Sabotase mobil milik Leona

1318 Words
Ken kembali berjalan menghanmpiri mobilnya di parkiran perusahaan, kemudian masuk dalam mobil. "Bagaimana apa perempuan bodoh itu berhasil kau bujuk?" Tanya Jessi penasaran. Dengan cepat Ken menggeleng lalu terdiam larut dalam penyesalan. "Seharusnya kita lebih bersabar dulu hingga hartanya berhasil dibalik namakan atas namaku." Ucap Ken membuat Jessi bingung. "Apa maksudmu?" Tanya Jessi. "Leona merubah surat wasiatnya, awalnya surat wasiat itu menjadikan aku sebagai ahli waris tunggalnya tapi kini dia meminta pengacaranya untuk merubah surat wasiatnya dan nanti jam 7 malam Leona akan menandatangani surat wasiat yang baru." Blusss!.. Tubuh Jessi jauh lebih lemas dari Ken mendapatkan berita itu. Jessi dan Ken terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sebelum kemudian Jessi menatap Ken dengan pandangan serius. "Ada satu cara agar kau mendapatkan harta dari perempuan bodoh itu." Ucap Jessi, Ken segera menatapnya dengan pandangan serius. "Apa?" Tanya Ken. "Kita harus melenyapkan perempuan itu sebelum dia menandatangani surat wasit yang baru." Ucap Jessi membuat Ken sedikit kaget akan usulan itu. "Tidak! Itu terlalu berbahaya," tolak Ken. "Tapi tak ada pilihan lain Ken, satu-satunya cara agar kau mendapatkan harta Leona adalah dengan cara membun*h Leona sebelum dia menandatangani surat wasiat yang baru." Ucap Jessi berusaha meyakini. "Tapi..." Ucapan Ken terhenti dia yang awalnya menolak kini berpikir usulan yang dikatakan Jessi ada benarnya. "Izinkan aku berpikir sebentar, Jessi." Pinta Ken. "Jangan terlalu lama mengambil keputusan kita tidak memiliki banyak waktu sampai jam 7 nanti." Ucap Jessi menasehati. Lama terdiam akhirnya Ken sudah memutuskan pilihannya "Mari kita habisi Leona." Ucap Ken mantap tanpa keraguan sedikitpun disorot matanya. "Lalu apa yang akan kita lakukan untuk memb*nuhnya?" Tanya Ken Jessi menunjuk mobil mewah hitam Leona dengan ujung matanya "Sabotase mobilnya." Ucap Jessi. "Tapi, bagaimana kita akan menyabotase mobil itu, liat sekeliling terlalu ramai terlebih banyak kamera CCTV di sekitaran sana." Balas Ken "Bukankah perusahaan berakhir bekerja di jam 5 atau 6 sore. Saat semua karyawan pulang keadaan kantor akan sepi saat itu, aku akan mengalihkan perhatian staff keamanan dari CCTV, saat itu gunakanlah waktu itu untuk menyabotase mobilnya." Jelas Jessi membuat Ken mengangguk tanda mengerti. *** Lama menunggu, akhirnya mata hari mulai terbenam satu-persatu karyawan mulai terlihat keluar meninggalkan perusahaan, lampu di ruangan perusahaan satu persatupun mulai padam hanya lampu ruangan Leona yang masih menyala. Leona yang saat itu sedang memeriksa data keuangan perusahaan dan produk perusahaannya langsung mengerang pusing melihat adanya kejanggalan dilaporan itu. Apa lagi saat ia tahu sekarang produk perusahaannya mendapat penilaian yang tidak memuaskan dari konsumen, banyak yang komplen bahwa produk perusahaan Leona tidak seperti dulu. Leoan memeriksa data bahan produk yang digunakan dan terang saja mata Leona terbelalak mendapati laporan bahan produk yang digunakan perusahaanya dan laporan bulanan bahan dari pabrik tidak sama, laporan bahan dari pabrik menunjukan bahan yang digunakan bukanlah bahan premium seperti biasanya, berbeda dengan laporan bahan yang di buat oleh perusahaan yang menggunakan bahan premium. "Ada yang membuat laporan palsu ini." Pikir Leona. Leoan meraih ganggang telpon lalu memasukan nomor setelahnya mengarahkan ganggang telpon itu kearah telinganya saat panggilan telpon tersambung. "Hallo Pak Roger," ucap Leona saat panggilan telponnya dijawab. "Oh, iya hallo Nyonya Leona." Jawab lelaki paruh bayar bernama Roger itu. "Ada apa Nyonya?" Tanya Roger "Pak, tadi aku meminta pihak pabrik mengirimkan data bahan produksi satu bulan terakhir, boleh aku tahu kenapa bahan-bahan produksinya berubah tidak seperti bahan-bahan yang sebelumnya?" Tanya Leona. "Oh, bukankah Nyonya yang meminta untuk mengganti bahan-bahannya?" Tanya Pak Roger membuat Leona menyerengit bingung. "Aku tidak perna melakukan hal itu Pak." Jawab Leona. "Bulan lalu Tuan Ken mengunjungi pusat produksi produk dan meminta padaku untuk mengganti bahan-bahan produk dengan list yang sudah dia tulis." Ucap Roger membuat Leona hanya dapat tersenyum kecut "Tuan Ken mengatakan bahwa semua atas perintah anda." Lanjut Pak Roger. "Oh, baiklah terimakah Pak Roger, dan mulai bulan depan tolong kembali gunakan bahan-bahan yang dulu." Ucap Leona. "Tapi masalahnya Nyonya, dana untuk pembelian bahan-bahan produksi akan sangat berkurang sekitar 50 ribu dolar jika kami harus menggunakan