Bab 3. Permintaan Gila

1102 Words
Rasa iba tiba-tiba muncul di hatinya. Ada sesuatu tentang gadis itu … sesuatu yang belum bisa ia pahami, tapi entah kenapa terasa dekat. Setelah selesai membaca dokumen yang dikirim oleh sekretaris nya, Maven kembali menelepon Keynan. "Besok kamu selidiki gadis itu. Laporkan semuanya kepada saya, apa saja yang kamu lihat dan kamu ketahui tentang dia," perintah Maven yang tak mungkin bisa ditolak oleh Keynan. "Siap, Tuan." "Oh, ya. Buatkan pengumuman lowongan pekerjaan untuk pengasuh baru Jean." "Kenapa tidak langsung mencari di yayasan saja, Tuan? Bukankah lebih terjamin?" "Kamu lupa?! Pengasuh Jean yang kemarin, dia dari yayasan paling bagus yang ada di kota ini, tapi kerjanya tidak becus! Saya tidak mau kejadian seperti itu terulang lagi." "Baik, Tuan. Akan segera saya kerjakan." "Terima kasih." Panggilan telepon pun langsung berakhir. Maven yang lelah pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, sambil menatap langit-langit kamar. Di keheningan malam, Maven tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. "Sebenarnya siapa kamu, Alesha? Kenapa informasi tentang dirimu hanya sebatas itu?" Maven yang kelelahan dengan kegiatannya hari ini dan lelah dengan pikirannya, akhirnya tertidur tanpa sadar. Keesokan paginya, ia memilih untuk sarapan di rumah bersama keluarganya. Biasanya, Maven lebih memilih sarapan di kantor. "Kamu tidak mencari pengasuh baru untuk Jean, Nak?" "Aku sudah memerintahkan Keynan untuk membuat pengumuman lowongan pekerjaan." "Loh, kamu tidak mencari saja lewat yayasan? Kalau dapat yang tidak baik, bagaimana? Mami tidak mau kejadian Jean hilang terulang lagi, Ven." "Maven akan pastikan kejadian itu tidak akan terulang kembali, dan Maven pastikan untuk tidak salah memilih pengasuh baru untuk Jean." "Baiklah, Nak. Mami percaya sama kamu." Hari ini ia berangkat ke kantor dengan dijemput oleh Keynan, karena ada sesuatu yang harus dibahas olehnya. "Selamat pagi, Tuan," ucap Keynan sambil membukakan pintu untuk Maven, dengan wajah cerahnya. "Selamat pagi," jawab Maven. Keynan melajukan mobilnya dengan santai, hari itu jalanan tidak terlalu ramai. "Apakah ada informasi lagi yang kau dapat tentang gadis itu, Key?" "Mohon maaf, belum ada Tuan. Hanya yang saya kirimkan lewat surel itu saja." "Hm, baiklah. Kamu antar saya ke kantor. Setelah itu, kamu langsung pergi untuk menyelidiki gadis itu. Untuk sementara, kerjaan kantor biar di handle dulu oleh Rico." "Baik, Tuan." Setelah mengantar Maven ke kantor, Keynan langsung pergi untuk menyelidiki Alesha. Dari kejauhan, Keynan melihat Alesha keluar dari toko bunga sambil membawa map coklat, dengan wajah muram. Keynan terus mengikuti kemanapun Alesha melangkahkan kakinya. "Sedang apa dia? Dari tadi dia keluar masuk toko sambil membawa map coklat. Apakah dia sedang mencari pekerjaan?" gumam Keynan yang melihat Alesha terus keluar masuk toko dengan wajah muram. "Lapor, Tuan. Sepertinya gadis itu sedang mencari pekerjaan," ucap Keynan di telepon. "Ikuti dulu saja, kemana dia pergi. Kalau dia sudah terlihat frustasi, pastikan dia melihat lowongan kerja pengasuh untuk Jean." "Baik, Tuan." "Sepertinya dia sudah melihat lowongan kerjanya," gumam Keynan saat melihat ada senyuman dan harapan yang muncul dari wajah Alesha. "Lapor, Tuan. Dia sudah melihat lowongan kerjanya." "Bagus. Kamu kembali saja ke kantor." "Siap, Tuan." Saat Keynan akan melajukan mobilnya, ia melihat ada seorang laki-laki muda mendekati Alesha yang sedang duduk di halte bus. Keynan yang melihatnya, langsung mengeluarkan handphonenya untuk merekam interaksi mereka yang terlihat sangat akrab. Ia langsung mengirimkan video tersebut ke Maven. Di kantor, Maven yang sedang melihat video yang dikirim oleh sekretarisnya, dengan wajah penuh tanda tanya. Ia juga merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya, yang sulit ia pahami. *** "Papa ...." teriakan Jean menggema ke seluruh ruangan, saat melihat Maven masuk kedalam rumah. Ia langsung memeluk sang papa. "Haloo ... boy. Loh, jam segini kok belum tidur?" "Belum, Jean nungguin Papa. Jean mau bobo bareng Papa." "Pa, katanya kakak baik mau kesini? mana? kok nggak ada? papa bohong!" tanya Jean dengan wajah cemberutnya dan tangan di taruh di d**a. "Besok ya Jean, kali ini Papa nggak bohong, Papa janji." "Benar ya Pa, kalau bohong lagi Jean mogok makan." "Iyaa Jean, udah yuk kita tidur, udah malam." Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Keesokan paginya, Maven berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Hari ini, dia sudah menyiapkan kontrak kerja untuk pengasuh baru Jean. Sesampainya di ruangan ia langsung menelepon Keynan. "Ke ruangan saya sekarang." "Baik, Tuan." "Ada berapa kandidat yang lolos ke tahap interview?" tanya Maven saat Keynan sudah berada di ruangannya. "Ada 15 orang, Tuan. Dan salah satu diantara kandidat adalah Alesha." "Jam berapa mulai interviewnya?" "Jam 9.30 wib, Tuan." "Apakah di jam itu saya ada jadwal?" "Ada Tuan. Meeting dengan para direksi." "Undur meetingnya di jam 10.15 wib. Saya akan ikut interview." "Tapi, Tuan. Bukankah meeting ini lebih penting? Soal interview, biar saya saja yang menghandle, Tuan." "Kamu pikir interview ini tidak penting?! ini menyangkut Jean, anakku! Aku tidak mau salah lagi dalam memilih pengasuh untuk Jean." "M-maaf Tuan. Baik, akan segera saya atur ulang jadwal meetingnya," Keynan gemetar saat Maven menaikkan nada bicaranya. "Yasudah, sana pergi." "Permisi, Tuan." Sepeninggal Keynan dari ruangannya. Ia sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Sampai tak terasa, jam dinding di ruangan itu menunjukkan pukul 09.20 wib. Keynan masuk ke ruangan Maven untuk membantu proses interview. Para kandidat pun sudah duduk rapi di depan ruangan. Seorang wanita muda dengan wajahnya yang cantik, dengan di poles makeup tipis dan mengenakan kemeja putih polos dan rok hitam selutut, tengah berdiam diri melangitkan doa-doa yang ia panjatkan. Ia berharap, semoga hari ini berpihak kepadanya. Ruangan terbuka menampilkan seorang pria tampan yaitu Keynan, sekretaris Mavendra. Ia mulai memanggil satu persatu kandidat untuk masuk ke dalam ruangan dan melakukan interview. Hingga tiba di kandidat no 6. "Alesha Maureen, silahkan masuk." "Alesha Maureen, no 6, silahkan masuk." Alesha yang tengah melamun itu pun terkejut saat namanya dipanggil untuk yang kedua kalinya dengan suara yang lebih keras. Ia pun langsung menarik napas dalam sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan. Saat ia masuk ke dalam ruangan, ia dibuat terkejut oleh sosok pria tampan dengan alis tebal, sorot mata tajam, dan badan yang berotot dengan dibalut jas biru dongker yang menambah kesan kharismatik pria tersebut. Ia terkejut bukan karena parasnya, melainkan pria tersebut adalah orang yang lihat saat berada di taman dan di rumah sakit tempo hari lalu. "P-pria itu?" gumam Alesha dengan wajah terkejutnya. "Silahkan duduk, Nona," ucap Maven dengan nada dingin, yang mampu membuat Alesha sadar dari keterkejutannya. "B-baik, terimakasih Tuan." "Keynan, tolong ambilkan surat kontrak kerjanya." Ucapan Maven mampu membuat Keynan dan Alesha terkejut secara bersamaan. "Tapi Tuan, anda belum melakukan interview kepada nona Alesha," protes Keynan yang langsung mendapat tatapan dingin dari Mavendra. Ia segera memberikan surat kontrak kerja itu kepada Maven. Setelah Maven menerimanya, ia juga mengeluarkan satu surat kontrak lagi. Ia pun langsung menyodorkan surat kontrak kerja itu kehadapan Alesha. "Jadilah istri sekaligus pengasuh untuk anakku!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD