Ta setiap hari membawakan bunga ke makam ibunya. Sepekan berlalu sejak kematian Salma dan Ta belum ke mana-mana selain tanah makam ini. Hafal Ta udara yang berganti di sekitarnya. Saat pertemuan lima belas menit di penjara tak ada hal yang boleh Ta bawa selain diri sendiri, kini pun hanya bunga saja yang berguna sebagai buah tangan. Ta tak tahu banyak tentang Salma, bunga kesukaannya saja Ta tak sempat bertanya. Makan satu meja mereka tak pernah, mengobrol sambil melakukan sesuatu saja tak mungkin lagi. Sungguh berat. Rasanya Ta kehilangan tujuan lagi. Satu tersisa, tapi Ta tak mengunjungi Badi, membiarkan pria itu berduka dengan puas hati sendirian. Saat ta hendak beranjak ponselnya mendadak berteriak. Ta menyimpan nomor itu, tapi belum pernah dihubungi melalui ponsel satu ini. "Halo!"