bahan-bahan premium yang dulu." Balas Pak Roger. "Bagaimana bisa?" Tanya Leona. "Karena Tuan Ken hanya memberikan kami dana sebedar 200 ribu dolar, sementara bahan produksi yang dulu mencapai angka 250 ribu dolar jadi jika kita menggunakan bahan yang dulu maka dananya akan kurang." Jelas Pak Roger. "Aku akan mengirim kekurangan dananya besok, jadi kembalilah ke bahan-bahan yang dulu." Ucap Leona dan telponpun berakhir. Leona menghela nafas berat "Jadi selama ini Ken melakukan korupsi dana sebesar 750 juta setiap bulannya. Pantas saja banyak keluhan di konsumen akhir-akhir ini karena dia memotong anggaran dana bahan produksi." Gumam Leona frustasi "Yeah Tuan!.. Aku nyaris menghancurkan perusahaan yang dibangun susah payah oleh kedua orang tuaku dengan memberikannya pada Ken." Pikir Leona sebelum perhatiannya di curi oleh suara ketukan pintu. "Masuk," ucap Leona tak lama berselang sosok Lami muncul dari balik pintu. "Nyonya tidak pulang?" Tanya Lami membuat Leona menatap kearah jam yang ada di lanyar ponselnya yang sudah menunjukan pukul 6 sore. "Pulang sebentar lagi," jawab Leona "Kau pulanglah lebih dulu." Lanjut Leona membuat Lami tersenyum lalu membungkuk memberi hormat. "Kalau begitu aku permisi Nyonya." Pamit Lami sebelum pergi. Leona meraih ponselnya lalu menelpon Tuan Lim tak beberapa lama panggilan telponpun di jawab oleh Tuan Lim. "Iya Nyonya Leona?" Jawab Tuan Lim. Leona menatap laporan bahan produksi dan laporan keuangan bulanan perusahaan yang di tanda tangani oleh Ken lalu berkata "Aku ingin menunjukan Tuan Lim sesuatu, setelah Tuan Lim memeriksanya jika laporan ini dapat di jadikan bukti penggelapan maka aku ingin Tuan Lim menuntut tersangka penggelapannya." "Baiklah Nyonya, tapi siapa yang anda curigai melakukan penggelapan di perusahaan anda Nyonya?" Tanya Tuan Lim penasara. "Nanti saat kita bertemu anda akan tahu siapa orangnya, jika buktinya kuat menurut anda, maka aku ingin anda melakukan pelaporan atas kasus penggelapan." Ucap Leona "Baiklah Nyonya." Balas Tua Lim sebelum panggilan telpon berakhir dan Leona kembali melanjutkan pekerjaanya untuk menganalisis semua data yang ada di perusahaanya. Sementara itu di parkiran Jessi dan Ken mulai menjalankan aksinya, keduanya keluar dari dalam mobil begitu suasana parkiran terlihat sepih dan hanya ada mobil Ken serta Leona yang terparkir di sana. Jessi menghampiri pos keamanan yang berada tak jauh dari teras perusahaan sementara ken berjalan menuju mobil milik Leona sembari menghindari kamera CCTV mengambil titik buta CCTV itu. "Hallo Pak," ucap Jessi menyapa dua orang staff keamanan itu. "Oh Nona, anda belum pulang?" Tanya salah satu staff keamanan itu karena memang sering melihat Jessi di perusahaan jadi ia kenal siapa Jessi. "Iya Pak, begini aku kesini ingin menanyakan apakah bapak perna melihat..." Jessi sedikit melambatkan ucapannya ia memainkan lidahnya seakan ingin menggoda kedua staff keamanan itu, Jessi bahkan tidak ragu membuka 3 kancing bajunya membuat dadanya langsung nampak otomatis kedua staff itu langsung teralih kearah d**a milik Jessi, melihat itu Ken langsung tiarap untuk masuk kebawah kolong mobil milik Leona, mencari kabel ke penghubung panel bagian rem dan tanpa buang waktu Ken langsung meretas kabel rem itu lalu berjalan terburu meninggalkan mobil milik Leona untuk kembali ke mobilnya. Tiba di mobil, Ken mengirim pesan pada Jessi menandakan misinya telah selsai. Jessi melempar ID kartnya kearah teras perusahaan "Apa bapak tidak melihat ID kartku saat patroli tadi?" Tanya Jessi "Aku baru menyadari kehilangan ID kartku saat tahu gantungan ID kartku putus." Ucap Jessi seraya memperlihatkan gantungan ID kartnya yang putus yang memang sengaja dia putuskan tadi dalam mobil. "Astaga kami tak melihatnya." Jawab salah satu staff itu "Kalau begitu sebentar aku akan membantu mencarinya." Staff keamanan yang mengenakan kaca mata keluar lalu berjalan bersama Jessi mencari-cari ID kart, dan terang saja tak berapa lama mencari staff keamanan itu langsung menemukan ID kart yang di lempar Jessi. "Ini dia Nona ID kartnya." Ucap Staff keamana berkaca mata itu lalu membawa ID kart itu kearah Jessi. "Oh terimakasih," ucap Jessi mengambil ID kart itu, setelah mengedipkan matanya Jessi langsung tersenyum kemudian berlalu pergi menghampiri mobilnya. "Kau sudah menyabotasenya?" Tanya Jessi kearah Ken begitu masuk dalam mobil. "Sudah," jawab Ken, mengemudikan mobilnya untuk keluar dari area parkiran perusahaan menuju kearah seberang untuk menunggu mobil Leona keluar sebelum mereka mengikutinya nanti. Bersambung!..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD