Leona melangkah masuk ke dalam loby perusahaanya, semua pegawai yang melihatnya langsung tersenyum senang lalu membungkuk memberi hormat.
"Nyonya," ucap beberapa pegawai yang menyapa Leona dengan senyum suka cita.
Leona kini melangkah menuju lift lalu masuk kemudian menekan angkat 9, tak beberapa lama Leona kini tiba di lantai 9. Leona berjalan di koridor kemudian berbelok kearah kanan, sebuah pintu ruangan yang mega langsung menyambut penglihatannya saat ia berbelok. Itu adalah ruangan CEO tempat seharusnya ia berada.
Leona melangkah dengan begitu tegas, suara dentuman heelsnya memecah keheningan lantai 9 yang sunyin.
"Nyonya?" Gumam Lami, Sekretaris bagian umum begitu melihat Leona, dengan segera Lami berdiri lalu membungkuk memberi hormat, Lami terlihat panik begitu Leona mendekati pintu seakan ada sesuatu di pintu yang akan menimbulkan pertengkaran jika Leona membukanya.
Dan saat Leona mendorong kedua sisi pintu ruangan CEO, Penampakan Ken yang terduduk diatas kursi kebesarannya selaku CEO dengan Jessi yang duduk diatas pangkuan Ken sembari bibir keduanya bertaut kemudian tangan Ken yang memeras d**a bagian kiri milik Jessi menjadi pemandangan pertama yang di lihat Leona dan juga Lami.
Lami mengerutkan keningnya, ia tahu sebentar lagi pasti akan terjadi keributan, istri mana yang tidak menimbulkan keributan jika melihat apa yang dilihat Leona sekarang.
Ken yang tak tahu siapa yang membuka pintu ruangannya nyaris marah, ia mengerutkan alisnya menatap kearah pintu masih dalam keadaan bibir yang bertaut dengan Jessi, dan begitu mengetahui siapa yang membuka pintu ruangannya matanya terbelalak saat yang berdiri di ambang pintu adalah Leona. Dengan segera Ken melepas tautan ciuman bibirnya yang ganas pada bibir Jessi seraya tersentak berdiri membuat Jessi yang ada di pangkuannya langsung terjerambah jatuh.
Leona hanya berdecit melihat bibir Ken yang membengkak, entah sudah berapa lama mereka berciuman sampai bibir Ken terlihat seperti telah di filer.
Jessi segera berdiri seraya merapihkan kancing bajunya yang terbuka hingga ke bagian perut.
"Leona sayang, ini...."
"Berhenti memberi alasan konyol, jika kau tertangkap basah selingkuh yah mengaku saja Ken tak perlu membuat alasan bodoh dan tak masuk akal, apa susahnya?" Sambar Leona memenggal ucapan Ken.
"Dan satu lagi, keluar dari perusahaanku." Ucap Leona membuat Ken kaget bukan kepalang dengan mata melotot sempurna.
"Tapi sayang, aku...." Ken tak dapat melanjutkan kalimatnya begitu Leona menatapnya dengan tajam, tubuh lelaki itu seakan diam mematung saat melihat sorot mata Leona yang tak lagi memiliki cinta untuknya.
Leona menghampiri Jessi lalu Buuukk!... tamparan keras melayang kearah pipi kanan Jessi membuat gadis berambut pirang itu sedikit terhuyun kebelakang. Jessi hanya terdiam tak dapat membalas perbuatan Leona.
"Jangan lupa untuk bawa tempat sampahmu ini juga." Ucap Leona seraya menunjuk kearah Jessi.
"Sayang, akan kau jelaskan. Sebaiknya kau tenang dulu jangan langsung mengambil keputusan dengan terburu dan berpikirlah jernih." Ken terlihat berusaha membujuk.
Leona tertawa mendengar ucapan Ken "Kau memintaku untuk menenangkan diri dan berpikir jernih?" Ucap Leona lalu kembali tertawa lagi "Selama aku hidup ini adalah keputusan yang ku pikirkan dengan begitu tenang dan pikiran jerniku. Seharusnya aku mengambil keputusan ini dari dulu namun aku terlalu mendengarkan kata hatiku dan mengabaikan logikaku. Sekarang kata hatiku kala, logikaku yang menang. Jadi sebelum aku memanggil staff keamanan dan menelanjangi kalian berdua disini, sebaiknya kalian segera pergi dari perusahaanku." Ucap Leona tegas tanpa kelembutan sedikitpun di nada suaranya.
"Dan jangan lupa tanda tangani surat perceraian ini." Lanjut Leona, menyerahkan amplop berwarna coklat pada Ken.
Ken dan Jessipun berjalan dengan langkah lemas meninggalkan lantai 9.
Leona menghela nafas dalam lalu di hembuskannya secara berlahan, tangannya gemetar menahan semua emosi yang memuncak di dirinya, baik itu sedih, kecewa dan marah.
"Seharusnya sudah ku akhiri dari dulu sifat bodohku ini." Ucap Leona, melangkah kearah meja meraih bingkai foto berukuran 17×10 yang ada diatas meja lalu membantingnya hingga pecah.
Leona mengeluarkan foto pernikahannya mengabaikan rasa sakit pada tangan yang saat itu mengeluarkan darah segar akibat terkena sepihan kaca.
Leona merobek foto pernikahannya hingga menjadi potongan-potngan kecil.
"Lami, tolong katakan pada staff kebersihan untuk datang membersihkan ruanganku," Lami menganggukan kepalanya tanda mengerti "Dan sekalian buang kursi itu karena terlihat menjijikan." Ucap Leona menujuk kearah kursi kebesarannya selaku CEO, dia tidak ingin menggunakan kursi bekas tempat Ken dan Jessi b******u.
"Baik Nona." Jawab Lami.
Di parkiran tepatnya di dalam mobil milik Ken, Ken terlihat panik dan linglung "Kali ini Leona tidak main-main dengan keinginannya untuk bercerai." Gumam Ken.
"Yeah! Sudah biarkan saja dia mengajukan cerai, bukankah itu yang selalu kau janjikan untukku? Kau selalu berjanji akan menceraikan Leona dan menikahiku." Ucap Jessi dengan nada santai dan justru terkesan senang mendengar usulan perceraian.
"Kau pikir segampang itu, hah!... Aku akan langsung miskin jika bercerai dengan Leona, perusahaan, mobil, rumah bahkan apartemen tempat tinggalmu adalah milik Leona dan sampai sekarang belum dibalik nama atas namaku, jika kami bercerai maka aku hanya akan mendapat ampasnya saja." Jelas Ken.
"Bukankah tadi perempuan bodoh itu mengatakan akan membagi properti lainnya sebagai harta gono gini?" Tanya Jessi membuat Ken tertawa.
"Kau pikir seberapa banyak properti yang akan di bagi?" Jessi menggeleng "Properti itu hanya senilai 50 ribu dollar, jika di bagi hanya 25 ribu dollar untukku." Mendengar penjelasan dari Ken yang terancam jatuh miskin, Jessi terlihat mulai panik.
"Lalu bagaimana? Apa ada solusi tentang itu?" Tanya Jessi tak ada jawaban dari Ken "Tidak, kau tidak boleh jatuh miskin Ken, apapun yang terjadi kau harus merebut kekayaan gadis bodoh itu." Ucap Jessi dengan nada gemetar, dia tak dapat membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika Ken jatuh miskin.
"Tunggu sebentar, aku akan menemui Leona kembali untuk membujuknya, jika aku berhasil membujuk Leona kemungkinan kita tidak akan bertemu dulu sampai keadaan kembali stabil. Kau mengerti?" Jessi segera menganggukan kepalanya bertanda mengerti.
Ken keluar dari mobil lalu memasuki loby perusahaan kembali, berniat menemui Leona namun langkah Ken terhenti saat Leona terlihat di kejauhan sedang keluar menuju taman belakang perusahaan.
Pepohonan yang rimbun serta suasana yang sejuk langsung menjadi peneman Leona, taman belakang adalah tempat yang pas untuk Leona menenangkan pikirannya.
Leona duduk disalah satu kursi taman, bergegas Ken hendak mendekati Leona namun terhenti saat ponsel milik Leona berdering.
"Hallo pengacara Lim," suara Leona terdengar menyapa si penelpon. Ken diam mematung untuk mendengarkan.
"Jadi surat wasiat barunya sudah selsai?" Leona kembali terdiam mendengarkan jawaban dari Tuan Lim, sayangnya Ken tak dapat mendengar suara Tuan Lim juga.
"Iya betul, aku tidak ingin ada nama Ken sedikitpun di surat wasiatku yang baru." Ucap Leona "Baiklah Tuan Lim, aku akan menemuimu nanti jam 7 malam." Sahut Leona lalu saluran telponpun terputus.
Leona menatap ponselnya "Padahal tadinya aku menjadikan dia sebagai ahli waris semua hartaku tapi syukurlah perselingkuhannya segera ku ketahui." Ucap Leona membuat tubuh Ken langsung lemas.
"Jadi selama ini akulah ahli waris semua hartanya." Pikir Ken penuh penyesalan, andai dia tahu maka ia akan segera membalik nama semua aset itu atas namanya, namun semua terlambat sifat cerobohnya telah membuatnya kehilangan segalanya.
Bersambung...