecil di depan sofa, lalu menghampiri Aphrodite yang berdiri memandang keluar jendela. Edmund dapat melihat dengan jelas tatapan kosong Aphrodite. Dia sangat memahami perasaan Aphrodite sekarang.
Edmund memeluk Aphrodite dari belakang. Pelukan ringan yang menenangkan. "Bukankah sudah pernah kukatakan jangan menangis sendirian lagi Eve. Kamu tidak sendirian sayang. Kamu memiliki Aku. Aku ada di dunia ini untuk bersamamu."
Aphrodite bersandar pada d**a Edmund tanpa membalikan badannya. Berusaha mencari kenyamanan. "Aku tidak menangis Ed." Kata Aphrodite lirih. Tapi sangat jelas di telinga Edmund yang seorang vampire.
Edmund tertawa kecil. "Jangan berbohong padaku Eve, meskipun Aku tak bisa membaca pikiran seperti Wiley. Tapi wajah sembabmu itu sudah menjelaskan segalanya."
Aphrodite tertunduk sedih. "Maafkan Aku. Aku sudah berusaha menahannya tapi tetap menangis juga. Jantungku rasanya seperti diremas-remas. Sangat perih." Aphrodite mulai terisak lagi. Pelan....
Edmund membalikkan badan Aphrodite dan memeluknya lagi. "Menangislah." Diciumnya kepala Aphrodite. "Aku mengerti perasaanmu sayang." Dibelainya kepala gadisnya dengan lembut. Menenangkannya.
"Aku sebatang kara Ed." Kata Aphrodite disela isaknya. "Ibu meninggal saat melahirkanku. Lalu Ayah juga meninggal saat Aku baru berumur 7 tahun. Semalam... Semalam Ruly juga sudah meninggal karena berusaha melindungiku. Aku tidak punya keluarga sekarang. Rowena tidak pernah menganggapku anaknya. Dia bahkan tidak pernah memelukku."
"Aku mengerti sayang. Tenangkan dirimu." Edmund terus membelai rambut Aphrodite sampai gadis itu tenang. Dia sangat tidak menyukai melihat kekasihnya bersedih seperti ini.
Edmund membimbing Aphrodite untuk duduk di sofa setelah tangisnya mereda. "Ini minumlah dulu." Aphrodite menerima gelas berisi air putih itu tanpa mengatakan apapun. Lalu meminum sedikit isinya.
"Sekarang makan dulu ya, kamu belum makan sejak semalam Eve." Pinta Edmund. Aphrodite mencoba tersenyum padanya, tapi gagal. Suasana hatinya belum membaik. Aphrodite bahkan tidak menyentuh piring makanan itu sama sekali.
"Huhhh..." Edmund mendengus gusar. "Kamu tahu Aku tidak suka di bantah Eve. Kamu harus makan. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit." Edmund mengambil piring itu. Menyendok makanannya dan menyuapkannya pada Aphrodite.
Aphrodite menurut. Tiba-tiba menjadi sangat patuh ketika mendengar nada diktator Edmund. Edmund menyeringai jahil. "Jadi sebenarnya kamu ingin disuapi ya? Bilang saja sayang. Kenapa pura-pura mogok makan seperti itu?" Edmund tertawa lebar melihat kekasihnya mendelik sebal. Itu lebih baik daripada melihat wajah sedihnya yang memilukan.
Edmund terus menyuapi Aphrodite sampai makanan di piring itu habis tak bersisa.
"Kenyang." Kata Aphrodite sembari tersenyum. Suasana hatinya sudah mulai membaik.
"Aku akan turun, kamu mau ikut Eve? Yang lain sedang berkumpul di ruang tengah." Aphrodite mengangguk menyanggupi ajakan Edmund. Mereka berjalan beriringan menuju ruang tengah. Edmund membawa piring dan gelas dengan satu tangan dan tangan satunya digunakan untuk menggenggam tangan Aphrodite.
Aphrodite tidak menolak sedikitpun. Karena getaran aneh itu selalu membakar hatinya dengan sangat menyenangkan setiap Edmund menyentuhnya.
"Eve! Harusnya kamu yang membawa piringnya. Kamu kan perempuan." Wiley si tukang ikut campur itu langsung berkomentar pedas melihat kedatangan mereka.
"Diamlah Wil. Aku tidak masalah membawa benda seringan piring. Aku ingin Eve-ku nyaman disini. Sekarang tidak ada pelayan di sekelilingnya. Jadi Aku yang akan melayaninya." Edmund membalas kata-kata Wiley tanpa memandangnya. Dia meletakkan piring yang di bawanya di meja. Matanya masih tertuju pada Aphrodite. Mencoba mengatakan lewat matanya bahwa dialah hal paling berharga di dunia ini.
-to be continue-