“Anda memastikan saya tidak mendapatkan warisan, Tuan,” gerutuan terdengar. Ta melepas pelukan Reda perlahan. Dilihatnya Beni memasang wajah tersenyum, berbinar kerinduan. Mendadak pula wanita gila di antara mereka berbalik kepada Beni kemudian menarik rambutnya. “Kau mengacaukan suasana!” geramnya. Ta tergelak oleh jerit kesakitan pemuda itu. Sesaat kemudian Reda menatapnya tajam. “Kau ke mana saja?!” Ta dengan santainya berlalu membawa senyuman penuh rahasia. “Aku istirahat dulu,” katanya saat melewati Beni. Reda menyusul langkah pria itu menuju tangga. “Ta …! Kau dengar aku?” “Ya.” “Aku tidak ingin bercerai,” susul Reda lebih memaksa daripada seharusnya. Ta tersenyum singkat, lega. “Baiklah.” Reda menghentikan langkahnya sementara pria itu terus saja menanjak. “Kau lebih suka ad

